Sold

Sold
Dedek Bayi



Hari yang paling ditunggu anak sekolah selain hari Minggu adalah tanggal merah di kalender. Dengan begitu bermalas-malasan di atas tempat tidur bisa menjadi lebih lama.


Tapi bukan hanya karena hari ini libur makanya Bee masih berguling-guling di tempat tidur. Dia benar-benar mati kutu, tidak tahu harus berbuat apa. Kemarin sore, Bintang pamit untuk pergi ke Kalimantan, mengurus perusahaan tambang nya di sana.


Bintang sudah mengajak Bee ikut, tapi gadis itu menolak hanya karena malas pergi, karena memang lokasinya di hutan yang akhirnya dia sesali.


"Dari pada berjamur di sini, lebih baik gue ikut kak Bintang kemarin. Mana balik nya masih besok. Kok gue kangen ya..ih...apaan sih gue. Ga lah ya" Bee ber- monolog di kamarnya bak orang kurang waras.


Tak lama mual yang belakangan ini menyerangnya hampir setiap pagi datang lagi menyapa. Bergegas dia lari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya nya, tapi hanya air liur yang keluar.


Pusing yang sering melanda, serta rasa lapar yang acap kali di rasakan nya membuat nya menjadi uring-uringan. Hingga para pelayannya kadang menatapnya heran karena porsi makannya kini lebih banyak. Beruntung saat UAS kemarin Bee bisa bertahan dan menyelesaikan ujian nya dengan sukses.


Bintang juga janji memberikan hadiah apa saja untuk nya jika berhasil lulus dengan nilai tinggi.


"Pagi Nyah" sapa Mira yang menyongsong nya di undakan tangga terakhir.


"Mir, aku lapar. Masak apa?"


Mira membuka tudung saji memperlihatkan berbagai menu yang sudah di tata di atas meja. Selera nya kembali muncul, sigap Bee duduk dan membalikkan piring, mengisi sedikit nasi lalu mengambil beberapa lauk ikan dan ayam.


Bee makan dengan lahapnya seperti orang yang sudah berbulan-bulan puasa. Mira bergidik saat Bee menambah nasi ke dalam piring nya.


"Nyonya Bee tumben-tumbenan nambah, biasanya nasi nya dikit aja juga ga habis. Ini juga, biasanya ga suka makan gurame asam manis, tapi ini malah minta di buatin"


Masih dalam kebingungannya, tak lama mbok Inah datang membawa sepiring besar gurami asam manis yang tadi Bee pesan. Masakan kesukaan Bintang yang dulu menjijikkan buatnya, justru kini dia ingin kan. Satu ekor besar gurami asam manis dia habis kan seorang diri.


"Kenyang banget gue.." celetuk nya.


"Tumben Nyonya mau makan ikan ini" ucap Mira menyodorkan air minum.


Tapi belum sempat menjawab, Bee sudah berlari menuju wastafel. Memuntahkan isi perutnya nya. Mira segera membantu, memberi pijatan di tengkuk Bee agar meredakan perasaan mau muntah gadis itu.


Hanya sedikit yang dia muntah kan. Mbok Inah yang melihat buru-buru masuk ke dapur lalu sejurus kemudian keluar lagi membawa air perasan lemon. "Di minum Nyah, biar mual nya berkurang" raut wajah mbok Inah begitu gembira melihat Bee.


"Udah mendingan Mbok. Aku ke atas dulu mau mandi. Udah siang dari pagi malas banget mandi" ucap nya melangkah pergi.


Baru membuka pintu kamar, suara telepon sudah menarik perhatiannya.


"Kak Bintang" cicitnya berlari ke arah tempat tidur.


Wajah nya mendadak cemberut saat nama yang ada di layar bukan 7 Omes, melainkan Tante Diana sayang.


"Iya tan.."


"Kamu dimana? barusan Bintang telpon kamu ga ngangkat. Bintang minta kamu nginap di rumah tante malam ini. Dia khawatir banget sama kamu. Buruan ke sini tante tunggu"


Setelahnya sambungan di tutup sepihak oleh tante Di. Hari ini Bee sangat malas untuk pergi keluar rumah, tapi kalau sampai dia tidak datang, tante Di akan kembali ngomel.


Dengan malas, Bee membasuh tubuhnya. Mandi seadanya menghilangkan bau dan keringat di tubuhnya.


"Udah datang kamu" sapa tante Di mencium pipi Bee.


Tak menjawab, Bee langsung rebahan di sofa empuk di ruang keluarga. Tubuhnya lemas. Sebelum masuk mobil tadi, kembali Bee memuntahkan isi perutnya. Kini selain pusing, perutnya juga lapar. Dia benar-benar kehilangan tenaganya.


"Lemas amat. Kenapa kamu?" tante Di memegang kening Bee, memeriksa suhu tubuh gadis itu tapi tidak panas. Wajah Bee memang pucat dan bibirnya juga tampak kering.


"Kamu kenapa? jangan buat tante panik. Apa lagi suami kamu nitipin sama tante. Kalau sampai kamu kenapa-napa, bisa habis tante sama Bintang nanti. Di kira ga ngejagain kamu" cerocosan tante Di memancing rasa mual itu datang kembali. Bee segera berlari menuju wastafel di ruang makan.


Tante Di yang semakin panik, mengikuti kemana Bee melangkah.


Ueeek...ueeek.. Tenaga Bee terkuras habis. Tubuhnya merosot ke bawah wastafel. Jemari nya mencengkeram sekuat tenaga hingga tampak memutih.


"Oh..ini tidak benar. Kita harus ke dokter"


Setelah mendapat pemeriksaan pertama oleh dokter umum di IGD, Bee di rujuk ke dokter sp. OG.


Dokter cantik itu begitu ramah dan dengan lembut memeriksa Bee setelah gadis itu berbaring. Hanya dengan memegang perut Bee saja, sang dokter yakin wanita itu sedang hamil.


"Selamat, sudah ada dedek bayi di sini" ucap nya tersenyum menunjuk perut Bee yang masih rasa.


Bee menatap tak percaya pada sang dokter.


Apa kata nya tadi? ada dedek bayi? di perut gue?


Masih terjebak dengan kebagongan nya, Tante Di justru membantu nya untuk duduk setelah perawat membersihkan sisa gel di perutnya. Lalu dengan girang nya memeluk tubuh Bee.


"Selamat sayang...kamu akan jadi ibu" ucap nya. Air mata tante Di menetes bahagia. Bee hanya terdiam. Bingung harus bereaksi bagaimana.


Pandangannya teralihkan saat seorang perawat lainnya masuk mengantar file pasien yang mengantri berikutnya.


Tatapan kosong Bee kearah luar ruangan. Memandangi seorang wanita yang tengah bermain dengan gembiranya dengan anak perempuannya yang berusia sekitar tiga tahu. Tanpa sadar bibirnya tersenyum.


"Semua bagus. Dedek bayi tumbuh sehat. Usia kandungan ibu Bellaetrix sudah enam Minggu" terang sang dokter mengembalikan kesadaran Bee.


Vitamin dan pil penguat janin sudah di berikan oleh dokter dab juga aturan minum nya. Anjuran makanan yang asupan gizinya di butuhkan untuk tumbuh kembang sang anak juga sudah di beritahukan sang dokter.


Bulan depan, dokter meminta untuk datang melakukan pemeriksaan rutin dan kalau bisa datang bersama suami.


Di mobil, Bee tak henti-hentinya tersenyum. Memegangi perutnya berharap bisa merasakan pergerakan si bayi.


"Belum bisa di rasakan sayang, masih kecil. Nanti kalau hamil masuk trimester ketiga, baru terasa, dia menendang dan bergerak" ucap tante Di membelai rambut Bee penuh haru. Ditatapnya keponakan nya dan tak terasa air matanya jatuh lagi.


"Kamu sudah dewasa sekarang. Sudah mau punya anak. Padahal kamu masih putri kecil tante"


Bee menarik tante Di keperluan nya. Ikut terharu dan bersama menangis.