
Perlahan Bee membuka mata nya. Mengumpulkan nyawa setelah dering jam beker berdering beberapa kali. Bee menggeliat mencari sumber wangi yang begitu dia suka.
Penyebab dia bisa tidur se-nyenyak itu rupanya karena pelukan hangat dari tangan kekar yang membelenggu tubuhnya. Ceruk leher pria itu begitu menggoda untuk menciumnya.
Bee tersenyum saat mendongak wajah tampan Bintang yang masih terpejam.
Pulang jam berapa pria ini sampai gue ga tahu dia udah pulang?
Pada tante Di, Bee meminta untuk tidak memberitahu kan dulu pada Bintang mengenai kehamilannya. Dia ingin dirinya sendiri yang memberitahukan kabar itu nanti.
Perlahan Bee menyusuri perutnya. Ada perasaan memuncah di dadanya mengingat ada makhluk mungil, darah daging Bintang yang berkembang di perutnya. Kembali dia tersenyum gembira. Perasaan itu mengikatnya. Aneh nya pada jam segini dia terbangun pasti akan langsung mual dan muntah. Tapi ini, Bee begitu nyaman. Saat rasa mual mengguncangnya wangi khas tubuh pria itu ternyata bisa menenangkan nya. Ingin sekali tetap berpelukan begini, tapi Bee ingat, hari ini harus ke sekolah. Mengumpulkan tugas terakhir sebelum benar-benar libur panjang.
Walau belum menerima ijazah SMA, tapi Bee yakin dirinya lulus, setelah mengikuti UAS kemarin. Bahkan dia memprediksi nilainya pasti tinggi.
Perlahan dia mencoba melepaskan diri agar tidak membuat bangun beruang besarnya. Tapi gerakan halus Bee justru menggelitik dada Bintang dan membuat pria itu membuka matanya.
"Morning babe.." bisik nya merengkuh kembali tubuh Bee.
"Pagi juga. Jam berapa tadi malam sampai?" ucapnya kegelian di elus Bintang dengan wajahnya.
"Jam dua subuh. Langsung meluk bidadari yang udah aku rindukan" ucap nya mengecup leher Bee. Mengirim gelegar hangat hingga membuatnya merinding.
"Lepas kak. Aku mau sekolah" tapi penolakan itu baru di lepas, setelah keduanya bertarung dengan pelepasan sempurna. Mandi bersama dan Bintang mengantarkan gadis nya ke sekolah. Seluruh siswa yang baru tiba di gerbang sekolah memperhatikan mobil sport berharga milyaran rupiah itu.
"Kok belum turun? kurang ciuman nya?" goda Bintang menatap hangat istrinya.
"Gimana aku mau turun. Noh, anak-anak pada ngeliatin mobil ini. Pasti pada kepo deh siapa yang bakal turun dari mobil ini" rungut Bee sedikit kesal. Tapi mau gimana lagi, kalau pun bukan karena mobil ini yang mereka pakai, mobil lain nya yang menumpuk di garasi pun pasti akan mengundang perhatian orang.
"Mau aku temani?" tawar Bintang. Tak ingin Kekasih hatinya itu terbebani masalah ini.
"Ga usah. Makin nambah masalah baru dong kak" ucapnya. Aku pamit" tanpa sadar menarik tangan Bintang dan membawanya punggung tangan pria itu ke keningnya lalu melangkah keluar.
Mungkin Bee tidak sadar. Dan mungkin juga tidak berdampak apa pun pada dirinya. Tapi berbeda bagi Bintang. Tindakan spontan Bee itu sudah menyebarkan rasa hangat dan penuh cinta di hati Bintang. Dia seolah seutuhnya sudah menjadi suami Bee lahir batin.
Tatapan penuh tanya anak-anak yang melihat Bee keluar dari mobil mahal itu membuat langkah Bee sedikit kaku. Pandangan mereka seolah mengatakan dirinya gadis tidak benar yang sering diantar jemput om-om senang.
Bee berusaha cuek. Di koridor lewat gerbang kedua, Bee bertemu Kiki yang sedang berdiri di depan Mading.
"Woi.. serius amat. Lagi lihatin apa? udah mau tamat, baru lo pantengin ni Mading" ucapnya merangkul pundak Kiki.
"Lihat tuh Bee"
Kini giliran Bee yang terpaku. Tubuhnya gemetar membaca tulisan berupa karikatur mirip dirinya, sedang menangis dengan perut buncit layaknya wanita hamil.
*Cewek ga tahu malu. L*nte sekolah kita nih*!
Ada lagi tulisan lain, gambar cewek digandeng om gendut.
aku hamil om..
Dan masih banyak lagi gambar dan anekdot yang menghina dirinya. Nama nya sebagai cewek hamil di luar nikah, yang tidak jelas siapa suaminya yang di cetak juga berupa brosur banyak bertebaran di lantai dan lapangan sekeliling sekolah.
Banyak anak mengerumuni Mading. Menatap sinis padanya. Tatapan jijik dan menghakimi mereka membuat wajah Bee merah padam. Marah, malu dan juga kesal bercampur. Dia memang hamil tapi bukan peliharaan om-om.
"Kenapa lo? ga usah pura-pura terkejut. Semua berita ini benar kan? lo lagi hamil kan? lo mau sangkal?" suara Jesi membelah kerumunan. Dengan senyum angkuh nya dia mengejek Bee.
Telapak tangan Bee berkeringat. Pusing kembali menerjangnya, keseimbangannya hampir goyah. Sigap Kiki menggenggam tangan Bee.
"Teman-teman, cewek yang selalu jadi perempuan sok suci ini ternyata p*cun nya Om-om. Kemarin gue pergoki dia check up ke dokter kandungan" seru Jesi penuh kemenangan. Bee masih terdiam menunduk.
"Kenapa? mau bantah lo? " hardiknya lagi pada Bee.
"Dasar ga malu, masih SMA udah jualan lo. Kemarin gue tembak lo sok nolak, barang ternyata lo" ucap seorang siswi di antara kerumunan.
"Ish..dasar murahan, ga tahu malu!" tambah siswa lainnya.
"Najis punya teman kayak lo" sahut yang lain
"Pantesan tadi pagi dia keluar dari mobil mewah. Pasti punya om yang booking dia" timpal Lili.
"Iya benar gue juga lihat"
"Iya gue lihat"
"Gue juga"
Seketika suara mencemooh beramai-ramai keluar dari mulut semua siswa yang berkumpul di situ. Bee seolah pezinah yang ketangkap basah.
Dia mau nangis. Tapi Bee menahan. Kalau dia menangis, berarti apa yang mereka tuduh kan padanya benar adanya.
Dengan wajah berani, dia mengangkat wajah nya menatap segerombolan manusia yang menghakimi nya tanpa tahu kebenarannya.
"Apa lo? ga terima? makanya jangan jadi pel*cur!" serang Jesi.
"Maksud lo apa? mana buktinya kalau gue peliharaan om-om?" serang Bee
"Apa pun yang gue lakukan, bukan urusan lo. Ga usah nuduh gue jual diri, sementara udah rahasia umum lo jual perawan lo sama pengusaha biar lo di sponsori jadi model produknya kan?"
Mata Jesi mengkilat. Membulat menatap Bee. Tak menyangka kartu AS nya bisa di ketahui gadis itu. Berita itu memang sudah jadi rahasia umum, tapi dikalangan model. Bukan di lingkungan sekolahnya. Wajah Jesi merah padam, tidak menyangka akan di skak-mat oleh Bee.
"Bacot lo, ga usah ngeles cari pembelaan orang lain pake fitnah Jesi" seru Lili.
"Terserah kalau lo ga percaya" ucap Bee menguatkan hati.
"Dasar per*k lo!" Jesi sudah menerjang, menjambak Bee lebih dulu. Tak mau kalah, Bee menunjang paha Jesi hingga gadis itu terpelanting ke belakang.
Tak puas, Jesi kembali menyerang aksi gulat pun terjadi di tengah kerumunan. Sorak sorai para siswa yang riuh membuat beberapa guru datang dan melerai mereka.