Sold

Sold
Danendra junior



"Kau pulang naik ojol saja Ko" ucap Bintang menghentikan sesaat langkahnya untuk berbicara dengan Riko. Kiki menatap Bee dengan penuh banyak pertanyaan.


Gadis itu hanya memberi kode lewat tatapan nya. "Nanti gue jelasin"


Bee mengikuti langkah Bintang keluar dari sekolah. Tangan pria itu tak henti menggenggam tangan Bee hingga di depan mobil membukakan pintu untuk gadis itu.


Tanpa banyak protes, Bee masuk yang di ikuti Bintang setelah memutar mobil menuju pintu yang lain.


Tujuan utama Bintang adalah hotel miliknya yang juga dulu tempat dia membawa Bee untuk berganti pakaian.


"Selamat datang tuan.." sapa manager hotel yang di beritahu resepsionis kalau Bintang datang bersama seorang gadis, bahkan gadis itu masih memakai seragam sekolah.


Bintang hanya mengangguk, terus berjalan melalu lift pribadi nya yang biasa dia pakai saat menginap di kamar pribadi nya. Jalur khusus itu membuat nya lebih leluasa bergerak tanpa harus takut di liput wartawan.


Pintu kamar terbuka, dan Bintang mempersilahkan Bee untuk masuk lebih dulu dengan gerakan tangannya.


Dengan hentakan jantung yang bertalu, Bee memilih untuk menunggu, duduk di tepi ranjang menatap pria itu sekilas. Bintang dengan pesona tampan nya, berdiri mematung di hadapan Bee dengan melipat tangan di dada.


"Apa?" suara Bee pelan. Entah apa yang dia rasakan kini. Hati nya sedang sedih dan butuh di hibur, tapi gelagat Bintang membuat nya takut.


Bintang menunduk. Berlutut di hadapan gadis itu. "Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada mu Bee? pada anak kita?" ucapnya membelai rambut gadis itu yang kini sudah kusut.


Pertahanan Bee hancur oleh sikap manis Bintang. Air matanya turun berlomba di pipinya.


"Di-a yang duluan. Dia jahat. Di-a bi-lang anak kita anak haram" ucap Bee disertai isak tangisnya. Lama kelamaan isakan itu berubah raungan. Pedih.


Yang dibutuhkan Bee saat ini adalah pelukan hangat Bintang, dan itu dia dapatkan. Bintang merengkuh tubuh gadis itu, memeluk tubuh rapuh itu seolah ingin memberikan kekuatan dari tubuhnya.


"Sudah sayang. Anak kita pasti bangga sama mama nya. Membela nya dari orang-orang jahat yang ingin menyakiti dirinya dan mama nya juga" ucap Bintang membelai punggung Bee. Tubuh gadis itu masih terguncang karena tangisannya yang semakin kencang.


"Sudah sayang. Jangan nangis lagi. Kasihan anak kita" lanjut Bintang lagi. Ucapan itu seperti mantra. Terbukti tangis Bee reda.


Lama mereka berpelukan. Hanya berpelukan, saling mendengar degub jantung masing-masing. Rasanya nyaman.


"Kenapa kamu ga bilang Bee, kalau kamu hamil?" tanya Bintang lembut. Tapi coba tanya hatinya? Mulai dari ruang kepsek hingga saat ini, Bintang ingin sekali menjerit, berteriak, bernyanyi bahkan menari. Apa pun akan dia lakukan untuk mengungkapkan rasa bahagia nya. Suka cita nya terlampau besar saat ini.


Di raba nya perut rata gadis itu. Menyapa sang pencipta, hanya untuk mengucapkan terimakasih untuk anugerah nya. Itu adalah buah cintanya dengan Bee. Terlepas bagaimana perasaan gadis itu.


Membayangkan ada anak yang tumbuh dan berkembang dalam perut Bee membuat perasaan Bintang menghangat. Anaknya. Darah dagingnya. Penerusnya.


"Aku mau bilang kemarin, tapi kakak pulang nya lama sampai aku ketiduran. Pagi nya kau bahkan mengajak ku untuk buat bayi lagi, hingga aku lupa untuk menyampaikan nya" ucap memainkan ujung dasi Bintang yang masih setia berlutut di hadapannya.


"Maafkan aku. Dan oh..pertama aku ingin ucapkan selamat untuk kita berdua, karena sudah berhasil menciptakan bayi mungil yang ada di sini" Bintang menyentuh perut Bee.


"Kedua, terimakasih sudah memberiku anak. Terimakasih sudah menjadi ibu untuk anak-anak ku" ucap nya mencium kening Bee lama.


"Anak-anak? kesan nya kenapa begitu banyak. Doakan aja anak ini laki-laki. Biar urusan kita selesai" ucap Bee menatap Bintang.


Deg!


"Kamu mau makan apa? lapar kan? setahu ku wanita hamil mudah lapar" ucap Bintang mengalihkan pembicaraan yang dianggap tak penting itu.


"Eh..iya. Aku lapar. Mau makan banyak yang enak-enak. Tapi apa di bolehkan tante Di?" rungut nya.


"Kamu mandi dulu, aku pesan apa pun yang enak, tapi yang sehat buat kamu dan anak kita" ucap Bintang mencium puncak kepala Bee.


"Pakaian ganti ku?"


"Aku akan minta manager hotel untuk menyiapkan semuanya. Udah mandi sana"


Berhubung pakaian Bee belum datang, terpaksa gadis itu memakai bathrobe hotel. Duduk di sofa sambil menyantap potongan buah. Setiap ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya biasanya akan segera minta di keluarkan, tapi asal suaminya ada di dekatnya pasti akan berbeda. Mual nya hilang.


"Kak.."


"Mmm.." Bintang menjawab tanpa menoleh ke arah Bee yang masih lahap menyantap buah. Sementara Bintang sibuk mengupas dan memotong untuk Bee habiskan.


"Biasanya aku akan muntah setiap makan sesuatu, tapi kalau ada di dekat kakak kok ga ya? apa wanita hamil begitu semua kak?"


"Aku ga tahu sayang. Yang pasti itu tandanya anak kita mau dekat papa nya terus" ucap nya tersenyum. Satu piring buah naga, apel dan kiwi sudah di potong dan siap di santap.


"Ada lagi yang baginda ratu ingin kan?" tanya Bintang membungkuk, bak pelayan kerajaan.


"Hahaha, terimakasih my king" balas Bee tertawa renyah. Hati Bintang menghangat melihatnya.


Tuhan, andai kebahagiaan ini bisa selamanya. Tuhan..terlalu serakah kah aku jika meminta gadis ini selama nya ada di sisi ku? aku begitu mencintai nya..


"Woi, kok malah bengong kak? sini temani aku makan buah" pinta Bee manja.


"Kapan kita akan periksa lagi Bee?" tanya Bintang duduk di samping istrinya.


"Kata dokter Leann bulan depan. Papa nya harus ikut"


"Siap. Pasti aku ikut. Mau ketemu Danendra junior kan"


"Kalau nanti dia mirip aku gimana kak?" Bee mulai mengelus perutnya. Melihat senyum bahagia di bibir Bintang membuat perasaan nya bangga, karena bisa memberikan pria itu anak. Dia akan menjaga buah hatinya ini dengan baik. Agar bisa mempersembahkan pada Bintang nanti nya.


"Kak udah kenyang" Bee menyingkirkan piring buah dari pangkuannya. "Gendong kak.."


Bintang melakukan perintah Bee dengan tersenyum. Sebelum hamil, manja istrinya juga sudah ampun-ampunan, apa lagi saat ini sedang hamil, pasti kesabaran yang ekstra di tuntut dari Bintang. Tapi Bintang tidak mengeluh. Dia tahu tidak mudah bagi wanita di masa kehamilan apa lagi Bee yang masih sangat muda.


"Mau tidur?"


"Iya ngantuk. Apa kita akan nginap di sini?" tanya Bee bahkan matanya sudah terpejam seutuhnya.


"Iya sayang. Tidur lah.."


"Peluk kak"