Sold

Sold
Kunjungan Dadakan



Seminggu tidak ada kabar, Bee memutuskan untuk mendatangi Bintang ke kantornya. Hanya itu tempat yang dia tahu untuk menemui tuan muda yang sedang menjaga jarak dengan nya.


Semangat nya kini mulai naik. Satu masalah sudah teratasi. Kemari malam, Elang menghubungi, meminta maaf dan mengatakan akan menerima Saga dan berusaha menyayangi anak itu, karena nyatanya dia tidak bisa melupakan Bee.


Jika Saga menjadi penghalang untuk bersama Bee, Elang akan mengalah. Toh itu hanya untuk lima tahun ke depan. Elang juga yakin jika mereka sudah punya anak sendiri, Bee juga akan segera membuang anak itu pada ayahnya.


"Apa kamu serius Lang? kamu bisa menerima anak ku?" tanya Bee memastikan. Hatinya plong. Setidaknya satu masalah sudah terpecahkan.


"Iya sayang. Aku ga sanggup kehilangan mu. Harus nya aku tidak egois. Jika aku menyayangi mu, harusnya anak itu juga aku terima. Lupakan pertengkaran kita. Sekarang yang perlu kamu pikirkan segera minta pria itu menceraikan mu" tukas Elang penuh semangat.


Semua sudah di pikir kan pria itu. Jika Bee bercerai, maka dia akan mendapatkan pembagian harta. Belum lagi jika Saga bersama mereka, Bintang juga harus memberikan biaya anak itu, jadi menampung satu orang bayi, rasa nya bukan hal yang berat.


Produser nya mengatakan penjualan album mereka menurun, bahkan terancam untuk di tarik kembali. Jalan keluarnya agar membuat nama band itu tetap berkibar, membuat single baru. Dan itu butuh biaya.


Sekali lagi, Bee melihat tampilan nya di cermin. Sudah sejak lima belas menit lalu dia sampai di kantor Bintang, dan kini untuk mengumpulkan keberaniannya, Bee sengaja ke toilet, merapikan pakaian dan dandanannya.


"Lihat ga tadi, Stella cantik banget ya. Lebih cantik aslinya dari yang di lihat di tv" dua orang OB, masuk ke dalam toilet. Mendengar nama Stella, kuping Bee menegak.


Hanya ada satu Stella yang dia kenal. Dan kebetulan juga suka wara-wiri di televisi.


"Belakangan ini, dia suka kemari ya, jangan-jangan Stella bakal nikah secepatnya dengan tuan Bintang" ucap si rambut pendek.


"Semoga kita di undang ya. Mereka cocok sih, yang satu ganteng, yang satu cantik. Walau iya sih, Stella judes banget orang nya" sahut on bertubuh montok.


"Eh.. pernah nih ya, kalau ga salah kemarin deh..gue lihat Stella nyosor tuan bos di lift, Ajip..gue sampe merinding. Basah gue ngebayangin yang ciuman sama tuan bos itu gue bukan Stella..hihihi"


Degub jantung Bee semakin cepat. Ada ruang di hatinya merasakan sakit yang dalam. Perih. Bee keluar dari dalam toilet, menegakkan tubuhnya berharap bisa sampai di ruangan Bintang, kaki nya begitu gemetar.


"Maaf nona, anda mau bertemu dengan siapa?" tanya seorang gadis bernama Sari. Bee menebak dia pasti sekretaris Bintang, karena meja nya tepat ada di depan ruangan Bintang. Bee memang belum pernah ke kantor Bintang sebelumnya, tapi di lantai satu, Bee sudah bertanya pada satpam juga front office.


Memang Bee bertanya mengenai Riko, bukan Bintang, agar FO tidak terlalu banyak berkata padanya. Mereka hanya mengatakan ruangan Riko ada di lantai 10. Dari sana Bee bertanya pada OB pria, ruangan Bintang.


"Saya mau bertemu dengan tuan Bintang" jawab nya penuh percaya diri. Momen begini ketenarannya sebagai model nyatanya tidak berlaku, buktinya Sari tidak mengenalnya.


"Maaf, apa anda sudah buat janji? saat ini tuan sedang sibuk. Beliau ada tamu, jadi tidak bisa di ganggu" terang Sari.


"Oh..iya saya tahu. Tuan Bintang sedang bersama nona Stella kan? saya asisten nya, di minta untuk masuk" ucap Bee berimprovisasi. Ada guna nya juga dia mendengar pembicaraan kedua OB di toilet tadi.


Tangan Bee bahkan terasa kaku hanya untuk memutar knop pintu mahoni coklat di depannya. Dada nya sesak. Gambaran buruk tentang apa yang ada di balik pintu, terus menghantui dirinya.


Tapi teringat tujuan nya kemari, Bee memantapkan hatinya untuk masuk. Dugaan nya benar. Gadi itu tengah memeluk Bintang yang sedang duduk di kursi kerja nya dari belakang. Mengendus leher pria itu bak anak anjing.


Kedua manusia yang terperanjat serentak bangkit dan menatap Bee yang berdiri memandangi mereka berdua.


Yang pertama di telusuri Bintang adalah guratan kecewa dari mata Bee. Dan penyebab nya adalah dirinya sendiri.


"Kami di sini?" kalimat tidak penting yang di ucapkan Bintang membuat Bee menarik garis simpul pada kedua sudut bibirnya.


Sementara Stella dengan santainya beranjak menuju sofa. Duduk dengan santai bak nyonya rumah. Gaun nya bahkan lebih pantas di pakai anak SD, begitu pendek.


Melihat keintiman mereka tadi, Bee juga yakin ini bukan yang pertama. Pria itu kini sudah terang-terangan menunjukkan hubungan mereka. Seminggu tidak pulang ke rumah, pasti terbuai dalam pelukan wanita itu, dan hal itu semakin membuat Bee jijik pada Bintang.


"Aku ingin bicara" sahut Bee dingin. Bahkan jika sampai beberapa jam lagi, mungkin Bintang bisa membeku hanya dengan berada di dekat Bee.


"Bicaralah" ucap nya santai. Kembali duduk di kursinya, melipat tangan di dada menatap Bee lurus. Kembali lagi dia bisa menangkap luka di mata gadis itu.


Untuk apa kamu terluka Bee? bukan kah kamu memang tidak perduli padaku? jadi walau aku saat ini bercumbu dengan siapa pun, bukan masalah kan untuk mu?...


Tidak semua yang di lihat Bee itu seperti yang dia duga. Stella memang belakangan ini kerap datang mengunjungi Bintang. Gadis itu seolah tidak ingin memberikan celah pada Bintang untuk jauh darinya.


Dari informan yang dia sewa dengan bayaran mahal, Bintang di ketahui sudah menikah dengan Bellaetrix yang sekaligus musuh nya.


Hal yang membuat nya gembira, pernikahan itu di ketahui sudah diambang pintu kehancuran dan keduanya akan segera berpisah. Makanya dengan susah payah, Stella memberikan perhatian, Bagun lebih awal untuk datang membawakan makan siang untuk Bintang.


Reaksi pria itu masih tetap saja dingin. Tapi sekarang Bintang sudah mau menerima ajakannya untuk nongkrong di club walau hanya sebentar. Hanya untuk menghangatkan tubuh nya agar bisa melewati malam nya sendiri. Pria itu sudah pernah mau mencoba mencicipi Stella lagi, tapi di tengah jalan niat nya di urungkan.


"Aku ingin bicara berdua dengan mu" ucap nya tegas tanpa mau melirik ke arah Stella.


"Stell sayang..bisa kah kau meninggalkan kamu berdua dulu?" pinta Bintang tanpa menoleh pada Stella. Matanya masih mengunci tatapan Bee yang hampir saja akan menangis.


"Tapi nanti malam kamu datang kan?" tanya Stella mengerti, dan meraih tas nya. Berjalan dengan anggun nya mendekati Bintang.


Sekilas Bintang mengangguk. Tapi yang tidak dia sangka, Stella melewati batas, mengecup bibir nya tiba-tiba, lalu berlalu pergi meninggalkan Bintang yang terperanjat dan Bee yang melotot kan mata pada mereka.