
Dan setelah makan mereka habis kan semua plus dengan ghibah an yang mereka perdebatkan, tatapan Bee kini tertuju pada sosok yang memberikan kesejukan di hatinya.
Dia ada di sana..sedang berbicara dengan teman-teman nya di gazebo taman belakang.
Ah..degub jantung Bee berpacu kencang. Tatapan nya terus tertuju sosok itu yang kini sudah berbalik melihat ke arahnya juga. Tatapan mereka bertemu di satu titik, dengan sejuta arti.
"Amal apa yang sudah aku lakukan semalam, hingga harus bertemu bidadari cantik malam ini?" ucap Elang setelah ada di dekat Bee.
"Ih..kamu tuh ya..buat aku malu tahu" Bee masih berusaha menenangkan degub jantungnya. Rasanya kakinya sudah tak sanggup menopang berat tubuh nya.
Ketiga teman nya begitu pengertian, memberikan waktu buat Bee untuk berbincang berdua dengan Elang, yang mereka tahu itu lah keinginan terbesar Bee, walau pun mereka masih rindu pada gadis itu.
"Kamu berubah banget Bee..cantik nya ga ketulungan" puji Elang sungguh-sungguh. Elang sudah melihat beberapa kali fashion show yang di ikuti Bee yang kebetulan di siarkan di televisi, tapi tak menyangka kalau aslinya Bee jauh lebih cantik dan mempesona. Tak ada lagi behel, tak ada lagi rambut gersang terurai berantakan. Yang ada hanya sosok wanita cantik yang sempurna.
"Udah deh, jangan godain aku terus" ucap Bee menunduk, menyimpan wajah memerahnya.
"Kamu pasti di kelilingi banyak cowok tampan dan kaya raya ya Bee" ada rasa minder di balik suara itu.
"Apaan sih ga jelas deh kamu Lang"
"Aku serius. Kamu pasti udah punya pacar ya?" sambungnya. Jujur pertanyaan ini sangat ingin dia tahu jawabannya.
"Gimana aku bisa punya pacar, kalau aku masih mengharapkan seseorang yang pernah berjanji untuk menunggu ku pulang" sahut Bee semakin malu. Ini sama saja dirinya menagih janji Elang untuk menjadikan nya pacar.
"Se-serius Bee? maksud kamu, kamu masih nunggu jawaban dari aku?" wajah berbinar menghiasi pria kardus itu. Dulu aja nolak, sekarang udah lihat semakin cantik, pengen ngembat, dasar lalapan pecel lele!
Gadis itu hanya mengangguk, lalu menunduk kembali. Keberanian Elang naik hingga seribu kali lipat. Merasa jumawa, mengetahui gadis se cantik dan seterkenal Bee masih menyukainya, bahkan berharap menjadikan gadis itu pacarnya. Wow!
"Bee..kamu tahu aku adalah pria yang paling bahagia kalau kamu menerima cinta ku. Jadi kita pacaran?kamu mau jadi pacar ku, Bellaetrix Elaina, Sudikah kau jadi pacarku?" ucap Elang penuh kelembutan.
"Iya..aku bersedia" ucap Bee juga ikut bahagia. Dan malam itu mereka resmi pacaran.
***
Pagi cerah di sambut Bee dengan senyum penuh arti. Jatuh cinta membuat nya bersemangat menjalani pagi ini. Dengan sigap, dia sudah berganti pakaian olah raga, ingin lari di keliling komplek, namun mengingat tanah belakang rumah mereka begitu luas, Bee memilih untuk lari pagi di sana saja.
"Hai.." suara rada serak itu mengagetkannya saat sedang melakukan pemanasan sebelum benar-benar lari pagi.
"Hai.." ucapnya membalas sambil menatap pria itu. Dia pria yang ada di pesta ulang tahun Bina Malam itu, yang di katakan Lala sebagai tetangganya.
"Iya, dan anda tetangga baru kamu?tuan Bintang?" tegas nya dengan sikap tak perduli. Ada aura pria itu yang tak Bee sukai, entah apanya, dari fisik, jelas dia sangat tampan. Dari matanya bisa Bee tebak, dia pasti blasteran.
Dan endingnya, Bee tak jadi lari pagi, justru mengobrol dengan santainya bersama Bintang, duduk berdua di tanah.
Obrolan mereka nyatanya nyambung. Kesan yang di tangkap Bee, pria itu sangat cerdas, humoris dan ah..dia sexy, lihat saja otot bisep nya, dan perut kotak-kotak nya terceplak sempurna di baju kaos putih tipisnya.
"Udah siang nih, aku masuk dulu ya" ucap Bee berdiri, membersihkan bokong nya dari tanah yang dia duduki.
"Kamu punya rencana hari ini?" ucapnya mempesona, berharap Bee akan menyukai nya.
"Ya..aku akan pergi bersama pacarku" sahut nya penuh gembira. Bangga rasanya bisa menyebut Elang dengan sebutan pacarnya.
"Pacar?siapa?" ada kerutan di kening nya, dan dari sorot mata nya tanda tak suka akan apa yang di ucapkan Bee.
"Elang..tentu saja..kamu juga melihat kami saat di pesta ulang tahun Nina" jawabnya masih dengan wajah gembira.
Tanpa menunggu lagi, Bee pamit, untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Bintang yang di penuhi rasa kesal, segera masuk untuk mandi. Dia harus bicara pada seseorang, dan orang itu harus mengikuti perkataannya, jika tidak, Bintang akan menghancurkan apa pun demi mendapatkan keinginannya.
Seminggu di Pekanbaru, Bee habiskan bersama dengan Elang. Kini kemana pun Elang pergi, dia akan membawa Bee bersama nya. Elang kuliah di Lancaning, kampus swasta, hingga Elang bisa kuliah tapi tetap masih memprioritaskan band nya. Impiannya hanya satu, jadi band papan atas yang bisa masuk tv dan di akui di Indonesia.
Sebenarnya, Elang tak ingin kuliah, ingin fokus di musik. Tapi kedua orangtuanya yang punya sekolah tinggi tentu saja menentang. Ayah nya Bahkan mengancam untuk mencabut semua uang saku dan motor yang dia pakai, kalau sampai tidak mau kuliah. Itu lah alasan Elang memilih kampus yang bisa di imbangi dengan kegiatan.
"Nanti kalau aku udah lulus SMA, aku juga akan milih kampus kamu, biar kita bisa tetap sama-sama" ucap Bee yang menemaninya latihan band dengan teman-teman nya di salah satu studio yang mereka sewa per jam.
"Ga usah sayang, nanti aku yang akan ke Jakarta, paling lambat tahun depan aku pasti sudah menaklukkan ibu kota" ucapnya percaya diri.
"Terus kuliah kamu Lang?"
"Gampang itu, banyak kan kampus swasta di sana, cari yang bisa titip absen, dan datang pas ujian aja" kerling nya menggoda.
"Kalau aku udah dapat Lebel yang mau menaungi band kami, aku akan melamar mu. Kamu mau kan nikah muda dengan ku?" bisik Elang yang membuat pipi Bee memerah, lalu gadis itu mengangguk setuju.
Kabar hubungan Bee dan Elang, cepat menyebar di tempat mereka. Tentu saja keluarga Elang senang saat Elang membawa nya ke rumah mereka dan memperkenalkan dengan orang tua nya. "Tante setuju saja kalau kalian mau nikah, sehabis Bee lulus SMA, toh setelah menikah pun, masih bisa kuliah" ucap mama Elang.
Bee hanya tersenyum mendengar ucapan mama Elang yang lebih menyerupai restu bagi hubungan mereka. Secepatnya, dia pun akan memberitahukan hal ini pada papanya.
Membayangkan akan menikah dengan Elang membuat Bee tersenyum sepanjang jalan menuju rumahnya, hingga pelukannya di pinggang Elang semakin di eratkan nya, seolah tak ingin berpisah lagi dengan pria itu.