
Setelah sebulan mendapat kurungan, Setiawan membolehkan Kinan keluar rumah, melakukan rutinitasnya seperti biasa. Karena setelah sebulan memantau, Tidak ada lagi tanda-tanda putrinya berhubungan lagi dengan Piter. Lagi pula Setiawan punya rencana besar untuk Kinan.
Menempatkan Kevin sebagai asisten Kinan bukan tanpa alasan. Kevin adalah anak dari sahabatnya. Lulusan luar negeri yang akan mewarisi Duta corp, perusahan real estate ternama di Indonesia. Harusnya Kevin sudah memangku jabatan sebagai CEO perusahaan ayahnya, tapi ketika mendengar cerita Setiawan pada ayah nya Kevin kala itu, membuat Kevin bersedia membantu Setiawan.
Yang perlu di lakukan Kevin adalah merebut hati Kinan. Karena pada pertemuan pertama mereka dulu, Kevin sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Kinan. Dia sama sekali tidak perduli dengan status Kinan yang seorang janda. Dia menerima gadis itu apa adanya.
"Pagi" sapa Kevin melihat Kinan sudah tiba di kantor.
"Loh Vin, kamu di sini?" alis Kinan bertaut melihat Kevin sudah ada di kantornya sepagi ini.
"Apa om Setiawan ga bilang, kalau aku kembali di tugaskan buat dampingi kamu?"
"Kamu itu bukan buat dampingi aku, tapi buat jadi mata-mata papa kan?" wajah Kinan cemberut.
Untuk menjawab Kinan, Kevin hanya melepaskan senyum maut nya berharap Kinan bisa terpesona.
Satu harian, Kinan di paksa untuk mempelajari draft kerjasama yang akan perusahaan nya lakukan dengan perusahaan baru. Kevin setia menemani dan menjawab setiap hal yang tidak dimengerti gadis itu.
"Kita makan siang dulu ya?" ucap Kevin memperhatikan wajah serius Kinan.
"Kamu cantik banget Nan. Kapan kamu akan membuka hati untuk ku? lihat aku yang ada di samping mu, menunggu mu melihat ku dengan cara yang berbeda" gumam nya dalam hati.
"Ga usah deh Vin. Biar aku selesaikan dulu. Nanggung" ucap nya tanpa menoleh. Ini akan menjadi satu pembuktian bagi papa nya, kalau dia sudah matang hingga nanti papanya akan menghargai pendapat dan pilihannya.
Kevin beranjak, sedikit menjauh membiarkan Kinan menikmati keseriusannya.
Melalui aplikasi, kevin memesan makanan untuk makan siang mereka. Karena tidak tahu apa makanan kesukaan Kinan, maka Kevin berinisiatif memesan beraneka jenis makanan, agar gadis itu bisa memilih. Pilihan resto nya pun dia usahakan sedekat mungkin dengan kantor, agar tidak terlalu lama menunggu.
Dibantu satpam, beberapa Ojol membantu membawa pesanan ke ruang Kinan. Kevin sudah mulai menata saat Kinan menyadari apa yang di lakukan Kevin.
"Kamu pesan semua ini?"
"Iya. Aku ga tahu apa makanan kesukaan mu, jadi aku putuskan untuk memesan semua ini" ucap nya lembut. Jujur hati Kinan tersentuh akan kebaikan dan perhatian dari Kevin.
"Kamu baik banget sih. Makasih ya"
Kevin hanya mengangguk. Kembali membuka kotak makanan dan menunggu Kinan. Tapi tetap saja gadis itu tidak memperhatikannya, dia terlalu serius membaca draft itu.Tidak mau, Kinan terlambat makan, Kevin berinisiatif menyuap Kinan.
"Buka mulut mu" ucap nya yang di patuhi oleh Kinan. Suapan pertama di terima Kinan tanpa menoleh. Mulut nya sibuk mengunyah.
"Enak.." tiba-tiba dia berhenti menulis, dan mulai mengamati makanan yang ada di hadapannya.
Piter melihat semuanya. Tangan nya mengepal di sisi tubuhnya. Dengan sikap arogan dan penuh emosi yang di tekan dia berjalan menghampiri mereka.
"Piter.." Kinan sontak berdiri, dan berjalan ke arah pria itu. Kevin yang sejak tadi memperhatikan rahang Piter yang tampak mengeras ikut berdiri.
"Maaf, kalau aku ganggu. Lagi ada perayaan atau memang begini kalian setiap hari nya?" ucap nya tidak berperasaan.
"Kamu ngomong apa sih? tadi aku banyak kerjaan hingga harus makan di ruangan aku" Kinan menyentuh lengan Piter tapi segera di tepisnya.
"Hingga kau harus di suapi? kalian terlihat serasi. Atau apa mungkin kalian sedang latihan suap-suapan di pelaminan nanti?" ucapan Piter semakin tidak jelas. Terlihat sekali bahwa pikirannya sudah di kuasai amarah.
Tidak sedikitpun dia menoleh ke wajah Kinan, yang dia lakukan adalah menatap tajam Kevin, yang sudah berani menebar pesona pada Kinan. Ingin sekali rasa nya Piter membelai wajah Kevin dengan bogem mentah nya.
"Kamu ngomong apa sih Ter? jangan gini dong, please" Kinan si polos terlalu takut kalau Piter marah pada nya. Terlalu naif hingga tidak perduli ucapan Piter sesakit apa pun menuduh nya, justru dia yang minta maaf. Dia sudah terlanjur menyerahkan hatinya pada pria arogan itu, dan tidak ingin berpisah untuk kedua kalinya. Jadi sudah tahu kan sepenting apa rasa percaya Piter yang perlu dia jaga?
"Jadi aku harus berkata apa? bagaimana kalau yang ada di posisi ku saat ini adalah dirimu? kau melihat ku di suapi oleh wanita lain? kau bisa terima? hah!?"
Tenggorokan Kinan terasa tercekat. Sakit sekali bahkan untuk menelan saliva nya.
"Aku tidak akan sanggup melihat nya. Aku tidak ingin ada wanita lain diantara kita" cicit Kinan namun masih bisa di dengar Piter.
Piter tidak mengatakan apa pun lagi. Tatapan Kevin yang seolah menantang nya sudah membuat ambang batas kesabarannya hampir terlewati. Tapi dia tidak ingin terpancing, dia tahu niat pria itu, jadi dari pada masuk perangkap, Piter memilih untuk mundur dulu. Dia berbalik bersiap untuk keluar dari sana.
Kinan menarik tangannya agar pria itu tidak pergi, tapi lagi-lagi Piter menghempas tangan nya. Hanya matanya yang terus menatap punggung Piter yang semakin menjauh menjadi saksi kalau hati nya menangis.
"Sudah Nan, biar kan dia pergi. Lagi pula kenapa dia ada di sini? apa kau masih berhubungan dengan nya? om Setiawan sudah memperingati dengan jelas. Aku mohon jangan berurusan dengan pria itu lagi" ucap nya mendekati Kinan, membawa gadis itu kembali ke kursi mereka tadi.
Semua pertanyaan Kevin hanya lewat dari telinganya, tanpa niat untuk menjawab. Hati dan pikirannya saat ini sudah ikut dengan pria yang baru saja meninggalkan ruangan ini dengan penuh amarah.
"Nan.." suara lembut Kevin membuyarkan lamunan Kinan.
"Aku mohon Vin, jangan kasih tahu papa, kalau Piter datang menemui ku. Aku percaya padamu, jadi aku mohon.." tubuh Kinan merosot, seiring dengan air mata nya yang lolos di pipi.
"Jangan nangis Nan. Aku mohon"
Tapi Kinan tidak menjawab. Isak nya semakin kencang.
Ini salah ku. Harusnya aku bisa jaga sikap. Tidak menerima semua perhatian Kevin. Piter, aku mohon jangan marah..jangan menjauhi ku...