
Perjalanan menuju rumah dari klinik terasa menyeramkan dalam mobil. Semua diam, hanya Saga yang bernyanyi di jok belakang, menikmati video dari YouTube.
Bee harus menahan malu atas sikap Bintang pada Kia, menekannya untuk pulang tanpa pamit. Bee tahu, pasti pria itu sudah salah sangka. Dipikirannya dia berduaan dengan Kia, seperti yang Bintang dapati saat tiba di klinik.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Setidaknya kejadian keseluruhan bukan seperti itu. Awalnya kedatangan Kia, mereka bertiga di ruangan Bee. Ada Citra yang pagi tadi di beritahukan Bee niat Kia yang mau mengajak nya ta'aruf. Tapi di tengah perbincangan, perawat Citra mengatakan ada pasien yang harus mendapat pertolongan. Pelipis nya berdarah karena jatuh dari pohon.
"Tunggu bentar ya, aku periksa dulu" ucapnya lebih pada Kia. Tinggal lah Bee dan Kia yang tidak lama di dapati Bintang.
Saga lebih dulu turun, tidak memperdulikan wajah tegang kedua orang tuanya. Sementara Bee berjalan menyusul langkah Bintang ke dalam kamar.
Ga bisa. Ini harus di bicarakan. Lama-lama rumah tangga ini bisa karam kalau diam-diam an dan salah paham gini..
Bee setengah berlari mengikuti langkah Bintang yang ternyata bukan menuju kamar tidur mereka, melainkan ruang kerjanya. Baru akan menutup pintu, Bee menahan dan terpaksa membiarkan gadis itu masuk.
"Aku mau bicara kak" Bee sudah mengambil posisi salah satu kursi di ruangan itu.
"Silahkan" suara Bintang dingin dan rasa mya penuh kebencian.
"Aku mau kakak jangan seperti ini. Jangan diamin aku. Mulai dari kejadian penculikan Kiki hingga hari ini, kakak diamin aku"
"Ga ada yang perlu kita bahas. Lakukan apa pun yang kau suka. Toh omongan ku ga ada artinya buat mu kan?" Bintang berdiri, menyandarkan bokongnya pada meja kerjanya, tepat menghadap Bee.
"Please kak, pahami keadaannya. Kalau kakak jadi aku, apa kakak tega ninggalin orang dalam kesulitan? terlebih itu teman ku kak"
"Tapi bukan berarti kau membahayakan dirimu dan juga anak ku!"
"Tapi aku dan anak kita baik-baik aja"
Bintang diam. Tidak ada bantahan. Hati dan pikirannya saat ini sangat lelah. Tidak ingin berdebat, tapi pastinya istrinya tidak akan membiarkan ini berakhir.
"Dan masalah di klinik tadi, kenapa sih kakak bersikap arogan gitu terhadap Kia?"
"Maksud mu apa? apa penting nya dia harus aku hargai? aku bahkan ingin menghajarnya"
"Alasannya?" suara Bee ikut meninggi karena pancingan Bintang.
"Kau masih tanya alasannya? berapa lama kau mengenalku? perlu kah aku menjawab pertanyaan mu itu?" salak Bintang habis kesabaran.
"Kau membentak ku?" tanya Bee tidak percaya Bintang berani membentaknya. Air matanya tiba-tiba saja mengenang.
"Kau yang memintanya"
"Dasar bodoh, aku ga ada hubungan dengan Kia. Dia ke klinik untuk mendekati Citra, dokter umum yang ada di klinik itu" terang Bee menghapus air mata nya yang lolos di pipi.
Melihat itu, Bintang tidak tahan, memilih untuk mengalihkan pandangannya. Air mata istrinya adalah kelemahan nya, dan saat ini dia tidak mau lemah karena melihat air mata itu tumpah.
"Dari dulu aku tahu dia menyukai mu. Bisa aja itu hanya akal-akalan agar bisa mendekati lagi" ucap Bintang tanpa menoleh ke arah Bee.
"Aku ga punya hubungan dengan Kia seperti yang kau pikirkan. Kau jahat karena sudah mencurigai aku" Bee kini menangis tanpa berniat menahan nya.
Benar saja, hati Bintang sudah tidak karuan. Satu sudut hatinya meminta untuk mendekati Bee dan memeluk gadis itu, meredakan tangisannya. Tapi sudut hatinya yang lain mempertahankan egonya, hingga memilih jalan tengah. Bintang keluar dari ruangan itu bahkan dari rumah itu.
Bintang memilih menjauh, agar pertengkaran tidak semakin membesar yang pastinya akan menimbulkan rasa sakit hati. Baik Bee dan dirinya perlu waktu untuk sama-sama menenangkan hati dan pikiran mereka, baru kembali duduk satu meja.
Tidak menduga Bintang akan pergi meninggalkannya begitu saja, Bee ikut mengejar, tapi langkah Bintang terlalu cepat, menuruni anak tangga, mengabaikan teriakan Bee yang memanggil namanya.
Hujan di luar sana tidak menghentikan niat Bintang untuk pergi, bergegas dia masuk ke dalam mobil dan dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman rumah itu. Bee berlari mengejar diiringi suara hujan. Teriakan nya ditelan suara hujan yang semakin deras mengguyur bumi.
Masih di tempatnya berdiri, Bee menikmati siraman hujan. Memandang ke arah jalan yang dilalui Bintang tadi. Pria itu meninggalkan nya.
Hujan juga sudah menyamarkan air matanya yang menganak sungai di pipi. Terdengar bunyi kilat di langit. Mira tergopoh-gopoh membawa payung dan mengajak Bee untuk masuk. Tangis Bee masih ada di sana, menjadi saksi kekecewaan akan sikap Bintang.
"Kak, please jangan diamin aku. Aku rindu padamu. Aku mohon kembali lah kak..." cicit nya di antara derai hujan.
"Ayo masuk nyah, nanti nyonya sakit" pinta Mira yang setia memayungi Bee di tengah jalan.
Tubuh Bee semakin lemah. Mira memapahnya, dan untuk kali ini Bee membiarkan Mira membantunya mandi. Mencuci rambut dan menyabuni punggungnya. Sekuat apa pun Bee menahan air matanya tidak terbendung. Mira hanya pura-pura tidak melihat air mata majikannya itu dengan menundukkan kepalanya.
Bee sudah berbaring, saat Mira memberikan segelas susu hangat. Bee menolak untuk makan. Dia ingin tidur, sembari meredakan sakit kepalanya. Dia ingin makan di suapi Bintang, jadi dia akan menunggu pria itu.
"Makan sedikit aja dulu nyah, biar ga masuk angin" ucap Mira mengoles minyak angin ke telapak kaki Bee.
"Nanti aja Mir, aku ga selera. Aku nunggu kak Bintang aja" Mira mengangguk dan pamit keluar. Dia sendiri tahu, harapannya mungkin saja tidak terjadi. Kata hatinya mengatakan Bintang malam ini tidak akan pulang.
Cukup lama Bee terlelap. Dia terbangun karena merasa kedinginan padahal selimut sangat tebal menutupi seluruh tubuhnya. Mulutnya terasa kering, tenggorokan nya pun sakit. Rasa pusing yang sejak sore tadi menyerangnya tidak mau pergi juga.
Perutnya lapar, tapi enggan untuk makan. Tubuhnya terlalu lemas hanya untuk bangun dari tempat tidur.
Untungnya Mira datang, untuk melihat keadaannya. Mira benar-benar khawatir pada majikannya yang kehujanan sore tadi dan menolak untuk makan malam.
"Nyonya" Mira me dekat, kekhawatirannya menjadi nyata melihat wajah Bee yang pucat dan lemas. Di letakkan telapak tangannya di kening Bee, dan terkejut dengan panas nya tubuh majikannya itu.
"Nyonya, anda sakit. Demam. Gimana ini" ujarnya bermonolog dengan panik.
Oleh pak Jarwo, dokter keluarga diminta datang untuk memeriksa keadaan Bee.
"Ibu hanya demam. Usahakan ibu makan walau sedikit dan berikan obat ini. Dua jam lagi demamnya akan turun. Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, segera kabari saya" ucap dokter itu meninggalkan Bee bersama Mira di kamar.
"Segera hubungi tuan Bintang" pinta sang dokter sebelum berlalu.
*Hai.. terimakasih sudah mampir. Ini ada novel keren lainnya, yuk kepoin pasti baper.. terimakasih 🙏😘