Sold

Sold
Hari wisuda



Berlalu nya waktu, Bee sudah bisa melupakan kejadian buruk yang menimpanya. Terapi yang di berikan pada nya oleh Bintang sangat manjur. Bintang menyisihkan sebagian besar waktu nya untuk menemani Bee. Membawa wanita itu kencan dan menikmati kebersamaan mereka berdua.


Awalnya sangat sulit, karena peristiwa itu sedikit banyak nya menyerang psikis Bee. Dia akan gemetar saat mereka sedang bercumbu, bahkan seolah terpaksa melakukannya dengan Bintang.


Suatu kali Bintang pernah bertanya, mengapa Bee merasa takut berhubungan dengan nya. Dengan air mata Bee mengatakan kalau dia menutup mata, sentuhan yang Bintang lakukan di kulit nya seolah itu adalah Yosep. Mendengar itu Bintang mengepal tinjunya, ingin sekali membunuh Yosep karena menyebabkan trauma pada Bee. Tapi itu hanya berlangsung dua Minggu, setelah nya Bee sudah bisa kembali seperti biasa. Penuh hasrat menyambut kehangatan yang ditawarkan Bintang.


Hari ini, Bee akan wisuda. Bintang bahkan menyewa kamar suite room di salah satu hotel di dekat kampus Bee. Agar Bee tida perlu khawatir terlambat. Lagian mereka ingin menikmati hari itu dengan seluruh anggota keluarga. "Apakah aku secantik itu hingga tatapan mu tidak pernah lepas dari wajah ku?" ucap Bee mendekat pada Bintang yang sejak tadi mengawasinya saat di rias oleh MUA ternama. Berdiri di dinding, melipat tangan di dada dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya. Mata elang menatap Bee tidak jemu. Ingin sekali menerjang gadis itu, membuka semua pakaian yang di kenakan Bee dan membaringkan nya di atas ranjang. Mendengar ******* Bee di bawah tubuhnya adalah suara terindah yang di sukai Bintang.


"Kak.." suara Bee berhasil menarik Bintang dari fantasi liar nya.


"Eh..kenapa sayang?"


"Ngelamunin apa sih? ayo, kita berangkat. Ibu dan yang lain udah ada di aula. Bentar lagi acara di mulai"


***


Gedung serba guna itu begitu besar dan megah untuk ukuran milik kampus. Acara akan di mulai pukul sembilan pagi, tapi calon wisudawan dan wisudawati sudah memadati gedung sejak pukul tujuh pagi tadi bersama anggota keluarga.


Euforia menyambut pengesahan gelar menjadi salah satu daya tarik setiap momen wisuda. Bee akan mengingat ini. Entah Bintang akan menyetujui rencana nya untuk kuliah lagi, karena janji nya setelah mendapat gelas dokter gigi, Bee akan memberinya seorang putri cantik.


Memikirkan hal itu membuat wajah Bee memerah. "Kau sakit sayang? kenapa wajah mu tampak merah?" tanya Bintang menyentuh kening Bee.


"Aku baik-baik aja. Aku cuma memikirkan untuk segera menepati janjiku, memberikan mu seorang putri cantik" bisik nya tidak ingin orang lain yang duduk sederet dengan mereka.


"Aku ingin mencium bibir mu" balas Bintang sebagai bukti perasaan nya yang membuncah mendengar perkataan sang istri.


"Jangan gila deh kakak. Ini di aula, itu rektor dan jajaran nya juga udah mulai masuk" bisik Bee pelan. Sana, kakak duduk di dekat Ibu sama tante Di. Di sini buat yang mau wisuda" ucap nya pelan meminta Bintang untuk bangkit, tapi pria itu tidak terima.


"Aku bahkan bisa duduk di depan sana kalau aku mau" ucap nya. Bee hanya memutar mata kalau sudah melihat arogansi suaminya keluar.


Tapi melihat wajah Bee yang tampak kesal, Bintang mengalah, beranjak dari duduknya menuju tempat ibu nya berada. "Ga boleh cowok yang duduk di sini" perintahnya. Bee membentuk tanda oke dengan jarinya sembari tersenyum.


Acara itu berlangsung meriah tapi juga penuh hikmat. Bee memang bukan jadi mahasiswa terbaik yang memberikan pidato di depan ratusan orang di gedung itu, tapi saat wajah nya muncul pada layar sebagai salah satu lulusan dengan IP tinggi, bahkan masuk lima besar, Bee menangis.


Sekilas sebelum maju ke depan saat nama nya di panggil, Bee melirik ke belakang, melihat kearah Bintang, tersenyum penuh haru, lalu pada papa dan mertuanya, air matanya sempat turun buru-buru di hapus lalu mengantri untuk berjalan ke hadapan rektor.


Di halaman gedung serbaguna, sudah banyak fotografer dadakan yang menawarkan jasa untuk mengabadikan momen spesial itu. Berphoto di depan papan bunga yang di desain nama nya. Bee pun ingin melakukan hal yang sama, tapi dia malu, takut nanti Bintang akan mengejeknya karena begitu kampungan. Bintang bahkan sudah mendekor satu kamar di hotel tempat mereka melakukan photo wisuda sekaligus photo keluarga besar.


"Ayo, kita balik ke hotel"


"Iya.." angguk nya lemah. Hutomo yang berjalan bersama Piter di belakang Bee, mempercepat langkah nya hingga sejajar dengan putrinya.


"Papa ingin mengabadikan momen bahagia mu ini. Kau mau photo sama papa di depan papan bunga itu?"


Senyum Bee mengembang. Bahkan rasa haru yang menyelimuti hatinya membuat cairan bening di pelupuk matanya hampir lolos. "Iya pa"


Bintang yang menyadari Bee tidak lagi mengikuti langkahnya hingga parkiran, membalikkan tubuhnya. "Mama.."ucap Saga yang berada di gendongan Bintang menunjuk ke arah Bee dan Hutomo yang balik arah menuju salah satu papan bunga di sana.


"Ngapain?" tanya Bintang yang sebentar saja sudah sampai di samping Bee. Dia seperti bayangan gadis itu, selalu tepat di belakangnya.


"Aku mau photo dengan papa, di depan papan bunga itu" tunjuk Bee pada pemilik papan bunga yang sedang menghias nama nya di sana.


"Tapi kita kan mau photo studio yang"


"Ini bentar aja kak. Di sini damage nya beda. Bisa menjadi kenang-kenangan pernah kuliah di sini. Karena gedung kampus juga nampak pas nanti di photo"


Sesi photo berlangsung. Tiga kali jepret untuk Bee dan papanya.


"Papa bangga sekali padamu. Bangga memiliki putri seperti mu. Papa sayang padamu" air mata papa lolos dari meleleh di pipinya.


"Papa jangan nangis, aku juga sayang sama papa" Bee masuk dalam pelukan papanya. Mengeratkan kembali hubungan ayah dan anak yang sempat mendingin dulu.


Mama, lihat lah kami dari surga. Kami akan selalu saling menyayangi..


Setelah melihat keseruan gaya mereka berdua saat berphoto, semua anggota keluarga justru ikutan. Mulai dari ibu, tante Di dan om Edo, lalu di susul bersama Kinan dan Piter. Bee masih berharap Bintang akan ikut. Tapi saat Bee sudah berdiri di depan papan bunga bersama Saga yang sudah pasang gaya, tidak ada tanda Bintang akan ikut. Dia hanya melihat mereka sambil melipat tangan di dada.


Tapi saat jepretan kedua dengan Saga, Bintang menyela, meminta waktu untuk dia bisa ikut di photo. Lengkap lah sudah kebahagiaan Bee. Ini yang dia ingin kan. Suaminya bisa mengalah dengan merendahkan hati nya untuk mau berphoto di hadapan banyak orang. Photo terakhir diisi oleh semua anggota keluarga.


Untuk sesi photo yang ada di hotel, Bintang meminta untuk mengundur waktu. Sampai di hotel, mereka menikmati jamuan makan siang mewah dengan berbagai menu istimewa.