Sold

Sold
Luapan amarah



"Minum dulu tang" tante Di meletakkan gelas di hadapan Bintang dan om Edo. Selama Tante Di mewajangi Bee di dapur, om Edo juga berusaha menenangkan Bintang. Beliau buka tidak tahu siapa Bintang. Jika pemuda itu sampai sakit hati dan marah pada Bee, keluarga nya juga pasti kena imbasnya.


Sebisa mungkin, Om Edo menenangkan sembari memberi sedikit nasehat selaku orang tua yang lebih dulu berkeluarga. Masukan tentang umur Bee yang masih muda dan sifat labil nya yang mungkin akan membuat Bintang jenuh, dan berharap akan bisa bersabar membimbing gadis itu.


Bintang dalam diam mendengarkan semua ucapan om Edo. Mencoba meredakan amarah nya walau bayangan apa yang kedua makhluk itu lakukan di dalam mobil masih membuat jiwa nya terbakar. Dia begitu benci dan tidak terima miliknya di sentuh pria lain. Walau pun dia tahu Bee mencintai pria itu, dan hanya melakukan pernikahan kontrak, tapi dia tetap tidak ridho se senti kulit Bee di sentuh siapa pun!


Denyut di dada nya belum juga mau redam Ini sama halnya menangkap basah pasangannya yang selingkuh.


Sejauh dia berhubungan dengan wanita mana pun, tak pernah sekalipun wanita nya mengkhianati nya begini. Harga dirinya benar-benar sudah di injak-injak gadis itu.


Suara derap langkah Bee yang di tarik tante Diana berhasil membawa Bintang kembali ke dunia nyata.


Jika menilik perbuatan gadis itu tadi, sungguh, Bintang sudah tak ingin melihatnya, bahkan akan mencampakkannya. Tapi lagi-lagi hati nya kalah. Begitu aroma wangi tubuh wanita itu tertangkap hidungnya, hati dan pikirannya kompak menuntut untuk melihat ke arahnya.


Gadis itu hanya berdiri di sana. Menunduk, bak maling yang akan kena sangsi sosial. Sedikit pun tidak berani mengangkat kepalanya.


Bintang meneguk habis teh yang tadi di hidangkan tante Di lalu meletakkan gelas kembali di atas meja.


"Terimakasih tante untuk teh nya. Sudah malam, kami pamit pulang dulu, om tante.." Bumi sudah berdiri, memberi menundukkan sedikit kepalanya seolah memberi bow lalu melangkah keluar tanpa menunggu Bee.


"Sana..kok malah bengong?!" tante Di mencubit lengan Bee kuat. Hitung-hitung luapan kekesalannya. Menyadarkan agar mengikuti langkah Bintang.


" Auuu..Sakit tan.." ringis nya mengelus bekas cubitan tante Di yang membuat kulitnya memerah.


"Rasain. Makanya jangan buat kesal. Ga usah banyak protes. Udah sana susul suami kamu. Berdoa saja kamu ga di kurung atau di biarin tidur di pos satpam" seru tante Di melotot. Om Edo hanya meringis ikut ngeri melihat keganasan istrinya.


Bertahun hidup bersama, pria itu sudah kenal tabiat tante Di. Ini juga dia lakukan demi kebaikan Bee juga. Tante Di begitu menyayangi Bee sehingga tidak ingin hal buruk terjadi pada pernikahan gadis itu.


Seperti terpidana mati Bee berjalan ke arah pintu. Tante dan Om ikut mengantar hingga tetas. Sekali lagi Bintang memberi hormat dan segera masuk ke dalam mobil.


"Tan, boleh ga aku nginap di sini malam ini?" cicit Bee menarik daster tante Di pada bagian ujung lengannya. Rasa takut akan di hukum Bintang membuta nya ogah masuk mobil.


"Pergi lah Bee. Om yakin Bintang tidak akan mencelakai kamu. Kalau dia marah, kamu jangan ngejawab, say sorry aja" bisik om Edo mengusap puncak kepala Bee.


Serasa tak punya benteng untuk bersembunyi, Bee akhirnya tak punya pilihan lain selain masuk ke mobil. Setelah terdengar klik pada tombol seatbelt, Bintang langsung tancap gas.


Bintang menunggu, gadis itu untuk buka mulut. Permintaan maaf dari gadis itu setidak nya akan bisa mengurangi kadar amarah yang kini tengah melanda Bintang. Tapi gadis itu justru diam, menatap arah jendela di samping nya.


Hal itu membuat Bintang semakin kesal. Ego nya lebih tinggi saat ini dari akal nya. Laju mobil di naikkan hingga rasanya mereka akan terbang ke langit. Bee harus memegang handle pada pintu mobil sambil memejamkan mata. Jantung nya jangan di tanya. Mungkin saat ini jantung nya sudah melompat dari tempatnya.


Masih diam tak buka mulut, Bintang semakin kesal. Kecepatan semakin bertambah, membuat Bee harus menahan nafas nya karena rasa takut yang mencekam.


"Ya Tuhan..aku belum mau mati. Tolong bilang sama orang ini, kalau mau mati sendiri aja ga usah ngajak-ngajak gue" teriaknya kesal. Bee sadar ini salah satu cara Bintang untuk menghukum nya.


Terselip rasa geli yang tiba-tiba di rasakan Bintang mendengar kalimat Bee. Perlahan dia mengurangi sedikit kecepatan mobil.


"Gue tahu gue salah, tapi ga mati juga hukuman nya. Dasar suami gila. Ga takut Lo kena azab bunuh istri Lo? ga ada sayang-sayang nya sama istri" celoteh Bee.


Dan seketika amarahnya mereda. Sisa perjalanan di habiskan dalam diam. Mereka tiba di rumah tanpa ada salah satu yang terluka. Bee ingat perkataan tante Di yang mengatakan hukuman buat dirinya, bisa saja Bintang menyuruhnya tidur di luar, di pos satpam, Bee segera berlari setelah mesin mobil di matikan.


Hanya helaan nafas panjang yang bisa di lakukan Bintang. Ingin marah tapi hatinya tak ingin membuat gadis itu sedih dan ketakutan, di bawa diam tapi hati nya jengkel hingga kepalanya berdenyut.


Bak makan buah simalakama. Di maafkan, harga dirinya tercabik, kalau dia menghukum Bee, hati nya yang luka kalau sampai gadis itu menangis.


Untuk membuang rasa kesalnya, Bintang masuk ke ruang gym nya. Memukul samsak untuk melampiaskan amarah dan rasa kesalnya. Bahkan Pria itu menulis nama Elang pada secarik kertas dan menggambar orang-orangan sawah seolah itu gambar Elang. Lalu menempelkan kertas itu pada samsak sebelum memukul nya.


Dua jam lebih Bintang berlatih hingga lelah. Dia ingin amarah dan emosinya bisa tersalurkan. Hingga esok saat dia bertemu Bee, pria itu bisa mengabaikannya tanpa ingin menghukum gadis itu.


Sempat terlintas di pikiran nya, cara menghukum Bee paling jitu adalah membuat gadis itu tidak tidur semalaman. Menemani nya bersimbah keringat, membuat makhluk mungil bersarang di rahim nya, hingga gadis itu minta ampun dan tidak memikirkan pria lain.


Tapi Bintang mengurungkan niatnya. Tidak. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal menjijikan seperti itu. Untuk apa dia memaksa orang untuk tidur dengan nya. Kalau dia mau masih banyak wanita yang dengan senang hati mengangkang untuk nya.