Sold

Sold
Jadi Manten



Sejak rekaman cctv yang dikirim Setiawan padanya, jangankan untuk tidur, bisa bernafas saja pun Piter susah payah. Hingga pagi menjelang, dia hanya duduk berdiam diri. Satu bungkus rokok sudah hampir habis dia bakar.


"Dasar tua Bangka sialan, ngerjain gue!" umpat nya mengeram kesal. Entah apa yang di lihat Setiawan dalam diri Piter, yang pasti pria itu selalu menunjukkan sikap perlawanan pada calon mantu nya itu.


Kalau saja Piter tahu bahwa Andri Setiawan mengetahui keberadaannya di kamar Kinan malam itu, sekalian saja dia menginap di rumah itu, bahkan bila perlu, dia akan mulai membuat bayi dengan Kinan agar pria rese yang sebentar lagi akan jadi mertuanya itu tahu rasa.


Dia seperti orang bodoh, bersembunyi di kolong ranjang sementara Setiawan terus mengatainya. Tapi dia harus sabar, demi Kinan apa pun dia ikhlas menjalaninya.


Hingga besok nya tidak ada kabar apa pun dari Kinan yang menjelaskan kemungkinan Setiawan mengatakan sesuatu tentang penyusupan dirinya.


"Bodo amat, besok gue bakal nikah sama Kinan, selama pria itu tidak membatalkan pernikahan nya maka dia tidak akan perduli apa pun yang dipikirkan Setiawan.


Setidaknya pikiran Piter kini tidak hanya tersita untuk masalah itu saja. Sejak siang, ibu sudah berulang kali mengingatkannya untuk istirahat yang cukup dan juga makan makanan yang sehat. Pakaian sudah diantar ke rumah ibu, karena besok mereka akan berangkat bersama menuju hotel tempat acara pernikahan itu di langsungkan.


Semua tampak tenang seolah tidak ada masalah, Piter menganggap video itu di kirim Setiawan hanya untuk membuatnya merasa tidak enakan padanya. Tapi pada pukul sebelas malam, satu pesan dari Setiawan membuat nya ingin membanting ponselnya ke lantai.


'Aku tahu apa yang kau lakukan kemarin malam. Aku sarankan agar kau membatalkan pernikahan ini, kalau tidak aku akan melaporkan mu ke kantor polisi Karen sudah menyusup di pagi buta ke rumah ku!'


Sesaat Piter yakin kalau Setiawan sudah kehilangan akal sehatnya, dengan mengirimkan pesan itu. Tapi setelah di telaahnya kembali, pesan itu dia kirim untuk mengancamnya. Agar memutuskan pernikahan itu sepihak, jadi di hadapan Kinan, seolah dirinya lah yang tidak menginginkan pernikahan ini.


"Dasar orang tua gila menyebalkan, maksud dia apa sih?" geram menendang bumper mobil nya tepat saat tiba dirinya tiba di rumah ibu.


"Kau ini calon manten, kenapa masih kelayakan sih? walau ini adalah pernikahan kedua mu, kau ga bisa sepele, udah masuk kamar sana!"


Bu Salma menatap heran pada sikap Piter, kalau biasanya anak bontotnya itu akan menjawab setiap perkataan ibunya, kali ini pria itu memilih diam dan naik ke kamar.


Piter sudah pasrah, saat nomor Kinan pun sudah tidak bisa lagi di hubungi dan itu sudah dua hari. Piter menimbang, apa sebaiknya dia mengatakan pada ibu nya yang sebenarnya terjadi, guna menjaga jika nanti terjadi hal yang paling buruk. Tapi insting Piter mengatakan bahwa semua nya akan baik-baik saja.


***


Pagi cerah, tapi ada mendung di hati Piter. Sejam lalu Bu Salma sudah sibuk membantunya bersiap. Bintang dan Bee akan langsung menuju hotel tempat acara diadakan.


Pukul sepuluh pagi, keluarga Danendra sudah ada di sana. Event organizer juga sudah menatap ruangan seindah mungkin. Tapi baik Kinan atau pun Setiawan belum juga kelihatan.


Piter semakin gelisah, di lihat nya ibu dan kakak ipar nya yang tampak gembira menanti acara ini.


"Lo udah kayak mau di hukum gantung!" suara dan tepukan pada pundak Bintang mengagetkan Piter.


"Kenapa Lo?" Bintang menatap aneh pada Piter. Tidak pernah adiknya itu se-kusut itu apa pun masalah yang tengah kita hadapi. Terlebih ini adalah hari pernikahan nya. Dia yang menginginkan ini terjadi.


"Jangan bilang lo nyesal dengan pernikahan ini" tegak nya asal menyesap wine yang ada di tangannya.


"Please bang, bisa ga lo lebih berguna dikit? gue lagi stres nih, takut kalau Setiawan membatalkan pernikahan ini, membawa Kinan lari"


"Ngaco lo, tadi aja gue lihat om Setiawan lagi di ruang ganti" ucap nya santai.


Berita itu serta merta mampu menutrisi tubuh Piter, membuatnya lebih bersemangat. "Serius lo bang?"


"Malas gue. Udah siap-siap. Gue nyambut penghulu dulu" Bintang sudah berlalu, meninggalkan Piter yang kembali menata hati nya. Jadi benar, ini cuma akal-akalan Setiawan untuk menyiksa nya.


Setengah jam kemudian, seseorang menghampirinya. Mengejutkan nya dengan tepukan keras di punggung.


"Kau masih belum mundur?"


"Om apa-apaan sih. Becanda om kelewatan"


"Saya cuma mau lihat, seberapa besar niat mu. Dan lagi pula, kau pantas mendapatkan, karena sudah berani menyusup dalam kamar putriku" cengiran di wajah Setiawan semakin membuat Piter kesal. Tapi di sisi lain, dia merasa lega. Seketika rasa takut dan juga khawatir nya raib begitu saja.


Pukul sebelas tepat, acara itu pun di langsungkan. Kinan dibawa masuk dengan anggun dan tampak cantik. Bahkan Piter tidak mampu memalingkan wajahnya. Panggilan pak penghulu bahkan tidak juga mampu menariknya dalam lautan pesona.


"Kau cantik..bukan..sempurna" bisik nya saat Kinan sudah di duduk kan di sampingnya. Gadis itu hanya bisa menunduk menahan rasa malu. Seirama dengan Piter, Kinan pun begitu terpesona akan ketampanan calon suaminya. Dia tahu, Piter Danendra memang sangat tampan, tapi tidak setampan hari ini. Bahkan penampilannya kali ini jauh lebih memukau dari pernikahan mereka dulu. Mungkin karena kali ini pernikahan ini ada karena keinginan mereka bersama, ikhlas tanpa ada syarat dan ketentuan. Tidak ada beban, yang ada hanya rasa bahagia.


"Ga usah di lihatin terus, nanti malam juga kalian bisa saling lihat sepuasnya" bisik Bee yang juga ada di sebelah Kinan yang membuat perona pipi Kinan semakin merah di wajahnya.


Lantunan janji suci yang di ucapkan Piter begitu merdu di telinga Kinan. Gadis itu meneteskan air mata, kala sang ayah menikahkan nya di depan semua orang.


Acara sakral itu pun selesai dengan penuh haru, berganti dengan hingar bingar musik yang di lantunkan beberapa pengisi acara dan juga tamu undangan yang kebanyakan dari kalangan selebritis dan juga pengusaha.


Berbagai ucapan selamat pun mengalir, seiring sesi photo dan juga godaan dari teman-teman Piter. Kebahagiaan Kinan sempurna. Dalam hati kecilnya dia berdoa, agar Tuhan menyempurnakan kebahagiaan mereka dengan segera menitipkan anak di rahimnya nanti.


Acara yang melelahkan itu masih juga belum selesai hingga malam tiba. Bu Salma yang tahu kegelisahan anak nya, mendekati Piter di pelaminan.


"Udah ga sabaran? pergilah, bawa istrimu dan segera buat cucu untuk ibu"