Sold

Sold
Terbakar cemburu



"Nape lo senyam-senyum, kesambet hantu toilet lo?" Sikut Kiki melihat wajah berbinar Bee.


"Idih, kepo deh.." ucapnya sembari mencubit pipi sahabatnya itu.


Apa yang membuat Bee senang? apa lagi kalau bukan sebentar lagi libur kenaikan kelas. Hampir sebulan malah liburnya, dan dia sudah berniat untuk pulang ke Pekanbaru, rindu pada ke tiga sobat gila nya, terutama rindu berat pada pujaan hatinya, Elang.


Oh..iya, juga pada ayahnya yang sudah setahun ini sama sekali tak pernah menghubunginya. Tahun lalu, saat libur kenaikan kelas dua, Bee merengek-rengek minta pulang, tapi papanya melarang, dan sekarang walau pun papa nya melarang, Bee akan tetap pulang tak bisa di tawar.


Bicara soal papanya, Bee sebenarnya sayang sekali pada Hutomo, terlebih karena hanya pria itu yang dia miliki saat ini. Dulu, papa nya begitu sayang dan memanjakan dirinya, namun setelah kepergian mama nya untuk selamanya, papa berubah. Tak pernah memperhatikan dirinya, bahkan mengajaknya bicara. Selama di Jakarta, papa nya memang mengirimi dirinya uang, langsung ke rekening tante Di, walau om Edo dan tante menolak, papa tetap memaksa, alasannya agar tidak merepotkan dan terlalu banyak hutangbudi.


Namun, belakangan ini, dari tante Di, Bee tahu papa nya mengirimkan uang dalam jumlah banyak dan meminta tante Di, untuk membeli apa pun yang dia inginkan. Mulai dari pakaian, sepatu, tas dan perhiasan.


"Tante juga kurang tahu, alasan papa kamu nyuruh tante belanja semua pakaian mewah dan perhiasan buat kamu. Ya mungkin rasa bersalahnya selama ini sama kamu. Udah syukuri aja sayang.." ucap tante Di saat Bee meminta penjelasan, mengenai barang-barang mewah yang kini berjubel menumpuk di lemarinya.


"Tapi papa dapat duit dari mana tan?harga sepatu dan tas ini puluhan juta loh?" ucap Bee masih bingung.


Kalau dulu sebulan dua kali ke salon, sekarang tante Di mengajak Bee, seminggu dua kali. Ntah itu hanya sekedar creambath. Tak ada yang bisa memungkiri, Bee sekarang memang sangat modis, dan tambah cantik.


"Jadi kan kita ke mall?" tanya Kiki sembari menyusun buku-buku nya masuk ke dalam tas.


"Tapi lo bilang hari Minggu Ki, sekalian nonton. Kok nagih nya sekarang?" sungut Bee. Ga enak nolak gadis itu, tapi dia udah janji sama Kia buat nemani ke toko buku juga.


"Iya sih, tapi hari ini gue boring nih, gabut! sekarang aja yuk, besok juga" ucapnya cengengesan.


"Yah..sorry deh Ki, gue ga bisa. Gue udah janji sama kakak lo, nemenin ke toko buku" suara Bee pelan setelah melihat ekspresi sedih Kiki.


"Lo kok gitu sih Bee, lebih milih jalan sama kakak gue dari pada sama gue?"


"Nah loh, kok nyalain gue. Eh, bakwan jagung, lo kan minta jalan sama gue Minggu, bukan hari ini. Nah kakak lo minta temenin ke toko buku, ya gue terima, salah gue dimana, oneng?" ucapnya menguyel pipi chubby Kiki.


"Pokonya gue ga terima. Lo kan sahabat gue, gue yang pertama kenal lo bukan si komedo akut itu!" salak nya. Beberapa siswa yang hendak keluar kelas karena mau pulang, sempat melirik ke arah mereka.


"Hadeh..udah lo berdua belah aja tubuh gue, ambil dah, setengah-setengah buat kalian, biar ga ribut" ucap Bee berlalu meninggalkan Kiki yang masih kesal.


Kiki berlari mengejar langkah Bee di koridor sekolah. Berjalan beriringan hingga pintu gerbang. Saat melihat Kia sudah menunggu di dekat pos satpam, Kiki ambil langkah seribu mendekati kakaknya.


"Heh, rempeyek kacang, datang ngomel-ngomel ga jelas. Nape lo?kesambet jin sekolah?" balas Kia ga mengerti.


"Heh, enak aja kamu, di sekolah ini ga ada jin ya, saya jaga kadang sampe malam di sini, aman-aman aja. Kamu jangan nakutin saya ya" salak pak satpam yang sedari tadi ikut mendengar perdebatan kakak adik itu.


Sontak keduanya menatap pak satpam, sambil cengengesan menggaruk kepala mereka masing-masing. Bee malah tertawa terkekeh melihat ketiganya. Apa jadinya dunia nya di rantau ini tanpa kehadiran dua makhluk yang telah menetap di hatinya itu.


"Udah, gini aja, gimana kalau kita pergi bertiga?sekalian malam mingguan?" ucap Bee menawarkan.


"Ga mau!" kedua nya kini kompak menjawab.


Hufffh..Bee hanya bisa menarik nafas panjang. Kedua nya keras kepala, ga ada yang mau ngalah.


"Udah, gue mau pulang aja. Tapi ingat Bee, besok lo seharian sama gue!" ucap nya mendelik ke arah sang kakak.


"Iya sayang ku..besok gue hanya milikmu seorang" ucap Bee membelai puncak kepala Kiki.


"Enak banget jadi Kiki, di panggil sayang, gue mau juga dong" celetuk Kia saat mereka sudah dia atas motor, menuju toko buku yang menjual buku-buku baru dan bekas. Bahkan banyak juga novel terjemahan yang palsu, alias photo copy yang di perbanyak.


Bee hanya mencari bank soal UAN yang akan dia bahas setelah libur nanti usai.


Selepas dari sana, Kia mengajak Bee nonton di bioskop, setelah mengantri tiket, dan Bee yang beli cemilannya mereka masuk ke studio satu, tempat film itu akan di putar.


"Kok gue ngerasa ada yang ngikutin kita ya Kya?" celetuk nya berjalan di sisi Kia, memasuki studio yang lampunya masih menyala.


"Perasaan lo aja kali neng. Maklum, lo kan sekarang model terkenal" ucapnya terkekeh.


"Apaan sih lo, ga asik banget" sikutnya yang membuat Kia semakin tergelak.


Sebenarnya insting Bee ga salah. Telat malah! Karena, semenjak malam fashion show itu, Bintang sudah meminta anak buahnya untuk mengikuti dirinya, kemana pun dan dengan siapa pun akan di laporkan pada Bintang.


Pria itu juga sudah mengetahui semua tentang gadis itu. Bahkan sedetail mungkin. Hal-hal yang menghambat nanti nya juga sudah di bereskan, hanya tinggal menunggu waktu eksekusi.


Di sudut cafe Rockstar, Bintang yang tengah asik ngobrol bersama para sahabat nya, mengepalkan tinjunya di sisi kursi yang dia duduki. Rahang nya mengeras tak kala menerima beberapa photo sang target bersama seorang pria, tengah asik menonton film di bioskop. Riko bahkan mengirimi video singkat agar Bintang bisa mengetahui apa yang tengah mereka bahas, yang membuat wajah cantik itu tertawa bahagia. Tawa yang selama ini menggema di memorinya, senyum yang menghiasi mimpi nya. Betapa menyedihkan nasibnya, memuaskan miliknya hanya dengan bayangan sang gadis, sementara pria lain bahkan bisa menyentuh tangan dan menikmati tawa riang itu. Damn!