
"Itu..itu punya kakak bisa di kecilin ga?"
Gedubrak!
Hampir saja Bintang jatuh ke lantai mendengar ucapan polos istrinya.
"Dikecilin? apa Bee yang mau di kecilin?" ucap Bintang panik. Agak-agak nya di tahu maksud omongan Bee dari tatapan Bee yang semakin ngeri dan terbebani saat melihat miliknya.
"Itu.."tunjuk Bee pake telunjuknya.
"Kenapa di kecilin?ini emang harus segini baru enak masuk nya" (pembicaraan aneh pun terjadi!😔)
"Enak apaan, bisa mampus gue kak. Itu kegedean. Ga mau ah..bisa sobek dong nanti!" Bee menari selimut menutupi tubuhnya. Mood nya hilang, kalau lah bukan karena desakan Elang untuk segera memproduksi anak, tentu dia akan memilih hari lain, ga usah terburu-buru begini.
"Ga bakal sayang. Punya kamu kan elastis. Para gadis malah senang dan nyari yang begini loh, lebih nikmat"
Tanpa sadar Bintang yang otak nya kadang nge block kalau lagi on, sudah memberitahukan masa kelam dan petualangan nya selama ini.
"Oh, jadi gitu..karena kakak udah biasa tidur dengan cewek lain, bakal sama juga dengan aku. Sorry ya, aku ga sama dengan mereka, dasar pria brengsek pecinta ************!" maki merebahkan dirinya dengan selimut yang membelit seluruh tubuhnya.
Bintang bego, ngomong ga di saring dulu!
"Bee.." Bintang yang sudah berada di sampingnya mencoba menarik selimut yang di tahan di atas kepala.
"Bee..sayang..buka dong. Aku minta maaf, bukan maksud aku nyamain kamu sama gadis lain, sumpah gada kepikiran begitu"
"Ga mau. Aku mau tidur, udah kakak pergi sana" Bee tetap bertahan dengan selimutnya.
Masih terus berusaha membujuk, Bintang menarik pelan selimut itu. "Terus buat dede bayi nya?"
"Pending!"
"Jangan dong sayang..aku udah pengen banget, sakit lagi Bee udah di ujung, malah ga jadi" rengek Bintang memohon.
"Bodo!"
Bintang sudah mulai putus asa, kalau sampai malam ini gagal ngenalin Pinokio sama Bee, bisa ngambek dia, bisa buat sakit kepala. "Kasihan Pinokio dong Bee, udah pengen banget nih"
Dalam selimut nya, Bee berpikir sesaat. Siapa lagi pinokio?
Dengan penasaran, Bee membuka selimutnya hingga batas leher. Berjaga-jaga kalau ini cuma jebakan Bintang. Dia kan predator, punya segudang taktik. "Pinokio siapa lagi tuh?"
Senyum Bintang kembali terbit setelah kepala Bee muncul dari balik selimut. "Alat pembuat anak" masih dengan wajah konyolnya.
Tuh kan benar, Bintang udah ngerjain dia. Bee kesal dan akan kembali menutup selimutnya, namun tangan Bintang menahan. "Bee aku kesakitan banget sayang. Kasihan napa sama suami sendiri. Udah lama nih ga di service si pino."
"Ga urus deh kak, pokoknya malam ini aku ogah buat iya-iya sama kakak!"
"Kepala aku pusing banget Bee, sakit" Bintang sudah mulai akting. Memijat keningnya yang memang sedikit sakit. Saraf nya tegang memang benar. Apa lagi tadi udah sempat pemanasan.
"Beneran sakit kak?" rasa khawatir terlukis jelas di wajah Bee. Dia pernah dengar, seorang pria harus mengeluarkan nya jika sudah di ujung, kalau ga bisa sakit kepala.
Merasa mendapat angin surga, Bintang memanfaatkan kepolosan Bee.
"Ya sakit lah Bee, ini aja aku nahan sampe ga bisa nafas" Bintang tertunduk menutup seringai nya yang tersenyum licik.
"Ya udah, ayok deh"
Yes! congrat pino, lo beruntung banget malam ini bisa membobol gawang..
Tak ada waktu yang di biarkan sia-sia. Bintang sudah kembali mel*mat bibir itu, ikut masuk ke dalam selimut.
Hawa tubuh Bee menjadi panas, seakan siap terbakar hanya karena merasakan sentuhan Bintang.
"Sayang.." racu Bintang, masih dengan nafas memburu, mencercap leher Bee turun ke bawah, menciumi setiap jengkal perutnya. Sedikit lagi, Bintang akan sampai di titik tujuannya, ingin mencium milik Bee, tapi tangan gadis itu menahan. Mendesah gelisah" kak, jangan..aku malu"
"Jangan malu Bee, kamu cantik.. sempurna" ucap nya kembali mel*mat bibir itu, dan tangannya sudah bergerilya ke bawah.
Bee sudah basah. Siap menerimanya. Perlahan Bintang berlutut di antara paha Bee. Gadis itu benar-benar cantik. Bintang tahu Bee gugup dan sedikit takut, karena nya mencoba membuat tubuh gadis itu rileks.
Mengurus dan membelai daun telinga dan menciumi agar memberi efek rangsang, setelah di rasa Bee sudah mulai enjoy, Bintang yang masih membalas ciuman Bee yang mulai terbuai menyatukan tubuh mereka. Perlahan..dan sangat lembut. Bintang tak ingin tergesa-gesa walau pun dirinya sebentar lagi akan meledak. Bee sungguh nikmat.
"Aaach..sakit kak. Makanya, jangan gede-gede" rintihan tertahan Bee di mulut Bintang saat Pino mencoba masuk. Wajah Bee begitu kesakitan.
"Sakit ya sayang..sabar ya Bee, aku janji sakitnya cuman sebentar sayang.." Bintang menciumi kembali leher daun telinga dan membelit lidah gadis itu.
Perjuangan yang begitu menyiksa. Selama ini Pino masuk tanpa ada palang pintu, dan baru kali ini untuk memasukkan kepala si pino aja, Bintang udah keringatan.
Mencoba sekali lagi merobek selaput milik Bee, masih gagal. Bintang tak tega melihat wajah penuh kesakitan istrinya. "Kakak cepetan, sakit kak..itu Pino dikasi makan apa sih kok bisa se gede itu.."ringis Bee menahan perih di bagian intinya.
Hah? dikasi makan apa? di pupuk dengan penantian akan dirimu sayang..
"Iya sayang.." dengan dorongan dan sedikit sentakan, Bintang berhasil menerobos masuk, diiringi ringis an tertahan Bee.
Bintang masih diam setelah berada di dalam. Memberi waktu untuk Bee menerima serangan yang lebih dahsyat lagi. Menetralkan rasa sakit itu sesaat. Lalu mulai memompa perlahan hingga Bee menjadi gila mendamba hujaman Bintang yang semakin dalam masuk dalam dirinya, mengoyak seluruh kesadarannya, yang tersisa hanya rasa nikmat yang menggerogoti jiwa.
"Kak..kakak..aku..oh..kakak.." racu Bee memohon. Ada sesuatu dari dalam dirinya yang akan meledak.
Sakit yang berganti nikmat semakin nikmat seiring pompaan Bintang.
Bintang menatap wajah merah Bee yang begitu terbakar oleh birahi yang meledak-ledak. Bahkan Bintang belum pernah merasa kenikmatan seperti ini. Tenaga nya begitu terkuras, namun masih nagih tak ingin berhenti.
"Ah..kakak ada yang mau keluar.." racu Bee, menggeleng kan kepalanya ke kiri dan ke kanan saat Bintang terus memompa, bahkan Bee bisa merasakan benda tumpul itu menghujam hingga ke rahimnya yang terdalam. Ledakan itu akan segera meledak, Bintang terus memompa semakin cepat. Keringat keduanya bercucuran walau suhu pendingin sudah 16 derajat.
"Kakak.."
"Iya sayang..kita barengan ya.." dan kalimat itu di tutup dengan ledakan lava saat keduanya bersamaan menuju puncaknya.