Sold

Sold
Jadwal periksa



Seluruh ruangan yang di datangi nya sudah kosong. Kinan sudah berangkat kerja. Yang membuat hati Piter semakin merasa bersalah bagaimana pun dia memperlakukan Kinan tadi malam, wanita itu tetap memperhatikannya. Menyiapkan pakaian dan kini sarapan.


Piter tahu, dia sudah sangat keterlaluan malam itu. N*fsunya sudah mengambil alih akal sehatnya. Bayangan Kinan yang t*lanj*ng di bawah tubuh nya membuatnya tidak bisa menguasai diri. Tanpa disadarinya kebersamaan mereka selama dua bulan ini sudah membuat Piter mulai menyukai Kinan. Menganggapnya ada, bahkan saat wanita itu pulang lama, dia akan gelisah menunggu di apartemen. Tidak ada lagi acara pulang larut malam. Dia lebih suka berdua menonton acara teve bersama Kinan walau keduanya hanya diam.


Amarah yang menguasainya tadi malam, memang membawa dirinya ke pelukan Kirei. Bahkan Piter merespon setiap sentuhan Kirei. Tapi saat miliknya sudah siap dan telah di pasang sarung dengan varian rasa strawberry kesukaan Kirei, hasrat Piter seketika hilang saat melihat wajah Kirei justru yang tampak adalah wajah Kinan. Terbayang rasa sakit dan sedih gadis itu. Dan Piter menebak kini gadis itu pasti sedang menangis.


Pemikiran itu lah yang membuat Piter tidak melanjutkan acara bercocok tanam dengan Kirei. Reaksi Kirei tentu bisa di bayangkan. Pertengkaran terjadi. Dia merasa sangat terhina karena tidak bisa membuat Piter berhasil meniduri nya.


Dia marah pada Piter. Tapi lebih dendam pada Kinan, yang di duga nya alasan Piter meninggalkannya di tengah permainan panas mereka.


Satu ketakutan yang kini menyerang Kirei, dia takut Piter akan betah di sisi istrinya dan tidak akan datang lagi ke pelukannya. Dan itu adalah ancaman kesejahteraan nya. Tidak, dia tidak akan membiarkannya.


Untuk menebus rasa bersalahnya, Piter menghabiskan semua yang di siapkan Kinan untuknya, lalu membersihkan piring bekas makan dan tidak lupa membersihkan tempat tidur mereka. Hal yang tidak pernah Piter lakukan.


Secarik kertas di tempel di depan pintu kulkas. Pesan dari Kinan.


'Hari ini jadwal periksa ke dokter kandungan. Jika kau mau, kau bisa menemaniku melihat bayi ini. Aku akan langsung ke rumah sakit'


Piter mengambil memo itu. Melihat alamat rumah sakit dan satu baris senyum tersungging di bibirnya.


Antrian itu sudah panjang saat Kinan tiba. Miliknya sendiri sudah ada di urutan ke dua ketujuh belas. Tapi mengingat dia akan bertemu buah hatinya, perasaan bosan dan juga kesal itu hilang. Hanya saja karena banyak nya kerjaan di kantor, hari ini dia belum maka. nasi. Hanya dia gelas susu hamil dan biskuit. Dia tahu, dia sudah bersalah pada bayinya. Tapi kalau harus pergi makan, dia takut akan jadi nomor terakhir nanti.


Satu persatu pasangan yang tengah menanti kelahiran buah hati mereka keluar masuk dari ruang praktek dokter. Untuk keempat kalinya, Kinan melirik ke arah pintu masuk, sosok yang di harapkan nya tidak juga muncul yang memupuskan harapannya.


Ga papa ya dek, ketemu bunda aja dulu. Paa lagi sibuk jadi ga bisa lihat adek..


Berulang kali Kinan menghapus-hapus perutnya, mencoba mengajak bayi nya bicara.


"Sendiri aja mbak? suaminya ga nemenin?" sapa wanita di samping Kinan yang juga sedang menunggu giliran.


"Oh..iya mbak. Papa nya lagi sibuk. Kali ini saya aja" sahutnya menunduk. Wanita itu tampak bahagia dengan kehamilan, hal itu tampak dari wajah nya yang selalu penuh senyum. Suaminya juga tidak henti membelai punggung sang istri.


Dia ingin juga di perhatikan seperti itu. Tapi sama siapa bisa dia tuntut perhatian? Piter? jangan mimpi Kinan.


"Udah berapa bulan mbak?" wanita itu terus mengajak Kinan berbincang, tidak perduli wajah Kinan yang sudah menjelaskan dia sedang tidak ingin di ajak ngobrol.


"Tiga bulan mbak." Coba tetap tersenyum walau hati dongkol.


"Iya, tapi suami saya.."


"Maaf sayang, aku terlambat" suara bariton Piter dari belakang membawa Kinan memutar tubuhnya. Dia ada di sana. Datang untuk nya, dan juga untuk bayi mereka. Masih belum lepas dari keterkejutan nya, Piter sudah menambahi dengan mencium puncak kepala Kinan lalu duduk di sampingnya.


"Antrian nomor berapa?" tanya nya masih tidak perduli dengan wajah Kinan yang bengong, menarik kertas nomor antrian dari selipan tangan Kinan.


"Mas suaminya ya? kok tega biarin si mbak nya kerumah sakit sendirian? masa kehamilan trimester pertama itu harusnya suami lebih perhatian" celoteh si wanita tadi.


"Iya mbak. Harus nya memang begitu. Maaf ya sayang" ucapnya membelai wajah Kinan yang terdiam. Tubuhnya bahkan kaku terkejut akan reaksi Piter.


Dia tidak menyangka Piter akan datang. Pertengkaran mereka tadi malam bukan kah sangat fatal?


"Maaf aku terlambat. Ada hal yang harus aku urus dulu tadi" bisik nya masih merangkul pundak Kinan.


Ini kali pertama Piter melihat layar empat dimensi itu. Hanya berupa gumpalan yang secara kasat mata tidak di mengerti. Tapi dokter menerangkan gambar itu hingga perasaan Piter menghangat. Itu adalah bayinya yang sedang bergerak-gerak dalam perut Kinan. Darah dagingnya.


Kemana saja dia selama ini, baru menyadari makhluk di dalam sana bisa menumbuhkan perasaan hangat. Tanpa sadar, Piter menggenggam tangan Kinan dan membawanya ke bibirnya.


Bibirnya memang tidak mengatakan apa pun tapi Kinan tahu, Piter ingin mengucap terimakasih nya dan menyesal telah tidak memperdulikan bayi mereka selama ini.


"Bayi nya sehat. Berat nya juga sesuai dengan usia kehamilan ibu" ucap sang dokter menjelaskan.


"Ada yang perlu di tanyakan lagi?" sambung dokter setelah menjelaskan pada pasangan itu.


Kinan tampak diam. Dia sudah paham dengan semua yang diterangkan dokter. Dia juga sering mencari artikel seputar kehamilan.


"Tanya saja. Jangan sungkan. Bapak mungkin ada yang mau di tanya? mungkin masalah berhubungan badan? boleh. Asal pelan-pelan. Bahkan nanti di kehamilan trimester ketiga, sangat dianjurkan untuk melakukan hal itu. Jangan di tahan ya pak, Bu. Kasihan bapaknya" ucap sang dokter yang membuat Kinan malu.


Masih pukul sembilan saat mereka keluar dari parkiran rumah sakit. Piter masih menggenggam tangannya seolah takut hal buruk akan menimpa Kinan.


"Kita makan ya. Kau pasti belum makan kan? aku juga lapar" ucapnya lembut yang samar di angguk oleh Kinan.


Kinan makan dengan lahap. Setiap cubitan ikan yang di letakkan Piter di atas piring nya dengan cepat di lahapnya. Hatinya gembira. Ini lah mungkin perasaan yang di rasakan wanita tadi, saat di perhatikan sang suami. Dan Kinan kini bisa merasakan nya.


"Terimakasih" bisik nya menatap Piter dengan suara bergetar.