Sold

Sold
Bertahan



Penuh emosi Bintang mendatangi kedua wanita yang tengah duduk di ruang tamu. Wajah Bintang tampak memerah menahan amarah. Setelah Bee dan Kinan keluar, Bintang terpaksa harus mandi lagi, mendingin kan kepala atas dan bawah nya.


Dengan sikap dingin Bintang duduk di depan keduanya sembari melayangkan tatapan pada Kinan. Kalau bukan mengingat dia adalah adik iparnya, Bintang pasti sudah menyeret nya keluar.


"Kau kenapa masih disini sih? kau ga pulang? suamimu mana? kau ga dicariin?" pertanyaan Bintang menandakan ketidaksukaan nya akan kehadiran Kinan di rumahnya.


"Piter lagi ke Surabaya. Besok baru pulang. Aku udah izin, malah katanya aku boleh kok nginap di sini" sahut Kinan polos.


"Bee..." Bintang meminta penjelasan pada istrinya selaku nyonya rumah. Kenapa menerima tamu di rumah mereka tanpa seizin dirinya.


"Kamu mau nginap disini Nan?" Bee juga ikut terkejut. Pasalnya sejak siang tadi, Kinan tidak mengatakan apa pun mengenai rencananya menginap disini. Dia belum meminta pelayannya mempersiapkan kamar untuk Kinan.


"Iya, bolehkan?"


"Boleh.. iya boleh kok" sahut Bee sembari mengangguk.


"Bee.." kembali Bintang meminta penjelasan atas sikap Bee yang menyetujui rencana Kinan untuk menginap malam ini.


"Kak, kedatangan Kinan kemari, karena ada satu hal yang ingin dia sampaikan. Dia.."


"Biar aku aja Bee.." potong Kinan cepat. Berbatuk dua kali guna membersihkan tenggorokannya sebelum berbicara pada Bintang.


"Begini tang, aku ke sini mau meminta izin untuk merawat salah satu putri kalian sebagai pancingan agar aku bisa cepat hamil" jantung Kinan berdegub kencang. Dia sadar tidak mudah menghadapi seorang Bintang. Terlebih dengan urusan begini.


Kening Bintang berkerut, menatap bingung pada Kinan lalu mencari penjelasan di wajah Bee seolah pada wajah istrinya tersimpan keterangan akan masalah ini.


"Gimana Tang? boleh ya? aku mohon"


"Kau ini bicara apa? apa kau sudah gila ya?" hardik Bintang dipenghujung sabarnya.


"Aku ga gila. Aku waras dan sadar betul atas apa yang aku katakan. Aku ingin merawat anak kalian seperti anak aku sendiri" Kinan mulai menangis. Perasaannya mengatakan kalau Bintang tidak akan setuju.


"Kasihanilah aku tang. Biar kan aku merawat salah satu dari mereka, agar aku bisa cepat hamil"


"Dasar sarap! kalau kau mau cepat hamil, minta suamimu menghamili mu, apa kau kira bayiku bisa menghamili mu?" salak Bintang semakin marah. Perkataan Kinan tidak masuk akal, dan parahnya Bintang membalas perkataan itu dengan kalimat gila juga.


"Kak.." hardik Bee tidak suka cara bicara Bintang yang kasar pada Kinan. Tangis Kinan semakin pecah, harapannya pupus.


"Tolonglah aku Tang, aku janji akan mengembalikan anak kalian setelah aku hamil nanti"


"Anak aku bukan barang untuk dipinjam-meminjamkan. Lagi pula, mereka kembar Nan. Ga mungkin memisahkan mereka" ucap Bintang mencoba menelan kembali lava amarahnya karena mendapat pelototan tajam dari Bee.


"Bee, gimana dong. Kamu kan udah janji mau menyerahkan anak kamu untuk aku rawat" lelehan air mata Kinan semakin deras mengucur di pipi.


Titik air mata di pipi Kinan dihapus Bee dengan tisu. Mengusap lengan wanita itu agar dapat tenang. "Udah dong Nan, jangan nangis lagi. Nanti kamu sakit"


"Tapi gimana urusan ini? kamu udah janji Bee" desak Kinan.


"Aku janji akan membicarakannya dengan Bintang, tapi aku juga bilang, kalau Bintang tidak setuju, kamu ga boleh marah"


Isak tangis Kinan semakin menjadi-jadi. Kini Bee juga tidak ada dipihaknya. Lewat mata Bee menuntut tindakan Bintang menyelesaikan masalah ini. Bintang hanya menaikkan dua bahunya sebagai tanda angkat tangan.


Lama Bee berpikir ditengah kekalutan pikirannya dan menghadapi tangis Kinan yang tidak mau berhenti.


Susah payah membujuk, akhirnya Kinan mau masuk kamar. Bee bahkan menemaninya hingga terlelap bak anak kecil.


"Gimana? udah tidur dia?" tanya Bintang yang menunggu di kamar.


Bee mengangguk sebagai jawaban "Kak, aku mohon jangan terlalu kasar dengan Kinan. Selain karena dia juga adalah seorang wanita, Kinan juga iparmu kak" ucap Bee mengoles rentetan skin care ke wajahnya.


"Aku malas banget menghadapi kenaifan dia yang, ada-ada ajalah. Masa iya biar hamil pinjam bayi orang. Oh iya yang, aku udah putuskan nama putri-putri ku" ucap nya duduk tegak di atas ranjang. Tampak wajah nya sangat bersemangat.


"Siapa?"


"Audrey Siena dan Aurora Siera" ucapnya sumringah.


"Bagus"


"Kau suka yang?"


"Suka, bagus kok" Bee merangkak naik berbaring di samping suaminya. "Apa yang harus kita lakukan kak untuk masalah Kinan?"


"Suruh aja dia pulang besok"


"Aku ga mau kakak bersikap kasar padanya. Cobalah mengerti akan kesedihan hatinya. Aku seorang wanita, aku paham perasaan dia yang merindukan sosok seorang anak" ucap Bee mendongak menatap wajah suaminya.


"Iya, tapi ga berarti aku harus memberikan anak ku. Please sayang, aku ga mau didebat. Aku ga akan menyerahkan anakku apapun alasannya" Bintang mengeratkan pelukannya. Meletakkan dagunya di puncak kepala Bee.


Bintang bukan tidak iba pada penderitaan Kinan. Dia pun merasa kasihan, tapi untuk menyerahkan darah dagingnya pada orang lain, tidak akan pernah dia lakukan. Dulu juga saat hubungan dengan Bee buruk, ibu meminta agar memberikan Saga untuk dirawatnya, tapi Saga menolak karena sejati seorang anak akan lebih nyaman bersama orang tua kandungnya.


"Gini aja, besok aku hubungi ibu, agar datang menasehati Kinan, siapa tahu pikirannya bisa lebih terbuka"


***


Pagi datang, Kinan sudah ada ruang bayi saat Bee masuk untuk membawa mereka berjemur sebelum memandikan bayi-bayinya. "Nan, kamu udah bangun"


"Iya Bee, aku ingin mulai merawat bayi-bayi ini" Bee hanya tersenyum kecut. Ternyata istirahat satu malam tidak membuat Kinan mengerti dan menyerah atas keinginannya. Malah wanita itu tampak semakin yakin akan keinginannya.


Kedua wanita itu pun membawa Siena dan Siera berjemur di halaman samping rumah dekat kolam renang.


Untuk mengurus masalah ini Bintang bahkan tidak masuk kerja. Pukul sepuluh ibu langsung datang ke rumah Bintang. Tepat seperti dugaan Bintang, ibunya sependapat dengannya, menasehati Kinan, agar melupakan keinginan.


"Percayalah Nan, suatu hari kau akan menjadi ibu, kau harus bersabar" ucap ibu membelai punggung Kinan. "Pulanglah, kasihan Piter pulang dari Surabaya nanti tidak menemukan di rumah"


"Maaf bu, aku tetap ingin disini. Kalau pun Bintang tidak setuju aku membawa Siena atau Siera, maka aku akan tinggal di sini, agar bisa tetap dekat dengan mereka"


*Hai, jangan lupa ya, tetap dukung novel terbaru aku, makasih 🙏😘



Dan untuk koleksi, yuk mampir di karya author berbakat ini, terimakasih 🙏😘