Sold

Sold
Pria yang berkuasa



Kedua nya masih diam, yang satu sedang menatap tajam, yang di tatap tajam menunduk, sesekali melirik kiri dan kanannya. Rasa nya tatapan Bintang bisa menyayat lehernya hingga dia sekarat.


Itu sudah terlalu lama hanya untuk saling diam. Bee memilih untuk memperjelas keadaan yang tidak menyenangkan ini.


"Ada apa lu manggil gue?" suara nya di buat se biasa mungkin, walau dalam hatinya ada rasa takut.


Salah gue apa sih? kok kayak lagi di hakimi gue lewat tatapan nya?


Panik ga? panik lah, masa enggak!


"Bintang, kok lu diam sih? kalau ga ada yang mau lu omongin, gue pulang nih" suara Bee sudah mulai melembut. Sumpah, Bintang seram amat dengan tatapan nya.


Bee sempat melirik, tetesan darah yang mengucur dari jari Bintang. Ada rasa khawatir dalam hati nya, tapi untuk bertanya, dia juga ga berani.


"Kamu dari mana?"


"Hah? apa?" ulang Bee ga fokus.


Kok nanya gue dari mana, emang lu siapa? bapak gue? nikah aja belum, udah mau ngatur hidup gue lu?!


"Aku tanya kamu dari mana?"


"Jalan sama Elang" ucap nya tanpa bersalah. Memang ngerasa ga bersalah kan dia nya! Bintang masih mengerem emosinya. Segamblang itu Bee mengatakan nya tanpa memikirkan perasaan Bintang. Bagaimana pun dia juga laki-laki, punya harga diri.


"Dengan pakaian begitu, kamu lebih ingin menjual diri" ucap nya penuh penekanan. Kepalan tangannya semakin mengencang.


Sama hal nya dengan Bee, dia merasa terluka dianggap menjajakan diri, walau pun dia memang menjual dirinya pada pria itu. Sekuat tenaga Bee menahan desakan bulir kristal yang ingin menetes di pipinya.


Ga, jangan nangis Bee, jangan buat iblis ini bahagia melihat lu nangis!


"Pas dong, aku kan memang wanita yang sudah menjual dirinya padamu, aku wanita murahan, yang menawarkan tubuhnya untuk mu!" raung Bee, memuaskan amarah nya.


Gayung bersambut. Amarah dibalas amarah. Pertahanan Bintang jebol. Amarah yang sedari tadi di tahan, tak bisa di bendung lagi.


"Baik, karena kau yang mengatakan hal itu, sekalian kita lakukan saja!"


Belum sempat menyadari maksud ucapan Bintang, tubuh Bee sudah di papah bak karung beras di pundak Bintang.


"Lepasin gue br*ngsek! turunin gue. Mau kemana lu bawa gue, b*ngsat!" umpat Bee terus meronta-ronta. Rasa paniknya semakin menjadi-jadi, saat Bee sadar dia sudah di bawa ke kamar. Bintang menghempaskan tubuh wanita itu dengan kasar ke atas tempat tidur, lalu berjalan mengunci pintu.


Bee menatap semua yang di lakukan Bintang. Aura pria itu berbeda. Sangat menakutkan. Seolah rasa sakit yang sudah menumpuk yang pria itu rasakan ingin di lampiaskan saat ini.


"Berdiri" hardik nya pada Bee, sementara dirinya duduk di sofa mengangkat satu kakinya dan menumpukan nya di atas lutut kaki yang lain.


"Kau dengar ucapan ku kan, berdiri" semakin garang terdengar suara Bintang, semakin ciut pula nyali Bee.


Masih dengan rasa takut, Bee berdiri. "Buka semua pakaian mu, tanpa terkecuali!" Mata Bee membulat.


"Buka aku bilang!" bentak Bintang dengan amarah sampai ke ubun-ubun.


"Aku ga mau" bantah nya dengan berteriak, tak ingin Bintang tahu sebenarnya dia ketakutan sekali.


"Aku bilang buka semua. Bukan nya kamu yang bilang, kamu sudah menjual tubuh mu pada ku, jadi aku ingin lihat barang yang sudah aku beli dengan harga tinggi!"


Nyes!


Sakit. Sakit sekali di rasa Bee di balik dada nya. Seolah uluh hati nya di hujam benda tajam mendengar ucapan Bintang.


"Aku tidak akan mengulang perintah ku lagi Bee!" salak nya bak petir.


Bee pasrah. Perlahan dia membuka gaun nya, menjatuhkan gaun itu tepat di kakinya. Bintang bak binatang buas saat melihat tumpukan benda kenyal yang masih dilapisi kain berwarna hitam, begitu pun bagian diantara sela paha gadis itu. Tubuh putih mulus dengan bentuk tubuh sempurna, Bee memang memikat. Tak akan ada pria yang bisa berpaling saat melihat gadis itu.


"Tanggal kan semua nya Bee!" ucap Bintang susah payah, begitu berat bahkan hanya untuk menelan saliva nya.


"Aku ga mau" bantah nya tetap bertahan.


Tapi apalah gunanya pertahanan tanpa adanya kekuatan untuk melawan. Bintang sudah menerjang, tubuh Bee sudah berbaring di bawah tubuhnya.


Membabi buta Bintang menciumi tubuh gadis itu. Mel*mat bibir yang di beri lipstik merah menyala. Dengan rakus menj*lati dan memaksa masuk ke dalam rongga mulut Bee, mencari lidah yang dulu pernah dia hisap hingga membuatnya ketagihan.


Pertahanan Bee tak kuat, lidah pria itu berhasil menerobos masuk, memb*lit lidah Bee, mengh*sap kuat, lalu mel*mat lagi bibir gadis itu dan dengan geram menggigit sudut bibir Bee hingga mengeluarkan darah segar.


Puas dengan bibir, Bintang sudah menjelajah ceruk leher Bee. Memberi tanda merah di tulang selangka nya, menjilati tiada henti. Bintang sudah kecanduan, emosi nya bercampur dengan nafsu yang dia bendung selama ini.


Pengaruh Bee sangat kuat. Setelah ciuman pertama mereka, Bintang bahkan tak selera tidur dengan wanita lain. Beberapa dari mereka hanya membantu pria itu, dengan memberikan pijitan pada jagoannya dengan mulut manis mereka.


Bintang kini mengambil alih semua nya. Entah sejak kapan, b*a hitam itu sudah terlepas, sekilas di tatap puncak kemerahan itu sebelum **********.


Isak tangis dan ronta an Bee tidak lagi diperdulikan. Bintang sudah kesetanan, di kuasai nafsu.


"Aku mohon Bintang, jangan lakukan ini pada ku..aku akan berikan tubuhku, tapi jangan perlakukan aku bak pelacur.." tangis Bee memecah keheningan malam, membuat hawa di kamar itu semakin panas.


Isak tangis itu lah yang akhirnya menyadarkan Bintang. Dia sudah bertindak terlalu jauh. Niat menghukum gadis itu, membuat nya berbuat sejauh itu.


Di tatapnya mata Bee yang juga melihat nya sambil terus menangis. Hati nya sakit. Tapi kali ini karena melihat air mata Bee yang turun karena perbuatannya yang mencoba menggagahi gadis itu.


"Maaf kan aku sayang..aku begitu di kuasai amarah saat melihat mu bersama pria itu, bahkan dia mencium kening mu" ucap Bintang menarik tubuh Bee dalam pelukannya.


Tak ada jawaban, hanya tangis Bee yang terdengar, begitu pilu. Bee merasa sakit hati atas perlakukan Bintang padanya, tapi aneh nya pelukan pria itu justru membuatnya tenang dan nyaman.


Pria itu yang sudah menyakiti nya, tapi justru pelukan pria itu yang mengobati luka hatinya.