Sold

Sold
Ada dalam rencana mu



Parhelatan Akbar sudah selesai. Pengantin baru yang tidak baru lagi itu pun bertolak ke Spanyol.


Sebenarnya Piter tidak ingin menerima hadiah tiket dan akomodasi dari Bintang, justru rencana nya dia ingin membawa Kinan ke raja Ampat Papua, tapi Kinan menasehati untuk tidak menolak rejeki dan kebaikan orang lain, apa lagi ini adalah pemberian Abang nya.


"Biar lo tahu dimana lokasi syuting film nya si tomingse.." ucap Bintang kala menyerahkan tiket pesawat beserta booking hotel dan list tempat yang harus mereka jalani.


Dahi Piter mengkerut. "Siapa tomingse?"


"Ga tahu. Itu tempat pilihan Bee, dan lo sebagai adik ipar, harus nurut apa kata kakak ipar dong. Lagian buat istri gue senang itu dapat pahala loh" ucap nya berdiri.


"Lo mau pulang bang?"


"Iya lah. Ngapain gue di sini lama-lama. Yang ada gue empet liat muka lo. Emang kenapa?"


"Kagak. Gue kira lo nunggu di usir!" timpalnya melepas tawa. Tidak perduli dengan selimut yang menutupi pinggangnya terjatuh ke lantai.


"Sue lo! Lihat noh, biji lo pada kemana-mana. Cabut gue!"


Bintang sudah menutup pintu kamar hotel saat gema tawa Piter masih juga belum berhenti.


"Nan, udah ngumpetnya. Keluar gih, Abang gue udah pergi"


Mengingat momen yang sangat awkward membuat Kinan masih belum berani keluar dari persembunyian nya. Piter baru saja akan memasuki landasan, saat pintu hotel di gedor dengan kasar. Kata tunggu tampak nya tidak ada dalam kamusnya. Terus saja pria tidak sabaran di luar sana menggedor. Piter terpaksa mencabut kembali senjatanya yang masih tegak, lalu menarik lapisan seprei untuk menutupi hanya bagian tubuh nya yang


masih tegak. Sementara Kinan, pontang panting lari ke kamar mandi.


Dari suaranya Kinan sudah bisa menembak itu adalah Bintang. Yang tidak dia mengerti adalah alasan pria itu pagi-pagi begini datang mengetuk dengan tergesa-gesa. Kinan takut terjadi sesuatu hal buruk pada Ibu.


***


"Loh, kok pulang kak? ga jadi ngantor?"


"Malas" ucap Piter membuka sepatunya dan melempar ke sembarang tempat.


"Tiket sama akomodasi hotel dan yang lainnya sudah kakak kasih sama mereka?" tanya Bee memungut sepatu dan kaos kaki Bintang. Selalu begitu, walau sudah sering kali Bee mengingatkan untuk menyimpan sepatu pada tempatnya, tapi Bintang adalah Bintang, pria yang melakukan apa pun sesukanya.


"Udah. Justru karena itu aku pulang"


Bee tidak mengerti. Apa hubungannya mengantar kado mereka dengan bolos kerja? Tapi itu hanya beberapa menit, karena saat melihat pria besarnya membuka kemeja nya dengan tergesa-gesa, paham lah dirinya.


Pertarungan itu seperti biasa panas dan membakar keduanya. Niat untuk membersihkan diri sehabis pergulatan yang menguras keringat, malah menjadikan kamar mandi untuk mengulang kenikmatan itu.


"Bee, tomingse itu siapa?" tiba-tiba Bintang ingat pertanyaan Piter.


"Oh, ga papa. Baru dengar. Bukan laki-laki yang pernah ngedekatin kamu kan?" ada nada cemburu terselip di sana.


"Hahaha..ga lah kak. Dia juga ga kenal sama aku. Aku cuma fans berat dia"


"Oh iya kak, aku udah dapat ruko tempat aku buka praktek. Aku juga udah tanya uang sewa nya, 30 juta satu bulan" terang Bee masih terus menyisir rambutnya di depan cermin rias nya. Bintang yang baru mengeringkan rambutnya melempar handuk kecil itu ke atas tempat tidur, dan menarik sisir di tangan Bee dan menggantikan Bee menyisir rambut.


"Kau suka tempatnya?"


Bee mengangguk cepat, menatap wajah tampan suaminya melalui cermin yang ada di hadapannya.


"Kenapa harus di sewa, besok aku akan beli tempatnya. Udah selesai" Bintang mengecup puncak kepala Bee.


"Aku ga mau kak. Aku mau merintis semua nya dengan tabungan aku, dengan usaha aku sendiri. Aku udah perhitungkan, kalau aku bayar sewa nya, serta membeli peralatan nya, aku masih punya sisa tabungan lagi buat dana cadangan" Bee mengikuti suaminya yang naik ke atas tempat tidur. Bee duduk berhadapan dengan Bintang di tengah kasur.


"Aku paling ga suka, kau selalu tidak memasukkan ku dalam semua rencana mu" Bintang meraih ponselnya, hanya sekilas lalu membuang kembali ke tempat tidur.


Ucapannya beralas. Setelah Bee mendapat ijazahnya, gadis itu mengurus sendiri Surat izin prakteknya. Itu pun tanpa terlebih dahulu mengatakan pada Bintang. Tapi Bee bukan sengaja. Bee melakukannya karena tidak ingin merepotkan Bintang yang belakangan ini kewalahan mengurus kerjaannya. Belum lagi asistennya yang membantu mengurus perkebunan sawit nya memberitahu kalau banyak nya hasil panen mereka yang hilang.


Lagi pula, Bee yakin dirinya bisa menyelesaikan semuanya. Pagi-pagi dia sudah berangkat ke Dinas kesehatan untuk mengurus berkas dan surat izin. Lalu besok nya mencari tempat untuk diri nya buka praktek.


Permohonan Bee yang di tujukan kepada kepala Dinas kesehatan kota memerlukan waktu hampir dua Minggu. Jadi kini Bee fokus untuk mencari asisten, perawat serta semua peralatan yang dia butuhkan.


"Aku minta maaf, tapi aku bukan tidak menganggap mu. Aku hanya tidak ingin merepotkan mu dengan hal kecil yang masih bisa aku urus sendiri" ucap nya menangkup wajah Bintang dan menguyel-uyel sesuka hatinya.


"Jadi apa peran ku sebagai suami? kau sudah janji Bee kalau aku mengizinkan mu untuk buka praktek, tapi prioritas utama kita adalah kasih adek untuk Saga lagi" Bintang menatap Bee.


"Iya sayang, kita juga kan udah berusaha. Tinggal nunggu di kasih sama Tuhan. Jangan ngambek dong kak" ucap Bee melepas senyum nya.


"Tapi aku yang beli tempat nya, itung-itung sebagai hadiah kamu mau buka praktek" Bew tidak ingin memperkeruh keadaan, dia langsung mengangguk setuju. Lagi pula, tidak apalah, toh yang beli suaminya juga.


Bee yang sekarang sudah banyak berubah. Dia lebih penurut dan juga lebih sabar. Entah sudah dimana Bee yang dulu plin plan dan sangat membenci Bintang.


Pertengkaran di rumah tangga mereka pun kini sudah jarang terjadi. Hal yang mungkin bisa memicu amarah gadis itu paling hal remeh, semisal kegemaran Bintang yang meletakkan apa pun yang dipegangnya dengan sembarangan. Walau sudah berkali-kali memperingatkan, tapi Bintang tetap saja lupa.


Pernah suatu kali, Bintang berteriak memanggil Bee untuk menanyakan bantal nya basah. Bee rasa nya ingin mencubit sekuat mungkin perut pria itu, tapi yang bisa dia lakukan justru menjelaskan dengan penuh sabar.


"Itu basah karena tadi kakak meletakkan handuk di sana" ucap Bee dengan wajah judes. Hal remeh-temeh yang hampir setiap hari terjadi itu mewarnai rumah tangga mereka. Bintang semakin manja terhadap Bee.


Kadang, saat Bee sibuk di dapur dan tidak mendengar telepon darinya, Bintang akan ngambek, menekuk wajahnya saat pulang dan mendiami Bee. Tapi itu hanya bisa bertahan tiga puluh menit. Saat Bee memeluknya, bayi besar itu akan kembali ceria.


"Lama-lama kamu udah kayak anak gadis kak, suka ngambek" ledek Bee memeluk Bintang dari belakang.