
Kata orang Cinta itu buta. Akan sulit membedakan benar dan salah kala terjerumus dalam lautan cinta. Mungkin itu yang kini di rasakan Hana. Dia tahu Bintang sudah menikah, punya anak dan tidak lah bijak jika dia mengharapkan Bintang akan meliriknya. Tapi kembali lagi, hati nya menguasai akal sehatnya.
Demi mengikuti perasaannya, harga dirinya DDI campakkan asal bisa di dekat Bintang. Dia tidak perduli akan bagaimana ujung nasib nya nanti dengan mengharapkan Bintang, yang dia tahu dia ingin selalu di dekat Bintang, bahkan jika hanya sebatas pelayan.
Semenjak hari dimana Bintang menegaskan posisi Hana, keduanya tampak asing. Bintang bertambah benci, sementara Hana hanya bisa menenggelamkan dirinya dalam bayangan Bintang. Satu yang tidak pria itu tahu, kalau sedikit demi sedikit, Hana berperan aktif melayaninya. Di mulai dari hal kecil, namun Hana begitu gembira.
"Kamu lagi buat apa Bee?" suara Hana yang lembut menyapa dari belakang tubuhnya.
"Hah? oh ini, mau buat sarapan kak Bintang. Dia suka aku buatkan nasi goreng teri Medan" terang Bee setelah menoleh sesaat.
"Boleh aku bantu? biar aku yang masakin. Kamu terusin aja buat makanan si kembar" ucap nya dengan suara khas nya.
"Oh, iya makasih Han" Bee pun berlalu menuju meja tempat dia menyiapkan bahan MPASI bagi bayi kembarnya.
Di sini lah Hana menitip kan rasa cinta nya pada Bintang, melalui makanan yang dia masak khusus bagi Bintang. Senyum nya tak kunjung padam saat mengolah bahan makanan itu menjadi seporsi nasi goreng dan aroma nya membuat Bee mendekat.
"Wangi banget. Pasti enak, aku mau dong" ucap nya tersenyum.
"Mmmm...maaf Bee, aku cuma buat satu porsi, besok aku buatin lagi ya, ini untuk Bintang aja" ucap nya membawa piring berisi nasi goreng itu ke meja makan.
Bee sama sekali tidak berpikiran buruk. Menurut nya Hana hanya gadis polos, yang membuat makanan itu seporsi karena dia kira hanya Bintang yang menginginkannya. Bee pun kembali ke rutinitas nya membuat makanan untuk bayi nya.
Hari ini Bintang juga tidak masuk kerja, itu juga karena perintah Bee. "Besok baru boleh, hari ini kakak di rumah aja istirahat"
"Tapi aku bosan sayang. Kalau aku di rumah, kamu juga ga masuk kerja dong" pinta nya memandangi Bee yang bersiap di depan cermin. Riasan Bee yang natural saja membuatnya tampak sangat anggun dan cantik.
"Kamu tahu kak, aku ga bisa. Apa lagi setelah aku masuk, dokter Mia yang gantiin aku kemarin juga ga studi banding keluar negeri, jadi ga bisa gantiin aku"
Sepanjang siang itu Bintang hanya menghabiskan waktu nya di ruang kerja dan kembali ke kamar. Bosan dan sangat menjenuhkan. Saat kembali ke kamar setelah sejam berada di ruang kerjanya, Bintang mendengar anak nya menangis, hingga berbelok ke kamar para bayi.
Itu suara tangis Siera, yang terbangun. Bintang hendak masuk, namun saat mengintip dari pintu yang terbuka sedikit, dia bisa melihat Hana yang baru keluar dari kamar mandi di kamar itu segera menggendong Siera, dan membuai nya dalam gendongannya.
Dari luar Bintang bisa mendengar dengan jelas suara Hana yang bernyanyi dengan suara merdu. Wajah nya begitu memancarkan kelembutan seorang ibu, dan ajaib nya Siera berhenti menangis dalam pelukan Hana.
"Anak cantik ga boleh cengeng. Jangan takut sayang, tante Hana ada di sini. Siera bobo lagi ya" buai nya sembari mengayun-ayun kan tubuhnya. Aneh nya Bintang menikmati pertunjukan itu. Hati nya tersentuh melihat momen kedekatan Hana dengan anak nya. Momen yang dia rindukan Bee bisa melakukannya untuk anak mereka. Kenyataan yang ada Bee semakin hari semakin sibuk, hingga jarang bermain dengan Saga dan merawat si kembar.
"Kamu tidak mau melihat mereka?" suara Hana menghentikan niat Bintang untuk melangkah dari sana. Hana benar, jika Bee sudah tidak punya waktu untuk anak mereka, kenapa dia juga harus seperti itu. Ragu-ragu Bintang melangkah masuk. Duduk di salah satu kursi memperhatikan Hana yang masih menggendong Siera. Tanpa di dugaannya, Hana mendekat dan meletakkan Siera di pangkuan Bintang.
"Kamu harus lebih banyak mengajak mereka bicara. Kamu tahu, cinta pertama seorang anak perempuan adalah papa nya. Bagi anak perempuan, papa adalah superhero yang akan membuat nya selalu aman" ucap Hana duduk di samping Bintang.
Benar apa yang dikatakan Hana, perasaan Bintang begitu hangat saat bola mata Siera melihat nya dan bayi itu tersenyum pada nya.
"Dia tersenyum" ucap Bintang terperanjat bahagia. Sejak lahir, Bintang hanya beberapa kali bermain dengan si Kembar, menguyel-uyel pipi mereka, tanpa berani menggendong. Tapi sekarang, setelah menggendong salah satu putrinya, Bintang merasa ada kedekatan yang terjalin, seolah anak nya menyapanya dan begitu gembira di gendongnya.
"Siera sangat senang di gendong papa ya" ucap Hana mengelus pipi bayi itu yang berhasil membuat Siera menggoyangkan tangannya ingin menggapai tangan Hana.
"Aku baru sadar, betapa penting nya meluangkan waktu untuk anak-anak"
"Mereka pun pasti gembira bisa di dekat papa nya" balas Hana tersenyum. Bintang menangkap senyum itu hingga larut dalam tatapan Hana. Lalu seolah tersadar, Bintang membuang pandangannya ke arah Siera. Kikuk dan juga jadi tidak nyaman.
"Terimakasih sudah menjaga dan merawat mereka dengan penuh kasih"
Mendengar pujian Bintang, hati Hana melambung. Dia memejamkan mata, menyimpan ucapan Bintang jauh di lubuk hatinya. Begini saja sudah cukup. Dia tidak berani berharap lebih. Hanya dengan mendapat senyuman tulus dari Bintang dan menatap nya lembut, Hana sudah bersyukur.
"Sama-sama. Kamu tahu, aku sudah menyayanginya mereka. Hingga akan sangat menyedihkan kalau nanti tiba saat nya kamu berpisah"
"Han...apa rencana mu setelah ini? maksud ku, kamu tidak mungkin kan selama nya akan tinggal untuk mengurusi anak-anak?"
"Aku akan mengikuti takdir ku. Jika harus pergi, maka pergi lah aku" ucap nya tertawa sarkas. Sekali lagi Bintang tersentuh melihat kelembutan dan kepolosan hati Hana.
Tidak terasa suasana keruh diantara mereka mencair. Berjam mereka saling bercerita hingga Siera pun tidur dan kembali di gendong Bintang ke box nya.
Ketika keduanya keluar dari kamar itu, dan berpisah menuju kamar masing-masing. Mira yang kebetulan keluar dari kamar Saga, melihat keduanya yang saling melempar senyum. Sebisa mungkin, Mira tidak ingin berpikiran macam-macam terlebih karena sikap Hana pun baik padanya. Tapi satu hal yang pasti, dia harus memperingatkan Bee..
*Hai semua..maaf ya malam ini aku cuma bisa up 1 bab, aja, lagi sakit aku tuh😩😩ðŸ˜ðŸ˜“😓😥
Oh iya, hari ini aku mau promo lagi karya sahabat aku, cekidot..