Sold

Sold
On the road



"Aku kira kamu sudah lupa cara nya berjalan" ucap Bintang yang tahu kedatangan Bee tanpa membalikkan tubuhnya, tengah menatap dinding ruang tamu yang dominan di penuhi photo Bee sewaktu kecil hingga beranjak remaja.


"Dan apa yang kamu pakai?" lanjut nya kini histeris melihat penampilan Bee setelah berbalik.


Oh Lord..sumpah cakep banget, seriusan dia calon suami gue?


Eh..bego, gue kok malah terpesona, jelas gue suka nya sama Elang, Elang juga ga kalah cakep..


Gadis itu justru cuek. Menikmati rasa terkejut Bintang, dengan santai duduk di sofa yang jauh dari posisi Bintang berdiri saat ini.


"Bellaetrix Elaina..aku bicara pada mu!" hardiknya masih menatap penampilan Bee.


"Aku dengar, apa ada yang salah dengan penampilan ku?" jawab nya cuek, membuka toples kristal berisi permen coklat yang biasa di sediakan untuk tamu, sembari ngobrol.


"Lantas, pakaian apa yang kamu pakai?dan dandanan mu itu?" bola mata Bintang masih terus memaku gadis itu.


Sebenarnya ga aneh banget sih penampilan Bee, hanya saja keterkejutan Bintang yang berlebihan. Bee hanya pakai celana monyet berbahan jeans biru, dipadukan dengan kaos oblong putih. Harus nya imut kan?😁


Bee juga mengikat rambutnya dengan dua kepangan di atas, bak anak TK, memakai jam tangan berbahan plastik berwarna biru lengkap dengan tutup Doraemon di permukaan lingkar jam. Jam tangan kesayangannya saat masuk sekolah dasar, yang selalu dia simpan di lemari, karena itu hadiah pertama dari mama nya saat Bee bisa lancar membaca.


Ada lagi? ada sayang..ada...πŸ˜…πŸ˜…


Bee juga memakai kalung panjang hingga dada berliontin kepala Doraemon, tak ketinggalan anting mainan bergambar doraemon dan sendal tidur Doraemon.


Gimana, pasti bisa dong membayangkan ke amitan eh keimutan Bee?πŸ˜…πŸ˜…


Amarah Bintang hampir saja meledak, namun saat menangkap siluet senyum di wajah gadis nakal itu yang coba dia sembunyikan, baru lah Bintang sadar, ini aksi protes Bee, ingin membuatnya marah.


Siapa pun yang melihat Bee saat ini, pasti tidak menyangka model yang sudah masuk kelas atas, bisa berubah jadi bocah culun.


"Kenapa kamu pakai pakaian begitu?" suara Bintang sudah mulai datar. Dia ingin mengikuti permainan gadis itu.


"Pakaian gimana?bagus kan? kamu pasti suka dong" cibir nya.


"Suka gimana maksud kamu?"


Bantal sofa berwarna coklat keemasan itu dia banting ke lantai, agar bisa berdiri dengan posisi tegak, berkacak pinggang di hadapan Bintang yang memandangi nya. Pria itu menunggu apa lagi serangan gadis itu, sambil duduk tersenyum, mengangkat satu kaki ke atas kaki nya yang lain.


"Kamu benar, biasa melihat wanita cantik dan sexy, bahkan tanpa pakaian sekalipun, sudah biasa buat ku, tapi melihat yang begini, kok gairah ku meningkat ya..jadi pengen cepat-cepat nikahin kamu" ucap nya lembut dengan senyum tampannya di tambah kerlingan mata menggoda, fix Casanova bawa lahir!


"Ahhhhh...bisa ga, ngomong itu di filter?dasar mesum" umpat nya menutup kedua telinga nya. Bintang justru terbahak melihat Bee yang kesal. Trik yang di main kan gadis itu, justru mengenai nya. Namun satu hal yang kembali di sadari pria itu, dia bisa tertawa selepas ini hanya karena tingkah lucu gadis cemberut di depan sana.


"Bintang..kayak nya hidup lu bakal rame, bakal seru dengan kehadiran gadis cantik ini.." batin nya.


Untung nya papa keluar setelah berbincang di taman belakang dengan tante Di. " tuan Bintang, jadi kita lihat lahan sawit nya?" tanya papa dengan wajah bak kacung yang menjilat majikannya.


"Baik, tapi rencana berubah, kita tidak berdua, tapi Bee akan menemani kita ke sana" putus Bintang.


Ketiga makhluk lain di ruangan itu tentu saja terkejut. Terlebih papa, untuk apa mengajak putrinya pergi ke hutan-hutan sana. Sejak dulu Bee dan mama nya pun tak pernah di bawa ke ladang sawit milik mereka.


"Tuan, jalanan di sana curam, dan jauh dari pemukiman warga, dan juga untuk masuk ke pedalaman lagi, kita harus naik motor gede, karena Medan yang sangat curam dan tak mungkin di lalui mobil-mobil cantik yang biasa di pakai untuk jalan ke mall" Papa masih berharap, Bintang akan mengubah ke putusannya setelah mendengar penuturan papa.


"Justru itu tantangannya, kita akan pergi naik motor gede" timpal nya masih dengan pesona santainya.


"Perjalanan saja sampai tiga jam lebih tuan" sambung papa masih tidak setuju dengan rencana Bintang. Namun apa pun perdebatan yang di ucapkan, semua akan tunduk pada keputusan Bintang jua.


"Papa, aku ga mau ikut, panas pa.." rengek Bee menolak pergi. Terlebih dia harus boncengan dengan makhluk mesum se jagad raya itu.


"Makanya, kamu ganti baju. Lagian kamu udah gadis, kenapa masih pake baju SMP mu sih? ga malu apa sama Bintang?"


Omelan papa hanya menggantung di angin sudah berjalan mendekati motor yang akan menjadi sarana dirinya dan calon imam (ehemπŸ˜…πŸ˜Œ) berkelana berdua, menuju ladang sawit. Anjay ga tuh..😁😁😏


"Kamu ga ganti baju dulu?panas loh nanti, celana kamu juga pendek banget Bee" ucap Bintang. Kali ini benar karena perduli, sekaligus menolong dirinya untuk tidak khilaf, disuguhi paha mulus putih itu.


"Ga usah. Ga usah sok care deh..udah cepat jalan" salaknya.


Coba tadi dia mengemban misi dengan Elang, tanpa di suruh pun dia akan segera melingkarkan tangannya di pinggang pria itu, menciumi aroma tubuhnya, sambil sesekali bersenandung, tapi ini berbeda. Dia pergi dengan pria mesum stok terakhir, ya jelas buat nya ogah untuk berpegangan pada tubuh pria itu.


Sepanjang jalan, Bee masih santai, tangan masih di lipat di dada. Membuat jarak antara dirinya dan kang ojek dadakan. Lama-lama perjalanan semakin terjal, Bee hampir oleng dan terjatuh, dengan sigap dia memegang behel motor, agar tidak terjatuh.


Senyuman kembali terukir di wajah Bintang. Kegigihan gadis itu sungguh patut diacungi jempol. Namun itu masih setengah perjalanan, iman nya mulai goyah, saat mereka sudah memasuki ladang sawit.


Jalanan licin, dan banyak lumpur akibat hujan tadi malam membuat motor mereka kesulitan untuk menanjak. Mau tak mau Bee akhirnya berpegangan pada jaket Bintang. Menarik kuat pakaian pria itu, saat ban motor buang ketika melintasi jalan licin. Bee sampai terpekik, ketika mereka akan jatuh, dengan sigap Bintang menahan motor dengan kakinya yang memakai sepatu boot, hingga mereka tidak jadi mandi di kubangan lumpur.