Sold

Sold
Kinan



Hanya butuh setengah jam, Riko dan Bintang sudah sampai di hotel bintang itu. Meja yang sudah di reservasi oleh Riko dari kemarin sudah di siapkan oleh pelayan restoran yang segera membawa keduanya ke sana.


"Gara-gara lo ini. Meeting jam 10, kita udah di sini setengah sepuluh. Lo tahu sendiri gue ga suka menunggu" hardik Bintang kesal. Sisiran rambutnya yang klimis terguncang oleh amarah ya sendiri.


"Maaf bos..tapi saya yakin mereka akan datang tepat waktu" kilah nya bela diri.


Alam masih berpihak pada Riko. Tepat pukul 10 seorang gadis cantik beserta pria yang jadi asisten nya datang ke arah meja mereka. Mengaku dari pihak PT Kinanti, Bintang menyambut dengan antusias.


Riko yang melihat sikap kaku sang Bos tergelitik ingin tertawa. Bintang tampak grogi berhadapan dengan nona Kinanti Handa, yang ternyata anak dari Ray Handa, pemilik PT Kinanti. Wanita begitu cantik dan anggun.


"Tuan ini pesanan anda" seorang pelayan resto mendatangi mereka membawa seikat bunga dan dengan kode lirikan mata Riko, pelayan itu menyerahkan buket bunga itu pada Bintang.


"Ini?" Bintang melirik Riko tak mengerti.


"Ini bunga yang bos pesan kemarin untuk nona Kinanti" ucap Riko santai. Pria itu sudah tahu sejak kemarin, kalau pihak dari PT Kinanti mengabarkan meeting besok tuan Ray Handa tidak bisa hadir karena kurang sehat, dan akan di gantikan oleh putrinya satu-satunya, nona Kinanti Handa.


Tanpa membuang waktu, Riko mencari segala info yang bisa dia dapat mengenai Kinanti Handa. Gadis lulusan S2 dari NUS, Singapura. Dan yang paling penting masih single.


Riko berharap bisa mendekatkan bos nya dengan Kinanti, agar hidup Bintang kembali ceria seperti dulu.


Bintang pria normal. Bertemu dengan gadis secantik Kinanti tentu saja membuat nya grogi. Tapi tindakan Riko memberikan bunga pada Kinanti atas nama nya membuat Bintang menendang tulang kering pria itu di bawah meja.


Persentasi yang dilakukan pihak Kinanti memuaskan Bintang. Bukan karena hanya cantik, Kinanti juga gadis yang pintar. Tidak butuh waktu lama, kedua nya berbaur larut dalam pembicaraan yang mengasikkan.


"Terimakasih untuk waktu yang menyenangkan ini, nona Kinanti" ucap Bintang menyambut jabatan tangan Kinanti.


"Sama-sama. Saya yang merasa terhormat berkesempatan bertemu bahkan bekerja sama dengan tuan Bintang Danendra"


"Bintang. Panggil Bintang saja" sambar Bintang tersenyum. Percaya lah, saat itu Kinan langsung terpesona pada Bintang, kalau ada sebutan cinta pertama, maka itu layak di sematkan pada pertemuan mereka. Bahkan kalau Bintang mengajak Kinan menghangatkan tempat tidur nya, pasti Kinan mau.


Siapa yang tidak kenal Bintang Danendra. Don Juan, Casanova incaran semua kaum Hawa di negeri ini. Kinan juga tahu, saat ini Bintang sedang dekat dengan Stella, namun ketidak jelasan hubungan mereka yang sudah lama, membuat Kinan berasumsi bahwa Bintang tidak mencintai wanita itu, yah.. kebetulan saja karena Stella adalah model di bawah management nya.


"Bos, tidak mengantar nona Kinan pulang?" celetuk Riko kembali memberi jalan. Bintang yang menatapnya hanya membulatkan mata, sembari tersenyum. Dia sudah paham kemana arah nya ini di giring Riko.


Bintang tahu, niat asisten setia nya itu baik. Tapi apa iya, dia siap untuk buka hati lagi. Satu hal yang di yakini Bintang, Bee sudah bahagia dengan pilihannya, tidak baik terus mengharapkan milik orang lain. Apa Bintang ikuti saja saran Riko untuk buka hati?


"Aku antar pulang?" tawar Bintang yang di sambut malu-malu oleh Kinan.


Antaran pertama berlanjut pada hari berikutnya. Proyek itu belum resmi berjalan walau kedua perusahaan sudah deal dan tanda tangan kontrak, namun kedua pemimpin nya sudah deal untuk hubungan yang lebih panas.


Seperti saat ini, keduanya sedang bertarung penuh keringat. Pendingin mobil rasa nya masih berfungsi baik, tapi kenapa begitu panas, hingga kedua nya berkeringat. Mobil Bintang parkir sejak setengah jam lalu, ketika mengantar Kinan pulang dari makan malam bersama. Saat sudah saling memberi ucapan selamat malam, dua orang itu di datangi setan cabul, hingga terbawa suasana.


D*sahan Kinan saat satu gundukan nya di s*dot Bintang semakin membuat pisang raja di bawah sana menegang, yang jika disentuh oleh orang jamin akan kesetrum.


Hawa panas semakin membuat milik Bintang menegang, dari sentuhan tangan Kinan di atas celana kerja Bintang. Dengan lihai, jemari lentik Kinan membelai terong raksasa milik Bintang yang tampak menyembul sesak di balik resleting celananya.


"Bintang.." d*sah nya penuh nikmat. Lidah Bintang begitu mahir m*milin dan mengh*sap gundukan indah yang sedari tadi di tawar kan Kian.


"Oh..Bintang..iya..oh.. Aaaaaach..." d*sahan panjang menandakan Kikan sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Dan gelegar tubuhnya yang bak ikan di darat, menandakan hal itu sudah terwujud. Bintang berhenti, menatap Kikan lekat. Lampu mobil yang memang sengaja mereka padamkan, membuat Bintang melihat wajah gadis itu hanya dengan bantuan sinar lampu teras rumah Kikan.


"Shiiit!" umpan nya bersandar kembali pada bangku nya di balik kemudi. Sekali lagi Bintang melirik ke arah Kinan guna memastikan wajah gadis itu. Benar, itu bukan Bee. Sedetik tadi yang di lihat matanya pada wajah Kinan justru wajah Bee. Bahkan brengsek nya dirinya, menyentuh Kinan pun yang ada di pelupuk matanya adalah Bee.


Sial..kenapa gue ga bisa lepas dari gadis itu. Gue juga pengen tenang menjalani hidup ini. Ingin bisa kembali merasakan tubuh wanita lain..


"Makasih Bintang.." ucap Kinan tersenyum yang berhasil membuyarkan lamunan nya. Perlahan gadis itu mendekat, dan mengecup pipi Bintang.


Reaksi pria itu datar. Hany senyum kaku yang mampu dia persembahkan. "Kamu masuk lah. Ga enak sama tetangga. Udah terlalu lama mobil ini parkir di sini" ucap nya dan diangguk oleh gadis itu.


Cafe & Bar Rock star menjadi tujuan nya setelah mengantar Kinan. Kepalanya masih nyut-nyut, karena kepala bawah nya tidak jadi memuntahkan lava panas nya. Untuk mencari wanita lain malam ini, Bintang tidak bersemangat. Tebakannya bilang, pasti akan sama saja. Bercinta dengan wanita lain, tapi yang dia bayangkan adalah Bee.


Apa gue tabrak aja mobil ini ke bahu jalan ya, biar gue amnesia kayak Bumi. Nah, ntar kan bisa lupa sama Bee..brengsek lo Bee, kenapa Lo masih merajai hati gue?


Setelah semua personil melepas masa lajangnya, jarang buat mereka berempat untuk bisa berkumpul apa lagi minum sampai pagi. Walau pun dalam agenda, sekali dua Minggu mereka harus meluangkan waktu untuk minum bersama.


"Da nyampe lo? kusut amat? kayak ga ***** se abad lo. Noh, si Desi, mau pasti lo ajak masuk kamar mandi bentaran" goda Agus pemilik bar.


"Diam lo. Banci lo kasih gue. Najis. Udah bawain gue minuman yang paling keras sama racun tikus dua bungkus!"