
Bu Salma shock, mendapatkan kabar dari Setiawan setengah jam sebelum mereka pergi ke kediaman mereka.
"Kau apain Kinan? dasar anak durjana! mau kau apa sih Bintang? ibu sudah tiga jam berdandan tapi hasil nya kau malah batal nikah!" salak Ibu melempar ponselnya kasar ke atas sofa di sebelahnya.
Bintang tidak bersuara. Memang nya dia bisa jawab apa? dia sendiri juga tidak paham, kenapa Kinan memutus pertunangan mereka.
Tapi tidak penting. Intinya dia batal nikah dengan gadis itu, dan untuk nya itu kabar yang sangat baik.
"Bintang, jawab ibu. Kinan kenapa? kenapa membatalkan acara malam ini?" desak ibu menjewer telinga Bintang.
"Aduh, sakit Bu. Aku laporkan ke KPAI ya"
"Nih, ongkos taxi, gih sana lapor!" umpat ibu sudah meletakkan selembar uang merah di atas meja, sebagai bentuk kekesalan nya.
"Kamu tahu kan, ibu sudah suka sama Kinan? ibu ingin dia jadi mantu ibu"
Dan sejam ke depan, Bintang menebalkan telinganya untuk mendengarkan caci maki amarah ibu. Terlebih saat dirinya mengakui kalau mengatakan tidak punya perasaan pada Kinan.
"Ibu empet lihat wajahmu. Gih sana jauh-jauh. Jangan datang kemari kalau ga ibu minta" ucap nya naik ke kamar.
Masih dengan tampang bloon nya, Bintang termenung memandangi layar ponselnya sembari menarik nafas berat.
***
Keesokan siangnya, Bee tampak sedang bermain dengan Saga. Mata nya sudah bengkak, karena semalaman menangis. Pukul delapan malam kemarin adalah hari pertunangan Bintang dengan Kinan, sekaligus menjadi waktu penanda harapannya sudah hancur seperti kepingan hatinya yang kini sudah tidak berbentuk.
Pagi ini dia bangun, langsung memeluk Saga, karena kemungkinan sebentar lagi Saga akan punya dua mama. Yang artinya dia akan jarang bersama anak itu nanti.
Di tatapnya tawa Saga yang berlarian di taman mengejar bola bersama Mira. Tanpa sadar air matanya jatuh di pipi. Terlalu miris kisah hidupnya.
Dering nada ringtone ponselnya menyadarkan Bee, menarik gadis itu kembali ke alam sadarnya.
Panggilan itu hanya di biarkan begitu saja. Bee bukan sombong atau tidak menghargai si penelpon, tapi jujur untuk saat ini dia tidak ingin dulu berurusan dengan Kinan.
"Maaf mbak Kinan, gue ga bisa angkat telpon mbak. Hati gue belum siap buat dengar cerita mbak soal lamaran semalam" ucap nya bermonolog.
Tapi seakan penelpon tidak putus asa, dering itu terus berdentang di telinga, hingga Bee menyerah dan mengangkat panggilan itu.
"Ha-halo mbak?"
"Bee..kamu dimana? aku mau ketemu. Aku mau cerita sama kamu" ucap Kinan terdengar memburu. Bee hanya heran, sejak kapan mereka sedekat itu hingga Kinan selalu mencari nya setiap ingin bercerita?
"Aku..aku di rumah mbak" jawab Bee tanpa pikir panjang.
"Kalau gitu, aku ke rumah mu ya. Ada yang mau aku ceritakan. Ini penting"
Suara tawa Saga di kejauhan sayup terdengar menyadarkan Bee kembali. "Eh, jangan mbak. Kita ketemuan di luar aja. Ini aku juga mau ke luar. Mau ke supermarket" sahut nya berimprovisasi. Tidak mungkin dia menjamu Kinan di rumah nya, karena pasti akan bertanya pasal Saga.
Tapi kalau di pikir lagi, kenapa juga Bee harus takut Kinan tahu soal Saga, toh sebentar lagi dia juga harus tahu kalau sudah nikah dengan Bintang. Kecuali dia ingin menyembunyikan keberadaan Saga dari istrinya.
Sepakat untuk bertemu di satu cafe dengan nama Cafe Tatiana love, coffee and cake. Hanya ada beberapa pengunjung saat itu, mungkin karena masih terlalu dini untuk nongkrong sore atau hang out malam.
"Hai, selamat datang" sapa seorang wanita menyambut kedatangan Bee. Dia bisa menebak kalau wanita itu bukan pelayan cafe dari penampilannya yang tidak memakai seragam kerja.
"Makasih mbak. Aku pilih di sofa aja dekat jendela itu mbak" ucap Bee menunjuk sofa berwarna merah.
Wanita itu hanya mengangguk sembari tersenyum, mengantar Bee ketempat duduk nya.
"Mau pesan sesuatu? atau masih mau menunggu teman nya mungkin?" tanya nya kembali. Wanita itu begitu ramah dan mempunyai senyuman indah di wajah cantik nya.
"Aku mau latte satu mbak sama cheese cake slide nya"
"Ok. Sebentar ya"
Bee menatap parkiran. Belum ada tanda kedatangan Kinan. Untuk membunuh rasa bosannya, Bee mengotak Atik galery ponselnya, melihat photo-photo Saga yang tampak menggemaskan.
"Duh, gumush nya, anak siapa?" hampir saja ponsel Bee terlempar karena kaget mendengar suara dari belakang tubuhnya. Sontak memutar tubuh, lalu yang dia lihat adalah wajah Kinan yang tersenyum padanya.
"Mbak Kinan" ucap nya mematikan cahaya layar ponselnya.
"Udah lama Bee?" Kinan duduk di hadapan Bee, meletakkan tas nya dan menyandarkan punggung ke sofa. Hembusan nafas berat itu di tangkap Bee pertanda gadis itu dalam keadaan tidak baik.
Kenapa baru tunangan udah murung sih mbak? kenapa juga mata mbak Kinan bengkak?
Pesanan Bee diantar pelayan, bukan wanita yang tadi mencatat pesanannya. "mbak Kinan pesan apa?" tanya Bee masih menatap wajah Kinan yang tampak kacau.
"Espresso aja Bee..ga usah pake gula ya mbak"ucap nya ke arah pelayan.
"Yakin mbak? itu kan pahit banget, mana ga di tambah gula lagi" tanya Bee memperjelas. Kinan hanya mengangguk, lalu pergilah si pelayan.
Mereka masih membahas seputar kerjaan dan produk mereka yang laku di pasaran. Setelah pesanan Kinan datang, gadis itu langsung menyeruput kopi pahit itu, tanpa ekspresi. Seolah ingin menunjukkan kalau hal yang paling pahit sekali pun kini sudah biasa baginya.
"Mbak..apa semua baik-baik aja?" tanya Bee pelan. Kinan tak menjawab justru menunduk memandangi cangkir putih ceper itu. Satu titik air mata jatuh di dekat tapak cangkir, Bee bisa melihat nya.
Kekhawatiran Bee semakin menjadi, hingga memilih untuk pindah ke samping Kinan.
"Mbak..cerita dong..jangan nangis gini" ucap Bee menyodorkan tisu yang diambil Kinan.
Sejenak Kinan menarik nafas, lalu menghapus jejak air mata di pipinya sebelum menoleh ke arah Bee.
"Aku batal tunangan dengan Bintang Bee.." ucap nya mempertahankan raut wajah yang tenang. Walau hatinya tentu saja terluka.
Mulut Bee terbuka tanpa sadar, lalu gadis itu menutup dengan tangannya. Berita yang di sampaikan Kinan sama sekali tidak pernah dia duga.
"Kenapa mbak? bukan nya kemarin malam harusnya pertunangan kalian?"
"Aku membatalkan nya Bee"
"Alasannya?" tanpa sadar intonasi Bee terdengar sangat ingin tahu.
"Dia tidak mencintaiku. Dia menikahi ku hanya untuk menuruti keinginan ibu dan wanita yang dia cintai" Wajah Bee pucat. Sejauh apa Bintang bercerita masalah mereka.