Sold

Sold
Perjanjian pra nikah



Piter tidak percaya, dua mangkok bakso ludes masuk dengan cepat ke dalam perut wanita yang ada di hadapannya ini. Tubuh se ramping dan se kecil itu bisa menghabiskan nya hanya dalam waktu setengah jam. Dan itu pun pakai mi hun juga.


Pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Menurutnya, Kinan tidak jelek, malah cantik dan tahi lalat di bawah dagu nya itu membuat nya semakin menarik. Dan kalau biasanya banyak gadis cantik akan bersikap jaim, makan hanya sedikit saja dengan alasan diet, berbeda dengan makhluk ini.


"Kenyang.." ucap nya menyandarkan punggung nya pada kursi plastik itu, sembari membersihan sekitar mulut nya dari bekas minyak kuah bakso.


"Ya kali lo ga kenyang makan sebanyak itu" sahut Piter bergidik. Kinan wanita berkelas, dia tidak ragu itu. Tapi melihat dia makan di tempat seperti ini, bahkan dengan sangat rakusnya, Piter benar-benar tidak menyangka. Mana etika wanita-wanita kelas atas? persetan dengan table manner, tai kucing semua itu! Hari ini Kinan sudah membuang semua nya hanya karena keinginan dari dalam. Tapi sayang nya Piter tidak tahu akan hal itu, baginya Kinan wanita yang menjijikkan, tidak menarik dan membuatnya ilfil, kecuali milik nya yang satu itu.


Hanya Piter lah yang tahu, bagaimana rasa apem nya setelah dicicipinya malam itu, legit Dan nagih!


Haduh, pikirannya kembali tertuju ke kamar hotel itu yang membuat petaka dalam hidupnya.


Piter menggelengkan kepala, menghempas semua kenangan itu dan keinginan untuk mengulanginya lagi.


"Aku sudah kenyang. Silahkan katakan apa yang ingin kau bicarakan. Aku mendengar kan"ucap Kinan dingin. Dia kembali mengelus perutnya yang masih rata.


Aneh, kenapa aku ga mau muntah, padahal begitu banyak yang aku makan tadi?


Sekilas Kinan menatap pria yang juga sedang menatap nya itu.


Tampak nya apa yang di katakan Bee benar, pria br*ngsek ini obat mual ku. Ck..kenapa harus di dekat dia sih??


"Kenapa Lo liatin gue kayak gitu? lo mikir apa? merencanakan sesuatu yang jahat sama gue ya?" salak Kinan.


"Satu hal yang lo lupa, selain gue adalah anggota keluarga Danendra, gue juga pengacara. Gue bisa tuntut lo, atas tuduhan pencemaran nama baik!"


Ck...masih bisa dia ngancam aku. Dasar pria b*ngsat!


"Terserah. Lo tuntut gue pencemaran nama baik? menurut lo gue bagus nya nuntut lo balik dengan tuduhan apa ya? pemerk*saan? perbuatan tidak menyenangkan? atau penipuan?" Kinan tidak mau kalah. Genderang perang sudah di tabuh keduanya, siap bertempur hingga titik darah penghabisan!


Bisa di tebak. Piter mati kutu. Walau pun dari ketiga tuduhan itu, semua nya lemah terhadap dirinya.


Pemerk*saan apa? bukan nya malah wanita itu yang narik Piter lebih dulu? perbuatan tidak menyenangkan? seingat nya mereka berdua sangat menikmati nya dan bersenang-senang hingga pagi. Atau penipuan? dasar wanita sinting, dia yang justru sudah menipu Piter karena ternyata dia masih perawan saat itu!


"Gue ga mau berdebat dengan lo. Gue ngajak lo kemari, mau buat kesepakatan"


Dahi Kinan mengkerut, satu garis alis nya naik menantang Piter untuk melanjutkan ucapannya.


"Gue mohon, lo mau nikah sama gue"


"Ga..gue ga mau!" sambar Kinan.


"Dengar dulu. Gue tahu, Lo benci sama gue, sama gue juga. Kita ngejalani rumah tangga ini sampai anak itu lahir. Jangan bantah dulu, dengarkan gue sampai selesai" hardik Piter saat Kinan berusaha menjawab.


"Maksud lo apa sih, kardus, gue ga ngerti"


Hufffh.. Piter menarik nafas. Mencoba bersabar menghadapi tingkah Kinan yang seolah memang sengaja mengikis kesabarannya.


"Kita nikah. Ini demi anak itu. Demi nama baik keluarga kita. Lo jangan egois, kalau Lo bisa nanggung malu atas cibiran orang lain, belum tentu bokap lo sanggup. Lo juga baru mulai berkarir kan? ya udah, kita nikah. Paling ga sampai anak itu lahir, habis itu kita cerai"


Ada getar halus di hati Kinan, getar yang menggores hatinya dan terasa sakit. Jadi pria ini hanya menikahinya karena permintaan ibunya? tapi apa yang membuat Kinan sedih? toh dia juga memang tidak suka pada pria itu.


Di tilik lagi, benar juga perjuangan nya dalam hidupnya masih panjang, jadi dia tidak boleh lemah hanya karena terbebani masalah ini.


"Gue punya syarat" Piter menegakkan tubuhnya, bersiap mendengar.


"Dalam pernikahan itu, kita hanya berinteraksi jika berhubungan dengan anak ini. Dan aku tidak mau kau membawa wanita mu ke dalam rumah yang kita tempati bersama"


"Setuju" sambar Piter. Lagian itu hanya persyaratan kecil. Bahkan jika pun Kinan tidak minta, Piter juga tidak akan melakukan hal itu.Tdak ada gadis yang pernah dia bawa ke apartemennya.


"Apa lo yakin Lo sanggup?" tantang Kinan.


"Yakin. Itu hal kecil"


"Lo bukannya pengacara hebat ya. Pahami omongan gue. Ga boleh bawa gadis lain, artinya lo juga ga boleh tidur sama cewek lain selama nikah sama gue"


"Ap..apa? lo gila ya? lo minta gue puasa 9 bulan? sinting!" umpatnya mengulum tangan.


"Terserah. Gue cuma ga mau, pernikahan yang walau hanya dalam selembar kertas ini jadi lebih hina atas perbuatan lo di luar sana. Gue juga ga bakal tidur sama cowok lain selama jadi istri lo, impas kan?" Kinan melipat tangan di dada, menunggu reaksi Piter yang juga tengah melakukan hal yang sama dengannya. Tapi perhatian Piter justru terusik akan siluet dua benda menggumpal yang nemplok di dada Kinan. Benda kenyal yang pernah dia rasain dan **** puncak nya.


Eh, kok ke situ lagi. Lama-lama dia bisa gila, celana nya bisa basah. Dia butuh Kirei. Iya, dia harus cepat menyelesaikan perjanjian dengan wanita gila ini.


"Gue keberatan. Gue cowok Nan, gue ga bisa puasa selama itu. Lagian gue punya pacar. Gue kan harus nafkahi dia lahir batin" ucap nya santai seolah itu bukan hal memalukan.


Fix! makin bertambah rasa benci Kinan pada Piter. Pria busuk itu begitu bangganya mengakui cara berpacaran nya.


"Terserah kalau lo ga mau, gue ga maksa" Kinan sudah bangkit dari duduknya, tapi cepat Piter menangkap tangannya kembali.


"Ok, gue setuju. Tapi gue punya tambahan syarat" ucap Piter. Dia bersumpah akan membuat wanita itu menyesal karena persyaratan nya itu. Bahkan senyum mengejek di bibir Kinan membuatnya semakin membenci wanita itu.


"Go ahead!"


"Setelah kita nikah, dan lo udah sah jadi istri gue di mata hukum dan agama, gue ga akan tidur sama wanita lain, tapi lo juga harus melakukan kewajiban lo sebagai istri!"