Sold

Sold
Penundaan



Selesai sudah rentetan acara pernikahan yang begitu meriah. Sesi photo yang mungkin sudah ratusan kali bersama keluarga dan para tamu juga sudah selesai, semua nya membuat tenaga Bee terkuras lemas.


Tante Di sudah mengantarnya ke kamar hotel tempat mereka akan menghabiskan malam pertama mereka setengah jam yang lalu.


Tante Di menawarkan untuk membantu Bee membuka pakaiannya, namun di tolak gadis itu. Dia tak ingin, saat Bintang melihat nya dengan pakaian tidur yang tembus pandang, yang di siapkan untuknya, akan membuat Bintang menyangka dirinya sengaja menggoda pria itu.


Setelah tante Di meninggalkan nya sendiri dalam kamar, Bee hanya bisa termenung. Wajah sedih dan merana Elang masih jelas dia ingat, hingga membuat nya tak dapat melepas satu senyum pun, bahkan setiap mengingat ingin menangis.


Sepuluh menit setelah kepergian tante Di, Bintang masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya duduk di tepi tempat tidur dengan pakaian yang masih rapi.


Dalam bayangannya, Bee sudah menunggunya dengan pakaian minim, atau tak mengenakan apa pun sama sekali, mengingat ini malam pertama mereka kan?


"Ada apa?" tanya nya lembut setelah duduk di samping tempat tidur.


"Eh..ga papa" walau bibirnya berdusta, Bintang bisa melihat riak wajah sedih itu, dan apa penyebabnya. Hanya desahan kesal yang bisa dia keluarkan.


"Kenapa belum ganti pakaian? sini aku bantu" tangan Bintang sudah mendekat hendak membuka kancing di kebaya Bee, tapi sigap tangan Bee memegang kancing bajunya dan menjauhkan sedikit tubuhnya tanda penolakan.


"Kenapa?kamu bisa buka itu sendirian?"


Sesaat Bee berfikir. Pakaian nya yang penuh payet ini begitu berat, dan juga kancing kecil-kecil pada bagian depan membuatnya susah untuk membukanya. Belum lagi sanggulnya dan berbagai hiasan di kepala, perlu orang untuk melepas nya.


Tapi sebelum menerima bantuan Bintang, Bee ingin memastikan sesuatu.


"Bintang, ada hal serius yang ingin gue bicarakan dengan lu?" suara Bee akhirnya keluar. Bintang hanya mengangguk, lalu menaikkan alisnya, tanda meminta Bee agar melanjutkan kalimatnya.


"Gue mau minta, malam ini..kita..gue belum siap" ucap nya ragu menatap Bintang.


Pria itu paham, maksud ucapan Bee yang susah untuk di teruskan nya. Walau merasa kesal akan keputusan Bee, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak ingin melakukan nya dengan gadis itu dalam keadaan tertekan atau terpaksa melayaninya.


Mungkin sudah nasib nya, pernikahan pertamanya, seharusnya malam ini dia bisa bersenang-senang dengan pengantinnya, tapi malah harus menunda.


"Aku paham. Aku akan bersabar dan menunggu kamu siap." ucapnya membelai wajah selembut bayi itu.


Wajah takut, muram itu berubah cerah hingga menyunggingkan satu senyum, bak orang yang akan di hukum mati, dan seketika mendapatkan surat pembebasan bersyarat. Lega.


Setelah kesepakatan di capai, Bee membiarkan Bintang membantunya melepaskan pakaiannya. Ada sedikit rasa malu menyerangnya.


Pertama mereka menyelesaikan perhiasan di kepalanya, hingga rambut panjang indah Bee tergerai jatuh di punggung. Bintang sekali lagi mengerjap, wanita itu bak dewi kecantikan dengan segala apa yang melekat di tubuhnya.


Bulu kuduknya meremang, saat jemari tangan Bintang yang terasa membakar kulitnya. Pakaiannya sudah lepas, di sampirkan Bintang di kursi hotel.


"Mau apa?" tanya Bee melangkah mundur saat Bintang bersimpuh di hadapan Bee.


"Ya mau buka kainnya. Ini banyak benar tali-tali nya" Bintang masih menatap, seolah paham Bee mendekat agar pria itu lebih mudah membuka tali pengikat kain songketnya.


Posisi itu membuat momen awkward diantara mereka. Setelah melepas lilitan talinya, kain itu jatuh di mata kakinya.


"Jangan lupa mandinya dengan air hangat, nanti kamu masuk angin" teriak Bintang setelah mengetuk pintu kamar mandi.


Sembari menunggu Bee selesai mandi, Bintang membereskan pakaian Bee tadi. Wangi parfum wanita itu masih terasa di Indra penciuman nya.


"Tang, malam ini gue pakai apa?" tanya Bee bingung. Sudah beberapa menit dia membongkar isi koper berupa pakaian yang disiapkan tante Di, tapi tak ada yang lulus sensor nya untuk dia pakai malam itu.


Merasa tidak mendapat tanggapan, Bee menoleh kebelakang. Perasaan suami nya sudah keluar dari kamar mandi tadi. Pria itu ada di sana. Mengeringkan rambutnya dengan handuk, sementara satu handuk lainnya melilit di pinggang nya.


Dengan susah payah Bee menelan saliva nya melihat perut rata dan dada bidang itu. Belum otot lengannya yang minta di gigit.


Sumpah demi apa, tubuh cowok ini gila banget, jiwa gatal gue menjerit-jerit kalau gini..


Bee menggeleng-gelengkan kepalanya agar semua pikiran kotornya lenyap. Harus nya kan dia memalingkan pandangannya, tapi ini justru dia betah untuk berlama-lama di sana. Menatap setetes air yang jatuh dari rambut basah Bintang terjun bebas ke dadanya, mengalir turun melewati perut rata nya turun lagi melewati bulu-bulu halus di sekitar pusarnya lalu turun lagi lebih kebawah, menyelip di balik handuk.


"Aaaaahhh.." jeritnya tanpa sadar, membuat Bintang segera menoleh.


"Kenapa Bee?" ada apa?" seru nya panik mendekati gadis itu.


"Aaaa? oh ga kok..ga papa. Hehehe" ucapnya cengengesan malu atas pikirannya sendiri yang begitu kotor.


"Kamu ini menggemaskan" ucapnya mencubit hidung Bee yang membuat Bee merengut.


"Malam ini gue pakai apa?" keluh nya lagi, setelah mengingat permasalahan nya.


"Memang nya tante Di ga nyiapin pakaian buat mu?"


"Ada tapi semua kurang bahan dan tipis, sama aja gue kayak ga pake baju" ucap nya kesal. Lihat aja nanti dia akan protes pada tante Di.


"Hahahaha..segitu parahnya kah?" Bintang mendekat, ikut memeriksa isi koper Bee. Pakaian tidur itu memang parah. Dari lima buah yang di siapkan, tak satu pun yang bisa menutup auratnya.


Bintang mengangkat satu lingerie berwarna merah. "Ini gimana? kamu pasti sexy banget pake ini" goda Bintang memainkan alis nya naik turun.


"Iiih..apa an sih! ga mau ah..lu kan udah janji bakal ga nuntut malam pertama sama gue, sampe gue siap buat ngelakuin nya" hardik Bee berdiri, menendang koper itu kesal.


"Ya terserah, kalau masalah buat anak sih, aku nurut aja kapan kamu mau. Semakin lama kita mulai, kan semakin lama juga kamu terikat sama aku" ucap nya menantang.


Bee tampak berpikir. Ada benarnya yang di katakan Bintang. Tapi untuk malam ini sungguh dia belum siap.


"Terus kamu pakai apa? ga mungkin kamu pakai bathrobe untuk tidur kan?" Bintang sudah menuju kopernya, menarik kaos dan celana pendek untuk nya.


"Gue pinjam pakaian lu aja ya tang?"


"Baju aku? ya udah, pilih aja tuh di koper" Bintang sudah masuk kembali ke kamar mandi untuk berpakaian.