
Suara kicau burung dan anak-anak yang bermain riuh di luar, tetap tak membuat Bee ingin beranjak dari tempat tidur nya. Malah kalau bisa meminta dia ingin tidak bangun lagi, untuk selamanya! Eh..tapi tunggu, kalau dia tidak bangun , bagaimana dengan kisah cinta dengan Elang?
Dengan berat hati, dia memutuskan untuk melanjutkan hidup. Niat untuk masuk masuk kamar mandi terhenti, saat pintu kamarnya di ketuk sebagai formalitas saja, buktinya orang yang mengetuk sekali pintu itu sudah muncul di balik pintu, dan kini berdiri di hadapannya.
"Sampai kapan kamu akan berdiam diri di tempat tidur? bangun dan mandi lah, tuan Bintang akan datang menemui mu sebentar lagi" seru pria datar.
Mendengar kalimat yang membakar hati nya itu membuat Bee semakin marah. Segera dia kembali menjatuhkan dirinya nya kebelakang, dan menutup tubuh nya dengan selimut tebal hingga ujung kepala.
"Bee..bersikap lah dewasa, kamu bukan anak-anak lagi" bentak Hutomo.
"Katakan pada nya aku sudah mati.." salak gadis itu tak kalah keras.
Dengan kesabaran yang mulai menipis menghadapi putri tunggalnya, papa menarik selimut itu, hingga wajah Bee yang di penuhi rambut panjang berantakannya dapat terlihat.
"Dengarkan papa. Terserah kamu membenci papa, tapi kamu harus tetap menikah dengan tuan Bintang. Papa tahu papa salah. Papa berhutang padamu Bee, tolong selamatkan papa.." ucap nya merendah, duduk di tepi tempat tidur, membelakangi putrinya yang masih marah padanya.
"Papa sudah tanda tangani perjanjian piutang itu. Kalau papa ga membatalkan perjanjian, maka uang yang papa pinjam harus di bayar 5 kali lipat banyaknya, tak hanya itu, kebun sawit kita yang tersisa juga akan diambil alih oleh nya" desis Hutomo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Secepat itu, hampir semua asetnya kini sudah berpindah ke tangan Bintang Danendra.
Sebenarnya semua surat tanah di gadaikan nya di bank, dengan alasan ini memperluas kebun sawit nya. Nyatanya uang pinjaman itu habis untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Tak sampai di situ, dia juga meminjam pada rentenir dalam jumlah ratusan juta, yang hanya dalam tempo setahun sudah milyar berikut bunga nya.
Putus asa di desak hutang, Hutomo berniat untuk menjual sisa lahannya beserta dua rumah nya, termasuk yang dia tempati. Tepat hari itu, dua orang berjas hitam, menemuinya dan menawarkan solusi dari masalahnya. Hanya saja mereka tidak minta jaminan apa pun untuk uang yang dia pinjam pada dua orang itu yang mengatakan utusan seseorang, hanya dengan menikahkan putrinya dengan bos mereka.
Tentu saja Hutomo menolak, walau kini sudah tidak memperhatikan putrinya, tapi Hutomo tetap sayang pada Bee. Tapi setelah salah satu dari keduanya, pria muda yang tampan menunjuk kan photo Bintang Danendra, Hutomo pun setuju.
Lama Bee memandang punggung yang dulu biasa menggendongnya. Ada rasa rindu untuk mendekat dan memeluk pria tua itu. Mereka sudah lama tak berbincang dan bercanda. Tapi mengingat apa yang sudah di lakukan papa padanya emosinya kembali naik. "Itu urusan papa, papa yang berbuat kenapa aku yang menanggung getahnya?" salak Bee.
"Bellaetrix Elaina, kamu tega papa masuk penjara?kamu ga tahu tuan Bintang itu punya kuasa? dia bukan orang sembarangan!" ucap papa coba mengambil simpati.
"Papa juga tega ngejual aku sama dia! Berapa utang papa, biar aku bayar. Aku bisa menjual perhiasan yang papa beli untuk ku selama ini, tas dan semua tabungan aku, akan aku kasih. Rumah..ya..jika perlu kita jual rumah dan aset kita yang tersisa, asal bisa lepas dari pria br*ngsek itu" Bee sudah turun dari tempat tidur, bersimpuh di hadapan papa nya.
Dengan ragu, ditariknya tangan papa untuk dia genggam. " Pa.."
Hutomo hanya menggeleng. Kini air matanya menetes. Hati gadis itu tersentuh dan ikut sedih melihat masalah yang membebani pikiran papa nya. "Ga akan cukup sayang...bahkan jika pun bisa membayar pokok nya, papa tetap akan kena pinalti karena melanggar perjanjian" papa kini menatap manik mata Bee, berharap Bee bisa kuat, karena tak ada jalan, selain Bee menerima lamaran pria itu.
"500..belum pinalti"
"Juta?aku bisa usahakan pa" secercah harapan terbit hingga senyum melengkung di wajah nya.
"Milyar.."
Bola mata indah itu membulat dengan sempurna nya, menatap marah pada pria yang ada di hadapannya. Seandainya saja pria itu bukan papanya, berdasarkan sifat urakan Bee, entah sudah akan bagaimana dia lakukan pada papa yang kini memasang wajah tersiksa akan tatapan Bee.
Tak bisa memuaskan dengan tindakan kekerasan yang mengerikan, Bee menggigit kuat pergelangan tangan papanya demi memuaskan amarah dan rasa kesalnya.
"Auuuu.." papa mengusap tangannya yang di gigit Bee sampai luka.
"Kamu apa-apa an sih Bee?kenapa kamu gigit papa?" memandang Bee dengan perasaan kesal penuh kesakitan. Gigitan itu seketika membiru.
"Sorry pa, hanya untuk mengurangi rasa kesal dalam hati" ucap nya tanpa rasa bersalah, lalu masuk ke kamar mandi.
"Jangan lama, tuan Bintang sebentar lagi akan menemui mu. Jangan pikirkan untuk kabur atau membuat nya kesal pi, leher papa taruhannya" teriak papa di depan pintu kamar mandi, dengan sesekali menggedor pintu, agar Bee dengar semua perintahnya.
Bee mendengar. Sangat jelas malah. Tapi bukan Bee namanya jika tidak melawan terlebih dulu, walau berakhir kalah. Prinsip yang sellau dia pegang, 'Lebih baik lawan dulu, walau kalah di akhir' .
Sikap perlawanan pertama yang dia tunjukkan, adalah dengan berlama-lama di kamar mandi. Dua jam penuh, walau bi Jum sudah dia kali memanggil, menyampaikan tamu istimewa nya sudah tiba sejak dua jam lalu.
"Cepetan dong non, itu tamu nya udah bolak balik, mondar mandir lihatin anak tangga terus. Wajahnya seram. Bi Jum sample takut"
"Iish..bi Jum, tenang aja. Kalau dia ga sabar nunggu ya pulang aja" sahut nya cuek. Masih sibuk memilih pakaian yang akan dia pakai. Siulan keluar dari mulutnya, mencoba membuat hatinya ceria, melupakan sejenak nasib buruknya. Senyum licik menyembul di sudut bibirnya, membayangkan om mesum si*lan itu mati kutu, bahkan hingga jamuran menunggunya.
"Kita lihat, sampai mana batas kesabaran mu, wahai om-om gatal? lu salah cari lawan. Lu mau nikahin gue?gue buat sengsara hidup lu!" desisnya seraya memutuskan pakaian apa yang akan dia pakai.
Setelah merasa penampilannya cukup nerd, sambil tersenyum membayangkan reaksi sang tamu, Bee melangkah keluar. Rencana untuk membuat pria itu menyesal telah memilihnya mulai tersusun di kepalanya. Mungkin sebagai pihak kedua, papa nya tidak bisa memutuskan perjanjian Dajjal itu, tapi lain hal kalau dengan pihak pertama kan???😏😏