
Bee tampak memejamkan matanya, raut wajah nya masih menunjukkan rasa kesakitan nya.
"Kita periksa ke rumah sakit aja ya, kamu tampak tersiksa Bee" ucap Bintang lembut. Apa kah sesakit itu saat mengalami menstruasi?
"Ga usah kak. Nanti minum air hangat sama tiduran, langsung baikan lagi kok. Kita pulang aja ya, ga usah jadi ke SeaWorld nya" ucap nya lemas.
"Ini, ga di ganti dulu?" Bintang menunjuk bungkusan yang dia beli tadi.
"Ga usah deh kak. Di rumah aja. Banjir, gaun ku udah kena. Di rumah aja" ucap nya masih memejamkan mata.
Bintang memprediksi waktu yang harus dia tempuh kalau kerumah hampir satu jam, dan dia tak ingin melihat Bee begitu tidak nyaman. dengan keadaan saat ini.
Tepat saat mobil melintasi hotel bintang lima, Bintang membelokkan mobil itu ke parkiran hotel. "Yuk turun"
Bee membuka mata. Merasa aneh, tidak mungkin mereka sudah tiba dengan secepat itu. "Kok berhenti di sini kak?"
"Kita di sini aja dulu. Kalau pulang kelamaan. Aku ga mau kamu gelisah gitu. Yuk" Bintang memapah tubuh Bee. Benar, gaun pada bagian belakang nya sudah memerah. Segera di buka jaket nya lalu di ikatkan di pinggang gadis itu.
"Bisa jalan? atau mau aku gendong?"
"Bisa kak" saut nya memonyongkan bibirnya. Bintang menggandeng tangan Bee masuk ke dalam lobby hotel. Beruntung hotel ini hotel bintang Lima, dan kunjungan tamu dapat terjamin tidak terendus oleh media.
Masih dengan masker dan topi, Bee masuk ke dalam bersama Bintang yang justru tak memakai apa pun di wajahnya. Tak ada yang perlu dia sembunyikan. Dia bangga bisa bersama Bee sebagai istrinya saat ini. Bahkan kalau bisa dia ingin mengumumkan pada dunia kalau gadis yang kini tangannya dia genggam adalah istrinya.
"Selamat siang tuan, kamar nya sudah kami siapkan" ucap manager hotel yang begitu melihat Bintang memasuki hotel bergegas menyambut.
"Terimakasih" ucap Bintang melanjutkan perjalanan mereka menuju lift. Bee menatap heran, kenapa mereka masuk dari pintu yang berbeda, serta kenapa harus manager hotel nya menyambut mereka. Dan satu lagi, tidak ada orang sepanjang koridor menuju lift.
"Kak, ini kan hotel mewah, kenapa sepi begini? terus kenapa manager hotel tadi langsung tahu kita mau check in padahal belum order kamar?"tanya Bee masih tercengang.
"Aku sudah mengirim pesan untuk mereka, memberitahu kita akan datang"
"Terus dari mana mereka tahu kalau kita mau kamar yang dia siapkan?" Bee masih penasaran.
"Di hotel ini, ada satu kamar yang tak boleh di sewakan pada tamu. Dan itu hanya milikku. Kalau aku datang ke sini, aku akan tinggal di kamar itu" terang Bintang.
"Oh..terus bayarnya nanti, pas check out gitu?" Bee masih merocos.
"Ngapain bayar neng, kalau kita yang punya hotel ini" ucapnya sembari mencubit ujung hidung Bee.
Mata Bee membulat sempurna dan mulut nya masih melongo. Tak menyangka Hotel mewah ini milik suaminya.
Gila, suami gue tajir banget..
Senyum sumringah muncul di wajahnya.
"Udah?" tanya Bintang yang rebahan di tempat tidur. Menatap Bee yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe nya. "Sini, aku bantu keringkan rambutmu"
"Aku pake baju apa kak?" tanya nya menjatuhkan tubuhnya di sisi tempat tidur.
"Bentar lagi Riko datang bawa pakaian buat kamu" ucapnya seraya terus mengeringkan rambut panjang Bee dengan handuk kecil yang sudah ada di atas kepala gadis itu. Wangi aroma bunga tercium dari rambut Bee, mendorong Bintang mendekatkan wajahnya mencium helai rambut itu.
"Apaan sih kak, aku kan lagi datang bulan, mana bisa celup-celup"
Pletak! Sentilan pelan di keningnya membuat Bee cemberut. "Sakit tahu!"
"Heran deh, punya istri ingusan begini tapi punya perbendaharaan katanya luar biasa banget ya" Bee hanya tersenyum geli mendengar ucapan Bintang.
Setelah di rasa cukup kering, Bintang lanjut menyisir rambut Bee. Sentuhan pria itu begitu menenangkan, dia jadi ingin terpejam rasanya.
"Sudah.." ucap nya meletakkan sisir pada nakas dekat tempat tidur. "Kalau kamu lagi haid gini, yang kita buat kemarin gagal dong?" Bintang sudah meletakkan dagunya pada pundak Bee, memeluk gadis itu dari belakang. Tangannya tak henti mengelus lengan gadis itu.
"Iya kali. Setahu aku kalau haid ya ga mungkin hamil. Sini in kak" ucap nya sambil menarik tangan Bintang, lalu membelai telapak tangannya.
"Kenapa?" satu alis Bintang naik ke atas, bingung akan tingkah istrinya.
"Tangan kakak lembut banget, terasa nyaman hingga buat aku ngantuk"
"Ya udah, kita tidur aja ya" tawar Bintang.
"Di sini? kenapa ga di rumah aja? sayang kan udah kemari hanya di buat tidur" rungut Bee.
"Ya mau gimana lagi? kamu nya lagi palang merah kan, ya ga bisa masuk lah" Bintang masih betah menciumi ceruk leher Bee yang lembut dan wangi sabun.
"Palang merah?" dahi Bee berkerut.
"Berdarah" ucap Bintang sembari beranjak, karena mendengar pintu diketuk.
"Batal kan semua janji dengan Client hari ini dan besok. Saya mau bulan madu dulu" ucap Bintang dan Riko mengangguk mengerti. Tote bag sudah di serahkan dan asisten yang setia itu sudah pamit pulang.
"Nih, cepat pakai, aku ga tahan lihat kamu telanjang gitu. Si Pino jadi tegang ini" ucap Bintang menyerah kan Tote bag pada Bee.
"Kak.." teriak Bee dari dalam kamar ganti.
"Kenapa? ga muat? atau kebesaran?" Bintang dengan posisi tengkurap di tempat tidur masih sibuk memeriksa ponsel Bee. Sesekali dia membaca pesan cinta dari Elang, lalu segera menutup kembali ponsel itu.
Rasa ingin tahu nya membuat dada nya sakit. Harus nya dia sadar, saat ini hati Bee ada bersama pria itu. Tapi sampai kapan? apa benar takdirnya dengan Bee hanya sebatas pemberi keturunan bagi nya saja?
Di gulingkan tubuhnya hingga terlentang. Menatap langit-langit kamar hotel dalam diam. Lalu kembali memejamkan mata. Dia akan ikut suratan Tuhan. Sejatinya dia sudah bahagia saat ini, dengan gadis itu di sisinya.
"Kak..kok malah tidur" rungut Bee.
"Ada apa sayang?" suara lembut pria itu setiap bicara padanya selalu membuat dada Bee bergetar, dan menghangat. Bintang begitu menghargainya, tak sekalipun pernah membentaknya dengan sikap kasar dan ucapan yang menyakitkan, walau pun dirinya yang salah.
Kok ada ya cowok sebaik ini? tapi kenapa aku ga bisa cinta sama dia?
"Malah bengong, aku ga usah di pandangi emang udah cakep" godanya melihat Bee yang terdiam melihatnya.
"Ih..omes ge-er. Bantuin kancing gaunnya"
Suara tawa Bintang menggema di seluruh ruang kamar.