Sold

Sold
Hati yang terluka



Sebenarnya entah untuk apa Kiki mengikutinya bimbel di Ganesha operation, toh nyatanya gadis berkulit putih itu sama sekali tak berminat atas apa yang di terangkan tutor di depan sana. Matanya sibuk menatap anak cowok yang sedang serius mengerjakan contoh soal dari tutor.


"Kita makan bakso dulu ya Bel, lapar nih habis belajar keras.." rengek nya yang membuat Bee terbahak. Belajar bagian mana yang dimaksud Kiki yang membuatnya lelah? namun begitu, Bee tetap ikut dengan gadis itu.


Di seberang gedung bimbel, ada mas Tarno, yang jual bakso Malang enak. Sangkin sering makan di sana, mas Tarno bahkan sudah kenal dengan mereka berdua.


"Habis ini lu kemana Bel?" tanya Kiki sambil mengunyah bakso uratnya.


"Pulang, apa lagi.." Bee masih mengetik pesan untuk tante Di, yang menanyakan sedang dimana posisinya.


"Ga ada kelas modeling lu hari ini?"


"Ga, cuma dua kali seminggu, kenapa?" Bee menoleh ke samping sekilas, melihat ke arah Kiki, lalu meracik kuah bakso dengan saos dan kecap.


"Gue pengen ikut.."terdengar suara Kiki yang berat. Bee tahu, perasaan gadis itu pasti sedang tidak karuan saat ini. Walau menunjukkan wajah ceria, tapi Bee yakin ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Kalau lu mau cerita, gue bakal dengerin kok" kembali Bee melihat ke arah Kiki. Kali ini raut wajah gadis cantik itu berubah sendu.


Hening, tanpa suara. Bee bersabar, menunggu sampai gadis itu siap untuk angkat bicara. Itu pun kalau dia mau.


"Bokap gue..nikah lagi.." wajah Kiki menunduk, hanya mengaduk-aduk mangkok baksonya. Walau tak melihat pun, bisa Bee tebak kalau gadis diujung kuasanya untuk menahan laju air mata. Berusaha tegar diantara hati rapuhnya akan kenyataan yang baru di terima.


Perlahan Bee mengulurkan tangannya. Membelai punggung sobat nya yang biasa selalu ceria itu. Sentuhan Bee justru semakin membuat Isak tangisnya semakin terdengar. Bee memilih diam, menyodorkan tisu ke hadapan Kiki, yang langsung di raih gadis itu. Memuaskan tangisnya, hingga himpitan di dadanya bisa berkurang.


Hampir setengah jam Kiki menangis, menunduk. Setelah rasa sedih berkurang, muncul rasa malu. Malu terhadap Bee yang kini pasti tengah menatapnya."Sorry ya Bel, gue mewek di hadapan lu"suara Kiki kini terdengar parau.


"Manusia itu selalu dihadapkan dengan berbagai masalah. Dan menangis karena lelah akan kenyataan, bukan jadi aib. Ga usah malu, Ki..gue malah say thanks lu cerita ke gue, berarti lu percaya sama gue. Udah..jangan sedih lagi. Kita sebagai anak cuma bisa ngedoain orang tua, dan sebagai anak kita ngejalanin hidup sebaik-baiknya. Yang baik kita contoh, kalau yang buruk, jangan di tiru.." ucap Bee lembut.


Bee mungkin gadis keras kepala, tapi dia gadis yang baik. Selalu setia dengan persahabatan nya. Bukan sejenis orang yang tak perduli pada temannya. "Bel, lu mau kan jadi sahabat gue selama nya?gue ga tahu, lu emang baru enam bulan gue kenal, tapi rasa nya hati gue klop banget sama lu" ucap nya mengusap sisa tetes air mata di pipi sembari melempar senyum ketegaran yang nyatanya di buat-buat.


Dan ke terus terangan ayahnya membuat pertengkaran hebat antara Kiano dan ayahnya, hingga mama nya pingsan, dan Kiano sudah dua hari tidak pulang ke rumah.


"Udah mendingan?kita pulang yuk?" ajak Bee setelah melihat Kiki sudah bisa tampak ceria lagi. Malah sudah menghabiskan bakso nya yang sudah dingin.


***


"Kok sore amat pulang nya sayang? gimana tadi bimbel nya?asik ga?banyak cowok cakep ga?ada yang nyantol ga?" celoteh tante Di yang terus mengikuti langkahnya naik ke lantai dua hingga masuk ke kamarnya.


"Tante sayang, ke sana aku belajar loh.. bukan ngecengin cowok" dengus nya kesal. Entah kenapa tante Di suka banget nanya-nanya soal cowok udah ada yang mendekati dia apa ga.


Kalau biasanya orang tua itu melarang anak gadis nya pacaran saat masih sekolah, tante Di malah nyuruh. "Ga papa lagi sayang, asal kamu bisa jaga diri. Ga boleh grepek-grepek dulu tapi" ucap nya saat Bee tanya kenapa tante Di ingin dia punya pacar.


Fokus Bee saat ini, menyelesaikan sekolahnya dengan nilai bagus agar bisa kuliah di tempat yang sama dengan Elang nanti. Ga usah neko-neko, lagian hati nya udah milik Elang, tak kan tergoda oleh pria mana pun.


"Tante, aku mau mandi dulu ya, ga usah makan malam, ngantuk banget aku tan.." rengek Bee saat tante Di masih anteng duduk memperhatikannya membuka sepatu dan kaos kaki nya.


"Iya, emang ga papa, sekalian itung-itung kamu jaga badan. Nanti Tante antar susu low fat sama apel, siapa tahu kamu lapar tengah malam nanti" ucap tante Di beranjak, namun sebelum keluar, tante Di menyempatkan mencium pipi Bee. "Iyuuuh..lengket amat, jaga kulit kamu, jangan lupa berendam dengan essential oil, biar kulit nya kembali segar" ujar tante Di menuntut.


"Ok bos" sahut Bee berlalu masuk ke kamar mandi.


Setelah berendam hampir satu jam, dengan di temani iringan musik, membuat Bee hampir tertidur di bathtub. Saat keluar, hatinya menghangat saat melihat baju tidur lengkap dengan pakaian dalamnya di atas tempat. Siapa lagi yang menyiapkan semua itu kalau bukan tante Di nya tersayang. Sikap baik tante Di yang selalu memperlakukannya seperti putri kandungnya sendiri, selalu membuat Bee semakin mencintai wanita yang selalu menggodanya itu.


setelah memakai piyama nya, di atas meja rias, Bee mulai rutinitasnya setiap malam, mengoles berbagai produk ke wajah dan tubuhnya. Dan semua itu di siapkan tante Di untuknya. Jika dalam sebulan hand body, atau serum wajah nya tidak habis, wanita itu akan mengomeli nya sepanjang hari. Hingga membuat Bee jadi terbiasa kini melakukan perawatan tubuh nya.


Selesai mengerjakan tugas sekolah, Bee dengan rasa ngantuk nya merangkak ke atas tempat tidur, mediator untuk bertemu sang kekasih dalam alam mimpinya. Bee sungguh merindukannya, walau setelah enam bulan berpisah, Elang hanya sekali berbicara padanya, itu pun saat Bee menelpon Caca dan tepat saat itu Elang ada di rumah nya. Setengah merengek, Bee meminta Caca untuk memberikan ponselnya pada Elang. Sepuluh menit. Hanya sepuluh menit mendengar suara pria itu, cukup buatnya bertahan di ibu kota ini, menyelesaikan misinya, perjanjian dengan papa nya, hingga suatu hari nanti mereka bisa bertemu lagi.