
"Apa guna nya Bee? kalau kamu akhirnya harus menikah dengan dia?" desak Elang. Dia juga tersiksa dengan kenyataan ini.Dia hancur.
Saat dirinya mulai benar-benar menyukai seorang gadis, justru sudah menjadi milik pria lain. Sungguh dia tak rela melepas Bee.
"Aku minta waktu Lang, aku janji akan menyelesaikan masalah perjodohan ini. Aku juga ga mau menikah dengannya Lang" mohon Bee mengiba.
"Sudah lah Bee. Aku sudah ga mau mendengarkan kebohongan mu lagi. Aku kecewa padamu. Sekian lama kamu ngebohongi aku? kamu nganggap aku apa Bee?" bentak Elang yang membuat Bee tersentak.
"Maaf kan aku Lang, aku ga bermaksud ngebohongi kamu" Isak nya semakin terdengar.
"Sudah, pergi lah! aku tak mau melihat mu lagi!" Elang sudah pergi menjauh, meninggalkan Bee yang jatuh berlutut di tanah dengan raungan yang menyedihkan.
Tak lama terdengar suara motor yang sudah sangat dia kenal, motor nya Elang. Segera Bee bangkit mengejar, namun pria itu sudah melesat pergi, tanpa memperdulikan Bee.
Harus kemana dia meluapkan kesedihannya. Bahkan untuk mengingat kembali ke rumah pun dia tak sudi. Bee memilih untuk pergi ke sebuah taman di jalan Sudirman. Duduk seorang diri, menangisi nasibnya.
Di rogoh nya tas tangan nya, benci dengan ring tone ponselnya yang sedari tadi berdering.
Nama Jangan diangkat tertera di layar, yang semakin membuat nya marah. Di matikan nya benda pipih itu. Dengan kesal melempar kan kembali benda itu ke dalam tas.
Taman kota itu begitu ramai. Kebanyakan pengunjung adalah orang tua yang membawa anak nya untuk bermain, karena banyak penyewa mainan berupa mobil-mobilan dengan remote control yang bisa dinaiki, skuter atau pun otoped.
Kursi di pinggir lapangan taman menjadi pilihan. Selain ada pohon yang akan menghalau nya dari tatapan ingin tahu orang-orang, dia bisa menangis sepuasnya.
Hampir lima jam, dia duduk sendiri di sana. Dengan pikiran yang kosong. Begitu frustasi nya, seberapa kali pun dia berfikir, tetap tak ada jalan keluar untuk masalahnya.
Pengunjung yang sudah mulai sepi, membawa langkah nya untuk segera pulang. Seandainya dia punya tempat pulang selain rumah. Dia lelah.
Dengan menyelinap dari pintu samping, Bee masuk rumah tanpa di lihat oleh siapa pun bahkan tante Di. Dari arah ruang tamu, sayup-sayup dia bisa mendengar suara orang sedang berbicara dengan nada suara kasar dan penuh amarah. Bintang!
Pria itu selalu mendominasi, hingga membuat nya muak. Lalu terdengar suara papa nya yang berulang kali minta maaf, dan tante Di yang menangis. Bee tak perduli, bahkan jika pria itu akan membakar seluruh isi rumah ini termasuk dirinya.
Perlahan dia menaiki tangga, masuk ke kamarnya, lalu mengunci pintu dari dalam. Begitu memuakkan nya kenyataan hidup nya saat ini. Tiada lagi tempat untuk bisa bernafas tanpa ada tekanan.
Lelah pikiran dan juga hatinya. Rasanya tak ada lagi kebahagiaan untuk nya di dunia ini. Bee dengan segala frustasi dan pemikiran kalut nya masuk ke dalam kamar mandi.
Semua omongan Elang siang tadi terus berputar dalam ingatannya.
Keran air dia putar hingga habis, berdiri di bawah air shower yang dingin, untuk sekedar menyejukkan pikirannya. Bukan menjadi lega, malah semakin kalut.
Entah setan apa yang merasuki nya. Diliriknya pisau silet yang dia gunakan tempo hari untuk merapikan alisnya. Lama dia melihat benda tajam berbentuk segi empat itu. Menimbang, apa kah keputusan nya sudah benar?
Tapi untuk menimbang benar atau salah tindakannya bukan lah sekarang waktu yang tepat. Yang dia tahu, dia ingin mengakhiri semua ini, karena tak ada lagi tujuan hidupnya.
Dihantui kehilangan Elang, Bee mendekatkan silet itu ke nadi tangannya.
Sreeeet.....
Darah segar mengucur deras. Bee sudah terduduk di bawah siraman air, dengan membawa darah segar nya menuju saluran pembuangan air.
"Bagaimana mungkin kau kehilangan jejak nya?" maki Bintang pada Herman dan dua anak buah nya.
"Maaf tuan. Saya mengikuti Elang yang keluar dari tempat itu bersama seseorang, saya kira itu non Bella" sahut salah satu pria tinggi besar itu.
Bintang masih mondar-mandir di ruang tamu rumah Bee. Sudah delapan jam dia menunggu kepulangan gadis itu. Saat datang kerumahnya untuk melihat kondisi gadis itu, tante Di yang mengecek ke kamar mendapati kamar itu sudah kosong.
Berulang kali di hubungi pun tak diangkat hingga ponselnya tidak aktif.
Hutomo masih diam, mendengarkan suara Bintang yang terus menggema di rumah nya, marah karena kelalaian tante Di yang membiarkan Bee keluar rumah, bahkan sampai menemui Elang.
"Diana, tolong lihat ke kamar nya, apa mungkin dia meninggalkan pesan atau rencana di agenda nya. Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk" usul Hutomo.
Langkah tante Di terseok berjalan menuju kamar Bee. Saat mencoba membuka pintu, yang dia yakin tadi nya kamar itu tidak terkunci, namun tetap knop pintu itu tak mau terbuka.
"Bee.. kamu di dalam nak? udah pulang?"
Tante Di berulang kali mengetuk pintu. Tak ada jawaban.
"Bee..kamu di dalam sayang? Buka pintu nya nak, tante mau ngomong" ketukan berubah jadi gedoran kencang di daun pintu. Telapak tangan tante Di bahkan sudah memerah memukuli pintu, tapi tetap tidak di buka.
Dari ruang tamu Bintang dan Hutomo yang mendengar suara histeris tante Di beserta ketukan itu segera berlari menuju arah suara tante Di.
"Ada apa tante?" Bintang yang berjalan menaiki anak tangga sekali dua tiba di depan pintu kamar Bee lebih dulu.
"Pintu kamar ini tadi tidak terkunci, tapi kini sepertinya Bee sudah pulang dan mengunci dari dalam. Tapi aku panggil-panggil, tak ada sahutan. Aku takut terjadi hal buruk padanya.." suara tante Di begitu ketakutan.
Dengan cepat Bintang mendobrak pintu mahoni itu. Sekali gagal, kali ke dua Hutomo dan beberapa anak buah Herman ikut membantu hingga pintu itu terbuka. Tapi ruang kamar itu kosong.
Suara air yang mengalir membuat mereka tersadar lalu menuju kamar mandi, dan semua terkejut, bahkan tante Di pingsan. Beruntung segera ditangkap anak buah Herman yang membopong nya ke tempat tidur.
Di sana, gadis itu terduduk dibawah siraman air shower dengan mata terpejam, dan pergelangan tangan yang sudah tersayat. Darahnya mengalir terbawa air.
Kalau ada yang sadar untuk menoleh ke arah wajah Bintang, pasti lah mereka akan sadar jika saat itu mungkin roh pria itu melayang entah kemana!