
Semua sudah diatur oleh pasutri yang baru saja berbaikan itu. Dimulai dari pagi hari, mereka akan bersikap biasa saja bahkan terkesan masih bertengkar. Ini bertujuan memancing Hana untuk lebih mengeluarkan wajah aslinya.
Hari ini Bee akan mulai syuting bersama Saga dan kini keduanya tengah menghabiskan sarapan pagi nya. Bintang yang sejak tadi sudah lebih dulu ada di sana dan lagi-lagi sudah bersama Hana dan si kembar.
"Pagi, sapa Hana saat tadi Bee bergabung bersama Saga.
"Pagi Han" ucap nya mencoba memasang wajah normal seperti tidak sedang menyimpan bara. Bintang saja yang sempat melirik wajah Bee ingin memastikan istrinya dapat berakting dengan baik, harus mengakui keunggulan bakat Bee. Diam-diam Bintang mengerling saat keduanya saling bertatapan dan tentu saja Hana tidak lihat.
"Saga sudah rapi, mau kemana Bee?"
"Oh, iya. Hari ini kami syuting Han. Mulai lagi biar cepat selesai" sahut Bee santai. Memasukkan suapan nasi goreng nya ke mulut.
"Oh..bagus lah. Tapi Bintang udah setuju kan?" ucap nya melirik Bintang. Pancingan Hana untuk membuat huru hara di makan Bee. Bukan kah ini yang Bintang dan Bee tunggu-tunggu?
"Oh, aku tidak perduli dia setuju atau tidak. Yang jelas aku sudah bilang kalau kami akan syuting" sahut Bee menunduk, tidak sanggup laga mata dengan Bintang yang saat ini menatapnya geli.
Hana dengan wajah palsunya berupaya menyudutkan Bee agar terlihat bersalah di hadapan Bintang. "Kamu ga boleh gitu Bee, istri harus nurut apa kata suami. Harus bisa di atur"
"Dengar itu Bee. Bisa ga kamu sebijak Hana? dia aja yang belum menikah mengerti. Aku kadang bingung, sebenarnya mau kamu apa sih?"
"Loh, kakak kok jadi nyolot gitu. Apa aku salah mengabdi sama masyarakat? ini juga iklan nya kan dari dinas kesehatan, buat layanan masyarakat"
"Ah..sama aja. Kamu jadi lebih banyak di luar rumah. Kalau lama-lama begini, kesabaran ku ada batasnya" ucap Bintang mengambil tisu, menyeka ujung bibirnya lalu melempar di atas meja makan.
"Jadi mau kakak apa? mau nikah lagi? silahkan cari istri yang bisa nyenengin kakak" Bee sudah mendorong kursinya dan berdiri. Saga yang juga sudah disuapi oleh Bee ikut bangkit.
"Kau mau kemana? aku belum selesai ngomong"
"Bodo" Bee pergi membawa Saga keluar rumah. Pak Komar yang sejak tadi memanaskan mobilnya membuka pintu saat melihat majikan nya datang. Dari arah belakang Bintang juga menyusul dan coba tebak, Hana mengekor langkah Bintang ingin melihat kalau ada perdebatan seru lagi.
Menyadari siluman ular masih ikut di belakang, Bintang mengepal tinju geram karena terus diawasi wanita berbisa itu. Bintang yang awalnya ingin satu mobil dengan Bee terpaksa masuk ke dalam mobil nya sendiri dan segera pergi, di susul oleh Bee dengan disupiri pak Komar.
Masih di perempatan jalan, Bintang sudah menunggu mobil Bee datang. Melihat mobil suaminya berhenti, Bee juga ikut berhenti. Bintang keluar, meminta pak Komar membawa mobil nya sementara dia masuk ke dalam.
"Hai sayang.." sapa Bintang penuh senyum, tapi Bee memilih untuk tidak menjawab, malah buang muka.
"Kok gitu? kenapa?"
"Apa nya yang kenapa? kakak enak benar marah-marah sama aku tadi di depan Hana" sempat dengan nada tinggi, tapi di tengah kalimat Bee sadar Saga tengah mengamati mereka, jadi segera menurunkan volume suaranya.
"Aku kan harus total yang, biar dia ga curiga. Buktinya kamu lihat sendiri kan, dia langsung nyudutin kamu buat cari muka di depan aku?" Bee diam. Memikirkan kebenaran ucapan Bintang.
"Tapi yang aku tangkap tadi kakak kayak lagi mengungkapkan isi hati kakak yang sebenarnya" bibir manyun Bee masih bertengger di sana.
Tidak perduli kalau istrinya masih marah, Bintang menguyel-uyel pipi Bee, membujuk wanita itu agar tidak marah lagi.
"Saga, siapa wanita yang paling cantik?"
"Mama" jawab Saga mendekat. Anak itu seolah mengerti komando dari papa nya untuk membantu membujuk mama nya yang sedang ngambek.
"Siapa wanita yang paling kita sayang?"
"Mama"
"Mamaaa.." teriak Saga hingga berhasil meluluhkan hati Bee dan membuat nya tersenyum. Melihat senyum Bee mengembang, Bintang menarik kepala wanita itu dan mencium kening nya lama, setelahnya Bintang juga mencium puncak kepala Saga.
"Kakak kenapa ke sini? nanti telah ke kantor. Tuh pak Komar nungguin" ucap Bee menunjuk mobil Bintang.
"Halo pak Komar, bapak ke kantor aja dulu. Tunggu di sana aja. Biar saya yang mengantar mereka" ucap Bintang melalui ponselnya.
"Kakak ga ngantor?"
"Ga, mau mengawal anak istri ku, biar ga di ganggu orang"
***
Suasana ramai di penuhi kru dan tim nya, juga ada fotografer yang sudah lama di kenal Bintang yang terlibat dalam projek ini.
"Bos, apa kabar" sapa Rio
"Baik. Sutradara nya mana?" tanya Bintang mengamati satu persatu orang yang ada di sana. Bee dan Saga sudah di bawa untuk di rias dan berganti wardrobe.
"Itu bos" Rio menunjuk seorang pria yang belum pernah dia temui. Dia sudah lama berkecimpung dengan artis, para model, sutradara, tapi belum pernah bertemu dengan yang satu itu.
"Orang baru?"
"Ga baru-baru amat sih bos. Dia jutawan yang selama ini menjadi produser, kini mau coba terjun langsung"
"Bos ga kenal dia? lagi heboh berita nya bos, dia itu duda tajir melintir yang baru aja cerai sama istrinya" suara Seba yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka membuat kedua pria itu terkejut.
"Sejak kapan lo di situ?" bentak Bintang hampir saja menimpuk tubuh gempal Seba.
"Sejak bos kepo, nanya-nanya doi dong" Bintang menutup mulut nya saat timbul dorongan memaki pria itu.
Kalau rencananya Bintang hanya akan mengantar sampai lokasi syuting dan kembali ke kantor, kini dia justru bertahan di sana, mengamati jalan nya proses syuting. Bintang bisa melihat bagaimana cara si duda muda itu menatap Bee.
Tawa renyah Bee saat mendengar ucapan pria itu mampu memancing rasa cemburu. Panas hatinya melihat sang istri berbagi kegembiraan dengan pria lain.
"Ga usah di pantengin terus bos. Bee ga bakal lari kepelukan pria lain, kecuali..."
"Kecuali apa?" sambar Bintang
"Kecuali bosan lihat suaminya yang suka marah-marah"
"Lo mau gue pecat? lagian lo ngapain di sini? bukan nya di garmen?"
"Sorry bos, gue nemenin laki gue tuh yang jadi MUA nya"
Dua gelas kopi sudah habis diminum Bintang, tapi syuting itu masih jauh dari kata selesai. Semua gerak-gerik Bee dan juga si duda masih terus dalam pantauannya, tidak lepas sedikit pun dari pengamatan.