Sold

Sold
Memaafkan tapi tidak melupakan



Langkah kaki Kinan tampak lemah. Sebenarnya dia malas untuk masuk kerja hari ini. Tapi dia tidak menjawab pertanyaan dari Setiawan yang pasti akan mengintrogasi alasan absennya.


"Maaf Bu, ada tamu mencari ibu" ucap sekretaris nya saat Kinan hendak masuk ke ruangan nya.


"Siapa?" tanya nya dengan kening berkerut. Kalau Bee pasti akan menghubungi dulu, kalau Piter, dia pasti sudah menerobos masuk. Kinan sama sekali tida punya gambaran akan tamu nya kali ini.


"Seorang wanita Bu. Namanya nona Kirei"


Sepintas nama itu begitu familiar di telinga Kinan, tapi sekuat apa pun dia berfikir, nama itu tidak membawanya pada satu raut wajah yang dia kenal.


"Dimana dia sekarang?"


"Di ruang tunggu Bu"


"Suruh ke ruangan saya aja, Nit" Kinan melangkah masuk ke dalam ruangannya. Pagi ini Kevin tidak ikut bersama nya karena pria itu di minta Setiawan untuk menemui rekan bisnis mereka yang baru.


Suara ketukan di pintu membuat Kinan meletakkan ponselnya dan memandang ke sana. "Masuk"


Hanya dengan melihat sekilas wajah wanita.itu, Kinan sudah bisa mengingat siapa dia. Dia mantan pacar atau pun masih berstatus pacar Piter.


"Maaf aku mengganggu waktu mu. Tapi ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" ucap wanita itu berdiri tepat di depan meja Kinan. Perlahan Kinan mengangguk dan bangkit dari duduknya berjalan menuju sofa yang biasa dia gunakan untuk menyambut para tamunya.


"Kenal kan aku Kirei. Aku.."


"Aku tahu siapa kamu" ucap Kinan memotong. Tidak perlu di jelaskan, dia tahu siapa Kirei bagi hidup Piter.


"Oh." Kirei menunduk sesaat. Menimbang dari mana awal yang tepat untuk mengatakan maksud kedatangannya.


"Ada apa kamu mencari ku?"


"Aku.." Kirei mendongak. Rasa takut dan gugup merajai dirinya.


"Kamu terlihat gugup. Mau minum apa?"


"Teh"


Kirei bangkit dan menekan satu angka pada pesawat telepon. "Nit, tolong buatkan Teh. Dua dan bawa kemari ya, makasih"


"Nan, aku datang kemari untuk mengatakan sesuatu. Sebelum nya aku minta maaf. Aku salah dan sangat menyesal" ucap nya menatap Kinan. Sejak tadi Kirei sudah meremas jemarinya, mengurangi rasa gugupnya.


"Atas apa?" Kinan menebak apakah karena Piter kini kembali pada Kirei? hingga gadis ini merasa bersalah karena sudah merebut Piter dari nya lagi? apakah hati Piter semudah itu untuk berubah haluan? tidak punya pendirian?


"Aku..aku lah menyebabkan kamu keguguran tempo hari. Aku lah pelakunya Nan, aku yang menumpahkan pembersih lantai itu di toilet salon waktu itu, aku menyesal Nan. Aku minta maaf" Kirei sudah menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kinan yang tampak sangat terkejut.


Kejadian yang susah payah ingin dia lupakan kini justru kembali di ingatkan, dan itu pun oleh orang yang menjadi pelakunya.


"Maaf kan aku Nan. Waktu itu aku begitu di buta kan oleh hasrat ingin memiliki Piter. Cinta ku yang besar padanya membuat ku tidak bisa berpikir dengan benar. Aku menyesal Nan, tolong maaf kan aku" isakan Kirei begitu terdengar pilu.


Apa pun tidak bisa Kinan ucapkan lagi. Mulut nya terkunci rapat, meratap kenyataan yang baru dia dengar. Dia ingin mencekik wanita yang kini memegangi kakinya, memohon maaf nya. Anak yang begitu dia cintai, harus tiada karena ulah orang ini!


"Nan, aku mohon katakan sesuatu. Aku takut Nan. Izin kan aku memperbaiki hidup ku. Aku mohon jangan biarkan Piter memasukkan ku ke dalam penjara"


Menyebut nama Piter, baru lah Kinan sadar bahwa pria itu juga sudah tahu masalah ini. Dan parah nya dia tidak memberitahukan pada Kinan. Untuk apa? agar dia tidak menghakimi kekasihnya ini?


"Kenapa dia ingin memasukkan mu ke dalam penjara? bukan kah hingga saat ini kalian masih berhubungan?"


Kirei menggeleng. "Tidak Nan, semenjak kian menikah, hubungan kami telah berakhir"


"Bohong, aku lihat sendiri, kalian bersama saat aku masih mengandung anak nya. Di sebuah mall, yah..aku melihat mu tepat tiga hari sebelum aku keguguran" salak Kinan mengingat hari yang menyakitkan itu.


Memikirkan omongan Kinan, Kirei berpikir keras, kapan tepatnya dia dan Piter di lihat Kinan di mall. Lalu ingatannya muncul. "Itu adalah hari dimana aku memaksa Piter untuk menemaniku satu harian, agar aku mau berpisah dengannya. Maaf kalau aku melukaimu Nan" Kirei semakin tertunduk. Dengan punggung tangannya dia menghapus jejak air mata di pipinya.


"Nan, aku dan Piter sudah tidak punya hubungan lagi, dan aku tidak akan menggangu hubungan kalian lagi. Aku mohon, bicara lah pada Piter agar dia melepaskan ku dari tanggung jawab ini" mohon Kirei menggenggam tangan Kinan.


Tepat saat itu, pintu terbuka, Piter muncul. Melihat kehadiran Kirei di ruangan itu, dan bersama Kinan, emosinya kembali memuncak. Dengan langkah lebar, Piter datang mendekat lalu tanpa disangka kedua wanita itu, Piter menjambak rambut Kirei.


"Untuk apa lo kemari? jangan pernah lo dekati Kinan. Jauhi dia, dasar pembunuh!" umpatnya masih menggengam gulungan rambut Kirei.


"Piter, lepaskan. Dia kesakitan itu" ucap Kinan mencoba melepas genggaman tangan Piter yang semakin kuat menjambak rambut ikal Kirei.


"Biarin Nan. Ular ini pantas mendapatkannya" Piter masih tidak ingin melepas cengkraman nya.


"Aku bilang lepasin. Hanya pria lemah dan tidak punya perasaan yang berani menyakiti seorang wanita" tegur Kinan menarik tangan Piter. Tidak punya pilihan lain, Piter melepaskan rambut Kirei.


"Untuk apa dia kesini?" hardiknya berjalan ke satu kursi dan duduk dengan mata masih mengawasi Kirei.


"Dia datang untuk minta maaf Ter." Kinan menarik tubuh Kirei dan mengajak wanita itu untuk duduk di kursi di hadapan Piter.


"Cuih..apa kau percaya ular berbisa ini bisa menyesal? Dia manusia tidak punya hati, tidak perlu di maafkan atau dikasihani" umpat Piter menatap jijik ke arah Kirei. Reaksi Kirei hanya menunduk diam. Apa yang dikatakan Piter benar. Dia manusia yang paling jahat, dan dia menyesalinya kini.


"Aku percaya dan aku memaafkan nya" ucap Kinan tegas.


"Kau gila! dia sudah membunuh anak kita, Nan!"


"Aku tahu, tapi semua orang bisa melakukan kesalahan. Kita juga manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan kan? Jika Tuhan tidak mengizinkan anak itu bersama kita, berarti anak itu bukan rezeki kita"


"Aku ga perduli. Dia sudah membunuh anak ku, aku akan menjebloskan nya ke penjara!"


"Ter, aku mohon. Yang paling terluka di sini adalah aku, dan aku bisa memaafkannya, kenapa kamu tidak bisa? jangan lupakan, bahwa kamu juga awalnya tidak menerima kehadiran anak itu. Bahkan kamu sempat meragukan nya sebagai darah daging mu!"