
Bintang kini terdiam. Terpaku di hadapan ibu nya yang kondisinya terlihat lemah berbaring di atas tempat tidur.
"Ibu..jangan di pikirkan lagi. Nanti ibu sakit"
"Bebaskan dia Tang. Jika memang istrimu tidak bahagia dengan mu, maka lepaskan dia" wanita itu kembali memijit kening nya yang terasa sakit.
"Tapi aku mencintai nya Bu. Dia juga ibu dari anak ku"
"Dan kau tega melihat dia tersiksa bersama mu? itu yang nama nya cinta? jika memang kau adalah tempat nya pulang, maka dia akan datang pada mu nanti. Tapi untuk sekarang, izin kan dia pergi" air mata ibu kembali menetes.
Kembali teringat percakapan Bee dengan Elang melalui telpon. Saat itu, Ibu yang merasa sudah sangat sehat memasak ikan pindang dan ingin Bee mencicipi nya, tapi saat di pintu justru dia terkejut mendengar kenyataan yang ada.
Dalam diam dan hati yang hancur, ibu bertahan berdiri di balik pintu yang memang tidak terkunci, mendengar semua nya secara seksama, meyakinkan dirinya ini bukan mimpi.
Nyata nya pernikahan anak nya bermasalah. Dia mengutuk keputusan Bintang yang menikahi Bee di bawah tekanan dan juga paksaan.
Dan lebih menyakitkan, menantu yang sudah dianggap putri nya sendiri itu, mencintai orang lain, bukan anak nya. Dan bertahan di rumah ini hanya karena kasihan melihatnya yang sakit.
Dia tidak perlu dikasihani. Yang dia butuhkan kejelasan rumah tangga anak mantu nya. Jika perpisahan adalah jalan yang tepat, maka biarlah itu terjadi.
"Bintang..dengar kan ibu. Ini demi kebaikan mu juga Bee. Jangan pikir ibu tidak sayang padanya. Hati ibu juga hancur menerima kenyataan ini. Tapi di sini kau lah yang salah. Bahkan kau mengancam anak di bawah umur" ujar ibu. Bintang sudah menjelaskan semua dari awal pertemuan hingga rencana nya mendapat kan Bee.
Tentu saja ibu tersentuh dengan usaha Bintang. Tapi kembali lagi, cinta tidak bisa di paksakan.
Besok pagi nya, ibu meminta keduanya untuk menghadap ibu. Wajah Bee tampak sembab. Bukan nya Bintang tidak tahu. Sepanjang malam Bee menangis terisak, menahan kesedihannya untuk tidak menjerit.
Bintang sudah coba menenangkan, tapi gadis itu tetap menangis. Hingga gadis itu tertidur dalam pelukannya, kegelisahan masih mengikutinya hingga ke alam mimpi.
"Ibu mau kalian segera berpisah. Bintang sudah setuju untuk melepas mu. Kau bisa pergi Bee" suara tegas ibu menggema di ruangan itu.
Tak sejengkal pun wajah ibu yang berani di lihat Bee. Ucapan ibu lebih menyakitkan dari putusan pengadilan menurutnya. Jika nanti di pengadilan ada masa mediasi yang di berikan untuk mereka, tapi ini sama sekali tidak ada harapan.
Lucu nya hati nya terasa hancur, padahal ini lah yang diinginkannya bukan?
Waktu berjalan. Pemanggilan untuk nya dari pengadilan agama di mulai. Sudah di putuskan ibu, Saga akan bersama mereka sesuai perjanjian gila mereka dulu.
Bee hanya diam, merenung nasibnya sembari memandang wajah malaikat Saga yang sedang menyedot sumber kehidupannya. Sebulir air mata jatuh ke telapak Saga yang ingin menangkup wajah Bee.
Waktu mediasi yang di berikan pengadilan pun seolah enggan untuk diambil Bee. Apa kah ada guna nya untuk saat ini. Tapi Bintang bersikeras ingin menggunakan kesempatan terakhir untuk mempertahan kan Bee, mempertahan kan cinta nya.
"Jadi ini keputusan mu Bee? aku begitu sayang padamu. Kenapa tidak bisa kamu coba untuk membuka hatimu. Berikan aku cinta mu sedikit saja" ucap Bintang bergetar menahan tangis, sedangkan Bee sudah menangis hingga tubuh terguncang hebat.
Dia ingin teriak kalau dia tidak mau pisah Dia ingin mengakui, kalau hatinya sudah memiliki rasa untuk Bintang. Tapi kenapa semua serasa terlambat?
Perlahan Bee mengangkat wajah nya yang masih bersimbah air mata, menatap Bintang. Ingin menyimpan lekat wajah pria yang mencintai nya tanpa syarat. Kenapa kebodohan yang bersarang dalam dirinya terlalu lama membelenggu?
Tak ada pilihan, palu hakim sudah di ketuk. Kini mereka sudah sah bercerai. Mereka kini bukan lagi satu, sudah jadi orang asing yang menyimpan rasa dalam hati masingmasing.
"Jaga diri mu baik-baik. Semoga kau menemukan kebahagiaan mu" ucap Bintang mengulurkan tangan kehadapan Bee. Dengan ragu Bee menerima uluran tangan itu. Jabatan terakhir mereka sebelum melangkah dari pengadilan ini.
Karena setelah ini, mereka adalah orang asing. Yang mungkin akan bertemu namun tidak saling tegur.
Bee hanya mengangguk dan akan segera melangkah, tapi tangannya di tahan Bintang.
"Untuk yang terakhir kali, izin kan aku mengantar mu pulang" Bee tidak menolak. Alih-alih merasa risih seperti dulu setiap bersama Bintang, kali ini dia ingin jalanan ini semakin panjang dan lama, hingga waktu bersama Bintang akan semakin lama juga.
Belum ada sehari, bahkan dia sudah sangat rindu pelukan pria itu.
Harapan Bee tertiup angin siang itu. Sekejap saja mereka sudah tiba di rumah. Mira bilang Saga sedang tidur, hingga Bee memutuskan untuk langsung ke kamar.
"Secepat mungkin aku akan keluar dari rumah ini kak. Tapi aku mohon, izin kan aku dua hari ini tinggal disini. Aku ingin sedikit lebih lama bersama Saga" ucap nya pelan. Dulu begitu ingin lepas, kenapa sekarang mengutuk perpisahan ini?
Bintang mengambil tempat di samping Bee. Ikut menatap bayi mungil mereka. "Boleh kah aku meminta sesuatu padamu?" ucap Bintang tanpa melihat ke arah Bee. Pandangan nya masih fokus pada Saga.
Katakan kak, aku akan lakukan apa pun demi menebus kesalahan ku padamu. Ya Tuhan aku tidak ingin meninggal pria ini..
Bee hanya me ganggu tanpa bersuara. Menunduk agar tidak terlalu lama menatap wajah yang selalu membuat jantung nya berdetak cepat.
"Aku ingin kamu tinggal di sini. Di rumah ini bersama anak kita"
Mata Bee membulat. Dia tidak sedang salah dengar. Bintang mengalihkan pandangan nya kini pada Bee. "Kamu mau kan? aku tidak akan sanggup memisahkan ibu dan anak. Aku yang akan pergi dari sini. Tinggal lah di sini bersama Saga. Aku mohon kamu menerima rumah ini"
Bagi Bee, Bintang bukan manusia. Tapi malaikat. Sayang nya sudah terlambat untuk menyadari nya. Membuang emas, berlian demi batu akik yang busuk.
Lagi, air mata nya jatuh. Hanya anggukan yang bisa dia berikan. Hati nya penuh rasa penyesalan sudah meninggalkan orang sebaik Bintang. Dan dia hanya berharap, Bintang akan menemukan kebahagiaan, menemukan wanita yang tulus mencintai nya dan mempu memberikan kebahagiaan untuk nya.