
Pohon jambu itu cukup tinggi. Banyak ranting dan tampak mudah untuk di panjat. Bee sangat bersemangat mengambil buah jambu air yang begitu besar dan tampak sangat segar dan lezat.
"Yang itu lagi Bee..itu.." tunjuk Caca dari bawah. Bee semakin bersemangat. Kali ini bidikannya buah yang paling besar. Ada lima buah dalam satu ranting. Cuman masalahnya buah itu berada di ujung ranting.
"Ga usah Bee, nanti kamu jatuh. Itu rantingnya ga kuat nahan berat kamu" teriak Lala. Namun tak jua di indahkan Bee. Merasa sanggup dan adrenalin nya tertantang, Bee perlahan berjalan ke depan hingga tangannya bisa menyentuh buah itu. Sedikit lagi..lagi..dan berhasil. Bee sudah menggenggam pucuk ranting lengkap beserta buah jambu, namun naas ranting yang dia injak tak sanggup menahan lagi.
Creeeek..
Ranting nya patah bersamaan dengan Bee yang ikut jatuh. Semua teman nya datang mendekati Sky yang sudah tergeletak di tanah. Jatuh dari ketinggian pohon tiga meter lebih. Bee masih sempat bergerak, mengangkat kepalanya, sebelum jatuh pingsan.
Dengan panik, papa, tante Di serta ketiga sahabatnya ikut membawa Bee ke rumah sakit. Gadis itu masih tak sadarkan diri. Sudut keningnya banyak mengeluarkan darah karena saat jatuh menimpa gundukan batu di tanah.
Oleh dokter, pingsan nya Bee diberitahukan pada Hutomo karena benturan di keningnya, namun sudah di atasi. Untungnya gadis itu tidak mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tapi yang paling berat, hanya pada pergelangan kaki nya yang cedera. Ada sedikit patah dan pergeseran pada engsel kakinya.
Wajah pucat Hutomo kini berangsur berlalu. Tante Di juga kini sudah mulai berhenti menangis. Tante Di dengan setia menemani Bee di sisi tempat tidur, menunggu keponakan nya itu siuman agar bisa memarahi nya nanti.
"Sudah lah Diana, yang terpenting Bee selamat, tidak terjadi hal yang jauh lebih buruk. Jangan menangis lagi" pinta Hutomo.
Malam nya, baru lah Bee siuman dari pingsannya. Perlahan, saat membuka mata, orang pertama yang dia lihat adalah sosok Elang. Bee membalas senyum Elang padanya.
"Kalau udah gadis, ga boleh manjat pohon begitu Bee, lihat nih kamu jatuh kan" ucap nya penuh sayang.
"Aku kan udah biasa manjat Lang, yang itu emang lagi sial aja" balas nya tak mau kalah.
Obrolan mereka terhenti, saat tante Di masuk, dan Elang memberi tempat untuk tante Di yang ingin menyapa Bee. "Udah siuman nak? tante khawatir sekali Bee" kembali tante Di tersedu.
"Aku baik-baik aja tante, please jangan nangis" ucap Bee menghapus air mata tante Di yang merebak di pipi.
Walau tak suka pada Elang, tapi tante Di tahu, hanya pria itu yang saat ini bisa membuat Bee tertawa gembira. Maka tante Di undur diri, keluar untuk melihat Hutomo, dan menitipkan Bee pada Elang.
Hutomo terlihat mondar-mandir di koridor rumah sakit tak jauh dari ruang rawat Bee. "Ada apa?" tanya tante Di yang merasakan ada sesuatu yang tak beres, hingga membuat Hutomo panik seperti itu.
"Mau gimana lagi ini Di, pria itu marah. Setelah tahu Bee jatuh dan masuk rumah sakit, dia meraung di telpon, mengatai ku tak becus menjaga Bee hingga dia bisa jatuh dari pohon"
Mendengar penuturan Abang iparnya itu, tante Di hanya menjatuhkan dirinya di kursi tunggu yang ada di dekat mereka.
"Entah harus bersyukur atau malah bersedih. Bee bertemu dengan pria yang begitu mencintainya, hingga kehilangan akal. Parahnya, pria ini adalah pria berkuasa saat ini!"
"Ya..aku takut, kalau aku bicara pada Bee, dan putri ku tak menyukai ucapan ku, dia bisa saja melaporkan ku pada calon suaminya" suara Hutomo terdengar malas.
Atas perintah Bintang, Bee di pindahkan ke ruang VIP di rumah sakit St. Maria, agar bisa lebih tenang dan nyaman hingga proses penyembuhan bisa cepat.
Malam itu, Elang memohon agar di izin kan menjaga Bee, namun Hutomo tak mengizinkannya. Jatuh dari pohon saja sudah membuatnya di marahi habis-habisan, apa lagi kalau sampai tahu, Elang bersama Bee semalaman, bisa di gorok pria gila itu papa nya.
Pengaruh obat yang dia minum, untuk menghentikan pendarahan serta penyembuhan luka nya membuat Bee terlelap cukup lama. Hingga siang itu, saat dia terbangun karena lapar, Bee dengan malas membuka matanya.
Namun hal pertama yang dia lihat setelah membuka matanya, adalah sosok pria yang selama tiga hari ini tak ada kabar berita, tepatnya menghilang.
Dari wajahnya dapat terlihat keterkejutan dirinya. Celingak-celinguk melihat sekeliling, tak ada orang lain, bahkan tante Di yang biasa setia di sisi nya kini tak ada. Hanya dirinya dan pria yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan membunuh yang ada di ruangan itu.
Bee bergerak dengan gelisah. Mencoba memutuskan untuk pura-pura pingsan lagi. Tapi hal itu urung dia lakukan.
Bagaimana kalau pria itu malah mencekik ku, dia kan memang gila!
Akhirnya dengan berani, Bee tetap menatap Bintang, walau di hati nya penuh ketakutan.
Masih diam. Saling tatap. Pria itu duduk di salah satu kursi di hadapannya. Terlihat begitu tampan dengan stelan jas slim fit nya. Bahu bidang serta perut ratanya, membuat Bee susah untuk mengalihkan tatapannya. Dia begitu tampan! No debat!
"Gue kira lu cuma cewek ber mulut tajam, tapi ternyata lu juga bar-bar!" kalimat penghakiman pertama dari pria itu.
Dengan cepat raut wajah Bee berubah kesal. Dasar brengsek, baru datang, udah ngatain gue! Kenapa sih lu harus balik?! buat hidup gue susah aja!
"Lu bisa ga sih jadi cewek itu anggun sedikit? kali ini jatuh dari pohon, besok lu mau ngapain lagi? bagian tubuh yang mana lagi yang mau lu patahkan?" salak Bintang
"Kenapa lu yang jadi marah, tubuh tubuh gue, kok lu yang sewot?" bentak Bee ga mau kalah.
Bintang mengacak rambutnya. Amarah nya beralasan. Kemarin malam, saat pesawatnya baru landing di Kalimantan, dia mendapat berita dari Herman tentang insiden jatuh nya Bee.
Di tengah sambutan para karyawan di perusahan tambang batu bara milik nya tak lagi dia indahkan. Pikirannya sudah kalut saat Herman memberitahukan Bee pingsan.
Dan pagi buta, dia sudah terbang ke Pekanbaru, dengan penerbangan pertama. Setelah melihat wajah damai Bee tidur pulas, dan mengetahui keadaannya dari dokter baru lah Bintang bisa tenang. Mengusir semua pengisi kamar itu, agar dia sendiri bisa menunggui gadis itu siuman, guna mencekik leher gadis itu nantinya.