
Sudah di simpulkan Bintang, kalau Hana memang punya niat jahat pada keluarganya. Dengan mempengaruhi ibu dan meminta menikahi nya, Bintang sudah tidak sabar untuk membuka topeng Hana. Tapi Bee, istri naif nya itu pasti tidak percaya apa pun penjelasan nya nanti. Jadi Bintang akan mencoba menjebak Hana dan memberikan bukti pada Bee.
Langit sudah sangat gelap, saat mereka sampai di rumah. Bintang menggendong Saga yang juga sudah tertidur, sementara si kembar di gendong Bee dan Hana.
"Masih marah sama aku?" Bee melingkar kan tangan nya di pinggang Bintang saat pria itu menyisir rambut nya menghadap cermin.
Mulut nya mungkin masih mengunci rapat sapaan untuk Bee tapi isi hati nya mendorong ingin memeluk Bee dan menghujani wanita itu dengan ciuman.
Tapi untuk menjalankan rencananya, Bintang harus mengeraskan hati. "Aku lelah" Bintang berbalik mencium kening Bee dan naik ke ranjang. Mendapat perlakuan dingin seperti itu, air mata Bee sudah mengembang. Dia sudah terbiasa untuk di manja dan di maafkan Bintang setiap kesalahannya.
Dengan kepala menunduk, Bee ikut naik dan tidur di sisi Bintang yang memunggunginya. Air mata nya turun melewati tulang hidung nya yang mancung turun hingga ke pipi. Kedua orang yang saling mencintai itu tidur dalam kegelisahan hati dan saling membelakangi.
Siang itu semua anggota keluarga berada di rumah dengan kegiatannya masing-masing karena ketepatan hari ini adalah tanggal merah. Bee sudah sejak sejam lalu pergi ke swalayan dekat rumah bersama Mira untuk membeli keperluan para bayi dan juga Saga.
"Maaf tang, aku mau minta tolong" suara Hana mengejutkan pria itu yang sejak tadi mengubur diri di ruang kerjanya.
"Aku lagi sibuk" ucap nya tanpa menoleh ke arah Hana.
"Aku mohon. Aku ga tahu harus minta tolong sama siapa lagi. Para pelayan mungkin sedang beristirahat hingga tidak ada di dapur. Tolong tang, gelang ibu ku tersangkut di lobang wastafel" ucap nya dengan raut sedih.
"Aku ga bisa. Aku ada kerjaan. Panggil saja sekuriti di luar"
"Kelamaan tang, keburu makin jatuh gelang nya"
Tidak ingin lebih lama mendengar rengekan Hana, Bintang dengan kesal bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu.
"Ayo.." tegur nya meminta Hana jalan lebih dulu.
Gelang itu memang menyangkut di sana. Kerincing kecil di gelang itu yang menahan gelang nya tidak jatuh terbawa sampai jauh ke dalam.
Sudah mencoba dengan menarik, tapi gelang itu masih menyangkut. "Ambil kan penjepit"
"Penjepit apa?" tanya Hana ikut bingung.
"Apa saja yang bisa menarik gelang ini"
Hana hanya bisa menemukan alat jepit yang biasa dia pakai untuk merapikan alis nya.Memperlicin permukaan lobang air, Bintang menghidupkan keran yang tanpa sengaja memercik ke kaos nya hingga basah di bagian dada. Tapi usahanya untuk menarik gelang itu berhasil. "Nih.." masih dengan sikap dingin Bintang menyerahkan gelang Hana.
"Makasih tang" Tanpa menyahut dan menanggapi ucapan terimakasih Hana, Bintang beranjak keluar kamar yang di ikuti Hana dari belakang dan tepat saat keluar, di lorong ruangan mereka beradu pandang dengan Bee yang baru saja pulang belanja. Ketiga nya diam, hanya mata yang bicara.
"Hai jagoan, sudah pulang?"
"Papa kenapa baju nya basah? rambut papa juga berantakan" celoteh bocah itu.
"Iya nih, temani papa ganti baju yuk" Bintang beranjak dari sana tanpa memperdulikan Bee yang masih terpaku di tempatnya. Sejak tadi dua kantong berisi Pampers dan cemilan Saga tidak lah terasa berat, kenapa sekarang seolah Bee kehabisan tenaga membawanya?
"Hai Bee, baru pulang?" sapa Hana tersenyum dan kembali masuk ke dalam kamar. Gaya Hana yang menyunggingkan senyum mencemooh membuat hati Bee nelangsa, lantaran sikap Bintang yang cuek seolah tidak melihat nya tadi ada di sana.
Satu hal yang baru di sadari Bee walau terlambat, Hana sudah berubah. Dia bukan Hana yang dulu sangat malu-malu dan tidak banyak bicara. Kenapa kini hati nya bilang apa yang di sampaikan Kiki bisa saja terjadi?
"Kakak dari kamar Hana?" hal pertama yang dilakukan Bee saat masuk ke dalam kamar, melempar pertanyaan pada Bintang yang duduk di balkon menikmati semilir angin sore yang berhembus.
"Mmm.."
"Ngapain?" desak Bee hati nya semakin panas.
"Membantu nya mengambil gelang nya yang akan jatuh" Terang Bintang tanpa menoleh ke arah Bee, tapi dari nada suara Bee, dia tahu wanita itu berusaha menahan diri untuk tidak meluapkan emosi nya.
Dia harus menahan keinginannya untuk memeluk gadis itu agar tidak menangis. Dia harus bersikap kejam, agar kali ini Bee mengerti ada harga yang harus di bayar untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Bee harus sadar, jadi manusia boleh bersikap baik, memiliki ketulusan hati, tapi tidak dengan membiarkan seorang wanita dari antah berantah masuk dalam rumah mereka, terlebih Bintang tahu kalau Hana punya niat buruk.
Bintang juga ingin menguji sebesar apa cinta Bee pada nya. Selama ini Bintang lah selalu yang mengejarnya, mengemis menunjukkan segenap hatinya yang sudah di kuasai Bee. Jadi kali ini, biar Bee yang berjuang mempertahankan dirinya sebagai suami, mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka.
Aku tahu kamu marah, dan aku juga sudah tahu kalau dalam hati mu mulai menyimpan rasa cemburu, tapi maaf sayang, aku harus melakukannya. Agar kau sendiri bisa mengusir Hana karena takut kehilangan ku..aku berharap kau mau berjuang Bee, perjuangkan rasa cinta mu pada ku..itu pun kalau kau memang mencintai ku..
Tidak ada kata yang bisa Bee ucapkan lagi. Hati nya begitu sakit melihat sikap dingin Bintang padanya. Bee memilih untuk keluar, menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya.
"Sedang apa?" tanya Hana yang sudah berdiri di belakangnya.
"Masak bubur si kembar Han"
"Oh.." hanya mengamati setiap gerakan Bee. Hana turun ke dapur bukan tanpa tujuan. Saat Bee masuk kamar tadi, Hana sudah mengekor dan menguping pembicaraan suami istri itu walau tidak semua dapat dengan jelas dia dengar. Sebuah senyum mengembang mendengar pertanyaan Bee pada Bintang.
Dia menunggu Bee untuk bertanya padanya, karena itu lah momen bisa nya akan dia tularkan pada Bee. Sedikit demi sedikit menyerang pikiran Bee dengan kekhawatiran hingga menyebabkan hilang nya rasa percaya pada Bintang. Ketika rumah tangga mereka sudah mulai tidak akur, di situ lah Hana akan masuk sebagai wanita yang bijaksana memberikan saran pada keduanya, yang tentu saja memecah belah keduanya.
"Han, tadi kak Bintang ngapain ke kamar mu?"
Senyum Hana mengembang. Mangsa sudah memakan umpan yang dia tabur.