Sold

Sold
Jebakan



Bagi Piter mencekik leher Asri Linggis rasa nya belum cukup untuk menuntaskan amarah nya. Kiriman yang diakuinya cukup mampu membuat soft Therapy bagi Piter membuat pria itu ingin sekali mendatangi nya.


Bima! Seketika Piter ingat pria itu. Pria brengsek itu harus memberi nya penjelasan.


Bangkit dari duduknya, Piter berencana mendatangi kantor Bima, tapi langkah nya yang belum juga sampai di pintu terhenti. Ponselnya berdering.


Geraman nya kembali terdengar saat membaca nama si penelpon di layar. "Maksud lo ngirim ini ke gue?" salaknya seolah Asri ada di depannya.


"Take it easy, Beb. Aku ga ada maksud apa-apa kok. Aku cuma mau kamu paham yang aku mau. Dari pada itu sampai di tangan istri naif mu" ucap Asri terdengar riang.


"Silahkan. Lo kira gue bakal takut? asal lo tahu gue bakal buat perhitungan" umpat nya penuh emosi. Menutup ponsel dan mencampakkan ke atas sofa yang ada di dekatnya. Piter merasa di kadalin sama buaya betina. Diremasnya dengan kasar rambutnya berharap bisa meredam rasa kesalnya.


"Gue harus apa sekarang. Kinan. Yah..yang terpenting, gue harus jelaskan dulu semua, dari pada dia tahu dari orang lain" ucapnya pada meyakinkan dirinya sendiri.


Bergegas Piter pulang. Padahal dia baru tiba satu jam di kantor. "Bapak mau keluar?" tegur Tia bangkit dari duduknya saat melihat bos nya keluar.


"Aku kurang enak badan Tia. Kamu reschedule semua janji sama klien" ucap nya berlalu.


Tidak sampai satu jam Piter sudah sampai di kantor Kinan. Saat naik, Piter berpapasan dengan Elang. Dia ingat pria itu, mantan dari kakak iparnya. Sedang apa dia di kantor istrinya itu yang dia tidak tahu. Tapi itu tidak penting, tujuannya adalah untuk Menemui istrinya.


"Bu Kinan di dalam?" tanya Piter saat melintasi meja sekretaris nya Kinan.


"Ada pak, tapi ibu sedang ada tamu"


Raut wajah Piter menegang. Tidak mungkin orang gila itu sudah tiba di kantor istrinya. "Siapa? wanita atau pria?"


"Wanita, pak"


"Penyanyi dangdut bukan?"


Anggukan sekretaris itu membuat tubuh Piter merosot lemas. Tidak mungkin secepat itu Asri menemui Kinan.


Tanpa menunggu lama, Piter menerobos masuk. Tidak memperdulikan larangan sekretaris yang meminta nya untuk menunggu.


Kedua nya duduk saling berhadapan. Dari sorot mata Kinan, Piter menebak Asri sudah mengatakan niat nya. Saat dia masuk, kedua wanita yang terkejut akan hentakan pintu yang terbuka menatap dirinya yang masuk ke dalam.


Senyum Asri yang seolah mengejek dirinya membuat emosi Piter naik level. "Mau apa kau kemari, ular betina?" hardiknya mendekat ingin menyeret wanita itu dari duduk nya.


"Ter.."Kinan juga ikut berdiri. Melihat rahang tegas dan juga sorot mata membunuh dari suaminya, Kinan takut Piter kalap dan akan melukai Asri.


"Mau apa wanita siluman ini kemari Nan?" ucap nya masih mengunci tatapan pada Asri.


"Dia datang untuk menunjukkan ini" Kinan menggeser layar laptopnya ke arah Piter. Menunjukkan rekaman yang sudah bisa di tebak Piter


"Kamu ga usah menyangkal Ter. Aku udah jelaskan pada Kinan, tentang hubungan kita" ucap nya penuh percaya diri.


"Dasar gila! hubungan apa maksud mu?" salak Piter semakin mengikis habis kesabarannya.


"Kamu ga perlu lagi menyembunyikan dari Kinan, dia sudah tahu kalau kita sudah lama menjalin hubungan di belakangnya"


Piter mengepal tinjunya. Dia tidak perduli kalau setelah ini dia akan masuk bui karena penganiayaan yang dia lakukan. Baru akan menyeret paksa Asri keluar agar leluasa mencekik wanita pembohong itu, Kinan maju. Berdiri di depan Piter. Menjadi pemisah antara keduanya. Untuk sekilas Kinan menatap mata Piter dalam. Sekali saja Kinan melihat dua bola mata itu, dan dia tahu suaminya berkata benar.


Saat melihat video yang di tunjukkan Asri padanya tadi, jujur Kinan sakit hati, terluka dan kecewa pada suaminya. Bibir pria itu adalah miliknya, hanya dia yang berhak menyentuhnya, begitu pun dengan tubuhnya. Bahkan Kinan juga ingin mencakar wajah cantik Asri demi menuntaskan amarah nya.


Beruntung Kinan memiliki sekolah yang tinggi yang bisa mengontrol emosi hingga tidak mengumbar pada musuh rasa sakitnya.


Dia dengan santai mendengar setiap penuturan Asri. Bahkan saat air mata palsu wanita itu menetes, dia juga menyodorkan tisu, hingga membuat Asri percaya bahwa dirinya sudah berhasil mengelabui Kinan.


Sesaat lalu, mungkin Kinan sempat sedikit mempercayai video itu, tapi kini melihat sorot mata tulus Piter yang meminta nya untuk percaya, membuat Kinan menyesal sempat meragukan suaminya.


"Terimakasih sudah datang, walau jujur aku tidak mengharapkan kehadiranmu. Tapi maaf, video dan semua cerita bohong mu tidak berlaku padaku. Aku kenal suami ku, dan aku percaya padanya" ucap Kinan dengan suara tegas berhadapan dengan Asri. Sementara Piter yang berdiri tepat di belakang Kinan, begitu terharu. Perasaannya menghangat. Ingin sekali merengkuh tubuh wanita itu dan membisikkan kata terima kasih.


"Apa kau wanita yang tidak tahu malu? suami mu sudah berselingkuh dengan ku di belakang mu, dan kau masih mau memaafkan dia?" tantang Asri yang terkejut melihat reaksi dan ucapan Kinan.


"Aku yang tidak tahu malu atau kau yang memang sudah tidak punya rasa malu? katakan lah suami ku sudah berselingkuh dengan mu, lalu apa?" tantang Kinan. Namun sepenuhnya hatinya mengutuk. Awas aja kalau benar kamu selingkuh Ter..aku kasih sianida di bekal makan siang mu!


Asri semakin terbakar amarah. Umpan nya tidak termakan oleh Kinan. Dia putar otak. Sudah kepalang tanggung.


"Aku akan menuntut Piter kalau dia tidak mau bertanggung jawab"


"Silahkan. Justru aku akan menuntut balik atas tindakan mu ini!"


Wajah Asri merah padam. Menahan rasa malu dan juga amarah. Dia menghentakkan kakinya, lalu menyambar tas tangannya di atas meja sebelum berjalan meninggalkan ruangan itu.


Suara dentuman pintu yang di tutup kasar sempat mengejutkan Kinan hingga menutup mata.


"Beb..".suara Piter dari belakang terdengar takut-takut. Dia harus pasang kuda-kuda. Takut kalau ternyata pembelaan Kinan tadi di hadapan Asri hanya untuk menyelamatkan kehormatan nya sebagi pria sekaligus suami nya.


Setelah satu menit setelah Piter memanggilnya baru lah Kinan berbalik, menatap intens pada Piter dengan kedua tangan di lipat di dada, persis guru BP yang akan menghukum murid yang ketahuan merokok di belakang kelas, lalu berkata "Kau ingin menjelaskan sesuatu pada ku?"


*Hai-hai kesayangan ku, Maaf baru bisa up jam segini. Benar-benar sibuk banget satu hari ini.


Sekarang aku mau promoin novel sobat aku nih, kuy kepoin , pasti nya keren dan bikin baper.. kamsamida 🙏😘😘