
Nyatanya urusan hati tidak semudah yang di bayangkan Piter. Setiawan tetap pada pendiriannya ingin putri nya bercerai dengan Piter Danendra.
Piter tidak bisa berbuat apa pun. Bahkan kini Kinan sudah menjadi tawanan rumah. Persidangan terus di gelar, hingga putusan pun tiba.
Hari itu menjadi hari terburuk sepanjang hidup Piter. Dia duduk di kursi pesakitan dengan tampang penuh emosinya, bersebelahan dengan Kinan yang sejak tadi tidak hentinya menangis, menunggu hakim mengetuk palu nya menyatakan pernikahan mereka sudah berakhir.
Hancur hati Piter, tidak pernah sesakit ini. Dia benci Setiawan juga Kinan, gadis yang tidak punya pendirian.
Kini keadaan berbalik. Piter merasa di khianati oleh Kinan. Janji nya untuk berjuang bersama dengan nya hanya manis di bibir gadis itu.
Sekali lagi Piter melirik Kinan dari ekor matanya. "Ck..gadis penuh sandiwara" umpatnya jengah melihat Kinan dengan air mata nya.
Sebenarnya bukan keinginan Kinan untuk berhenti berjuang bersama Piter. Kinan sudah memohon, bahkan sujud di kaki Setiawan tapi pria itu tetap bergeming. Bahkan pria tua itu mengancam akan mati saja jika Kinan masih menginginkan Piter. Kinan tidak berdaya, dia sangat menyayangi papa nya dan tidak mau kehilangan satu-satunya anggota keluarga nya yang tersisa.
Dentaman palu yang di pukul oleh hakim, seolah menghantam kepala Piter dengan kuat sebagai landasannya, hingga pria itu merasakan sakit yang amat dalam. Tanpa menoleh pada Kinan, meninggalkan ruang sidang itu. Kini mereka bukan lagi suami istri tapi dua orang asing. Dia tidak Sudi melihat gadis itu lagi.
Semakin hancur lah perasaan Kinan melihat Piter yang tidak memperdulikan nya sama sekali. Berbulan mereka tidak bertemu, dan hari ini saat bertemu kembali justru menjadi salam perpisahan mereka. Kinan masih menatap punggung lebar itu menjauh diiringi perih hati Kinan.
"Sudah lah sayang, kamu harus ikhlas. Semua akan baik-baik saja" ucap Setiawan memeluk putrinya.
Tempat tujuan Piter adalah bar yang biasa dia kunjungi. Di perjalanan tadi, dua juga sudah menghubungi teman-temannya untuk menemaninya minum.
"Temani gue merayakan hari perceraian gue" ucap nya pada Bima dan meminta pria itu untuk mengundang yang lain. Hati nya hancur, itu sudah pasti. Hingga hanya bantuan minuman ini lah yang di harapkan mampu membawa nya kembali dari ambang kematian.
Tidak pernah Piter membayangkan akan sesakit ini rasanya di tinggalkan Kinan. Selama ini dia sudah berulang kali berganti pasangan, saat ada perpisahan Piter tidak pernah merasa sedih, justru gembira, bisa mencari yang baru. Banyak kan gadis yang mau dengan nya.
Kirei datang membawa nampan berisi minuman ke ruang VIP yang di sewa Piter. "Ter kamu udah minum terlalu banyak. Nanti kamu mabuk" ucap nya duduk di samping pria itu. Sudah lama Kirei menanti datang nya hari ini. Buah kesabarannya manis. Akhirnya haru diman Piter bercerai tiba juga.
Piter tidak menggubris ucapan Kirei. Dia membuka botol ketiga dan menuang dalam gelasnya. Dua teman nya yang lain, sudah asik mencumbu teman kerja Kirei yang juga sudah mereka sewa.
"Ter.." Kirei memberanikan diri menyentuh pundak Piter, dan berhasil. Pria itu memberikan perhatiannya pada Kirei. "Kinan? sayang..kamu di sini? kamu datang, Nan?" racu nya menatap wajah Kirei. Perasaan Kirei sakit dianggap orang lain oleh Piter, tapi masa bodo. Doa todak perduli, asal Piter kembali ke pelukannya.
Perlahan Kirei mengangguk, sebaris senyum terbit di wajah Piter. Dalam pandangannya yang di lihat Piter adalah sosok wanita yang sangat dia rindukan. Piter yang sudah tidak sadar di bawah pengaruh minuman, menangkup wajah Kirei, dan segera mel*mat bibir wanita itu. Tidak butuh wakti lama, Kirei yang juga mendambakan belaian pria itu segera membalas c*uman panas itu.
Dengan kasar Piter mendorong tubuh Kirei yang pakaian nya sudah aut-autan. Lalu Piter berdiri, dengan sempoyongan meninggalkan ruangan itu, menuju parkiran.
Berkendara dengan kesadaran minim memang sangat di larang, beberapa mobil dari belakang tidak hentinya membunyikan klakson agar Piter menepi. Mobil yang di bawanya meluncur dengan zig-zag hingga membahayakan mobil yang lain.
Bersyukur lah Piter tidak mati malam itu. Kini mobil nya berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang pemiliknya dia benci. Di pijitnya pelipisnya berharap bisa meredakan sakit kepalanya. Gerimis mulai turun, seolah ikut menangisi keadaan pria itu.
"Untuk apa aku kesini?" cicit nya dengan hembusan nafas berat. Minuman itu sukses membuat kepala nya pusing berat.
Perlahan di membuka pintu mobil, keluar dan berjalan sempoyongan ke arah rumah mewah itu. Pagar yang tidak terkunci membuahkan nya untuk masuk.
"Kinan... Kinan..keluar lo" teriak nya di dari depan pintu rumah keluarga Setiawan, di bawah gerimis yang semakin tebal, Piter ingin melihat wanita itu. Hati nya bilang ingin melihat Kinan, apa kah sudah berhenti menangis. Isak tangis Kinan di persidangan tadi terus berputar di kepalanya. Dia tidak ingin gadis bodoh nya jadi sakit karena terus meratap.
"Kinan..oh.. Kinan..janda ku, keluar lah sayang..." teriakan Piter semakin tidak terkontrol. Pak Suki, satpam rumah itu yang baru keluar dari toilet selepas membuang hajat berlari tergopoh-gopoh menghampiri Piter.
"Aduh tuan Piter, kenapa bisa masuk. Ayo tuan keluar. Nanti saya di marahi tuan Setiawan" ucap nya kesal setengah menyeret Piter. Bagaimana tidak kesal, lagi enak-enakan nongkrong di WC malah dengar suara teriak-teriak. Sontak Pak Suki menyudahi ketenangannya dan berhamburan keluar melihat siapa gerangan yang buat onar malam-malam begini.
"Lepaskan..aku mau ketemu Kinan! Kinan.. Kinan oi, keluar kau sayang..lihat mantan suami mu sudah datang"
Tapi yang keluar justru Setiawan, memegang pukulan bisbol dan segera menghampiri si pembuat onar. "Kenapa dia bisa masuk Suki?" hardik Setiawan.
"Maaf tuan, saya tadi di toilet, perut saya mulas, jadi beliau bisa masuk"
"Seret pria br*ngsek ini keluar" perintah Setiawan geram.
"Aku tidak akan keluar, sebelum Kinan menemui ku. Dasar aki-aki kurang kerjaan, kenapa pisahin kami?"
"Dasar anak tidak tahu sopan santun. Keluar kamu dari rumah ku atau tongkat ini yang berbicara!" Setiawan semakin maju, amarah nya kian tersulut.
"Nah..retak kan dada ini. Biar anda tahu, kalau hanya ada putri mu di dalam sini" ucap Piter menepuk-nepuk dadanya, sembari berdiri dengan sempoyongan.