Sold

Sold
Ciuman pertama atau kedua sih?



"Kenapa lu?sawan? kesambet hantu ladang sawit ini lu?" umpatnya kesal.


" Sorry, gue keingat teman gue.." ucap nya mencari alasan. Karena sebenarnya yang membuat Bintang tergelitik justru cerita Bee, yang memaki pria yang mencuri ciuman pertama nya, yakni dirinya sendiri.


"Hujan udah mulai reda, pulang yuk, gue lapar, dingin lagi" rengek Bee. Bintang suka saat gadis itu bersikap manja seperti itu padanya. Menggemaskan.


"Iya kita pulang, tapi yang tadi kita tuntaskan dulu dong.."ucapnya menarik wajah Bee mendekat, dan kembali mel*mat bibir merah itu. Lama dan dalam.


Kali ini Bee tak tahan akan godaan pria itu, insting nya ikut bermain dalam arus gairah yang di timbulkan pria itu padanya.


Dengan tanpa sadar, Bee meletakkan tangan nya di pinggang Bintang, meremas kaos pria itu agar tidak jatuh lemas. Perlahan, secara naluriah, Bee mengikuti gerakan lidah Bintang di dalam mulutnya. Saling membelit, mengisap dan mencercap.


Bibir Bee sungguh nikmat dan memabukkan. Bayangkan saja play boy seperti Bintang bisa Terengah hanya dengan sekedar ciuman. Tubuh nya tak hanya meremang, miliknya kini sudah mencuat tegas, ingin di bebaskan.


"Ahhhhh.." rintihan halus yang keluar dari bibir Bee semakin membakar tubuhnya oleh gairah yang ingin di puaskan. Bintang bahkan sudah menarik tubuh gadis itu untuk duduk di pangkuannya, dan Bee tanpa sadar (tanpa malu juga) sudah mengalungkan tangannya di leher Bintang.


Permainan semakin panas, namun sang maestro lah yang harus menghentikan permainan itu, kalau tidak mereka akan bermalam di pondok itu, tanpa pintu.


Ada sedikit kekesalan terlukis di wajah gadis itu, ketika Bintang menyudahi ciuman panas itu. Bee masih ingin lagi. Rasa nya nikmat. Walau sudah pernah dengar kalau ciuman itu nikmat, tapi bagi dirinya yang untuk pertama ini, rasanya masih kurang ingin lagi mengemut bibir sexy milik Bintang.


Dasar dirinya tak tahu malu. Tadi aja sok nolak, setelah coba malah ketagihan. Makanya buat anak gadis jangan coba-coba, nagih kan...!


"Udah dong, hapus wajah mupeng nya, nanti lagi kita terusin" bisik Bintang menggoda.


"Iiih..apaan sih, siapa juga yang masih pengen" balasnya menunduk, menyembunyikan raut wajah merahnya.


Pulang kali ini terasa berbeda, Bee tak lagi memegang behel motor, kini dia jadi gadis penurut. Saat Bintang mengangsurkan jaket yang walau masih lembab, tapi cukup lah menghalau dingin nya udara sehabis hujan, Bee dengan cepat menerima dan memakainya tanpa ada perdebatan lebih dulu.


Di perjalanan pun, saat tangan Bintang menarik tangan gadis itu dan mendekatkan nya ke mulutnya, menghembuskan nafas hangat, guna mengurangi rasa dingin di telapak tangan Bee, gadis itu pun menurut juga.


Perjalanan jauh yang mereka tempuh, membuat Bee yang memang lelah tertidur. Terasa saat punggung Bintang semakin berat. Bintang menarik tubuh gadis itu untuk merapat dengannya, selain agar tidak jatuh, juga agar tubuh gadis itu lebih hangat.


Pukul sepuluh malam baru lah mereka tiba di rumah, yang di sambut oleh tante Di dan juga papa yang terkejut melihat kondisi mereka berdua, terlebih keadaan putrinya.


"Pergelangan kakinya lebam dan membiru, tolong oles salep, segera bantu dia mandi dan juga makanan hangat, sup lebih baik, lalu jangan lupa segelas susu hangat sebelum dia tidur.." perintah sang tuan muda yang di angguk Hutomo, dan tante Di. Bi Jum jadi latah ikut-ikutan mengangguk.


Selepas itu Bintang pulang kerumahnya yang hanya beberapa langkah dari rumah Bee.


Setelah membersihkan diri, dan hanya meminta di siap kan teh jahe hangat oleh asisten rumah tangga nya, Bintang masuk ke kamarnya, merebahkan tubuh lelahnya. Namun setelah dua jam lebih meringkuk di bawah selimut, dia tak bisa juga tertidur.


Bayangan Bee kini merasuki jiwanya. Seolah ada di tiap helaan nafasnya. Hanya mencicipi bibir gadis itu membuat dirinya menjadi tersesat dalam badai asmara penuh gairah. Bee seolah jadi candu asmaranya.


Tubuh nya kini panas hingga berkeringat, seperti dikejar-kejar serigala, Bintang dalam tidurnya tampak ngos-ngosan, hingga tanpa sadar ada yang telah menegang di bawah sana.


***


Pagi cerah sehabis hujan semalaman mengguyur kota Pekanbaru, udara pun tampak segar dan sekawanan burung pun terdengar saling ber cicit.


Bee masih meringkuk dalam selimut tebalnya. Tubuhnya terasa remuk, sakit semua. Dan oh..my.. kepalanya rasanya mau pecah, seperti baru dihantam palu gadang Thor.


Diliriknya jam beker Doraemon di atas nakas. Pukul sembilan pagi, tapi rasanya hari ini dia ingin tetap di tempat tidur, berbaring seperti mayat. Enggan melalui hari ini, karena hari dimana menjadi awal dari perjanjian seminggu mereka.


Seminggu penuh mereka harus saling bertemu, kencan dan segala macam rutinitas yang harus di lakukan bersama. Memuakkan!


Membayangkan nya saja sudah membuat Bee mual dan ingin muntah.


Ketukan di pintu membuatnya menyingkap selimut yang sedari tadi kembali menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya.


Tante Di datang dengan membawa segelas susu hangat dan nasi goreng, serta air putih hangat.


"Udah bangun sayang? sarapan dulu yuk" ucap tante Di, sembari meletakkan nampan berisi makanan untuk Bee.


Melihat keponakan tersayang nya tak bergerak hanya memejamkan matanya, tante Di mendekat dan menyentuh kening Bee dengan telapak tangannya, memastikan suhu tubuh gadis itu masih normal.


"Badan mu hangat Bee, sakit kamu nak?" ucap tante Di lembut.


Sakit? emang gue sakit?iya..gue sakit..gue sakit! yesss! gue fix sakit no debat!!


Dengan perasaan gembira Bee melirik Tante Di. Ucapan adik mamanya itu memberinya ide untuk membuat satu hari ini berlalu.


"Iya nih tan, aku demam, badan aku sakit banget, mana kepala nyut-nyutan lagi. Mungkin karena kena hujan berjam-jam kemarin" ucap Bee dengan intonasi lemah yang di buat-buat.


"Ya ampun sayang, kasihan nya kamu. Ya udah, kamu tiduran aja, satu hari ini ga boleh keluar dulu. Harus nurut sama tante biar kamu cepat sembuh" ucap tante Di.


Tentu saja itu yang Bee harapkan. Hanya di kamar, tampa harus bertemu apa lagi berinteraksi dengan si omes akut itu!


"Iya tante, aku ga bakal keluar rumah. Ini sakit dan lemas banget. Malah tante kalau bisa aku mau rebahan di kamar selama seminggu, biar sembuh total" pinta nya yang dianggap tante Di sedikit aneh.


Tante Di kenal betul sifat ponakannya yang tak bisa diam, tapi hari ini justru ingin berdiam diri di dalam kamar nya, minta seminggu pula!