
Wajah Bintang berubah masam selama perjalanan ke rumah ibu. Dia sudah memutuskan Hana tidak boleh ikut, tapi karena Bee membawa Mira untuk membantu menjaga anak-anak, Hana memaksa ikut.
"Apa salah ku Bee? kenapa aku ga boleh ikut, sementara Mira boleh?" ucap nya penuh kesedihan. Air matanya saja sudah merebak di pelupuk matanya.
Kalau sudah seperti itu, Bee tidak bisa apa-apa selain membiarkan Hana ikut bersama mereka. Akibatnya, Bee harus menerima amarah Bintang padanya, yaitu mendiami dirinya sepanjang hari itu.
"Nenek.." teriakan Saga menggema di rumah mewah itu menerjang masuk hingga di ruang tengah, ibu datang menyambut mereka.
"Udah besar cucu nenek" ucap ibu menunduk agar bisa di peluk Saga.
"Hai Bu" sapa Bee maju memeluk ibu. Seperti biasa bertemu, ibu akan mencium pipi Bee kiri kanan dan juga kening nya.
"Kamu sehat?" Bee mengangguk.
"Mana cucu-cucu ibu yang cantik?" Bee menyingkirkan agar ibu bisa melihat si kembar dalam stroller. "Halo cantik, nenek kangen" ucap nya menciumi pipi Siena dan Siera bergantian.
"Hai ibu suri, kebanyakan cucu jadi lupa ya menyapa anak sendiri?" ucap Bintang mencium kening ibunda nya.
"Dasar. Ibu juga kangen padamu. Tapi begitu lah orang tua, setelah ada cucu maka anak akan jadi nomor dua" ucap ibu tersenyum.
"Terimakasih sudah memberikan cucu yang ganteng dan juga cantik-cantik untuk ibu"
Merasa dianggurin, Hana yang sejak tadi berada di balik tubuh Bintang, kini maju ke depan menunjukkan dirinya.
"Ini siapa?" tanya ibu tersenyum ramah. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Hana sejak tadi.
Bintang tidak ingin mendengar apa pun mengenai gadis itu, memilih untuk masuk ke dalam mendorong stroller si kembar.
"Ini Hana Bu, dia teman ku yang membantu menjaga Siena dan Siera" terang Bee. Hana mulai melakukan kebiasaannya menarik perhatian orang, menekuk sedikit ujung kakinya memberi hormat ala putri bangsawan.
"Saya Hana, Bu. Senang bisa bertemu ibu"
"Aku juga senang bisa bertemu dengan mu. Aku Salma, ibu mereka. Terimakasih sudah menjaga cucu-cucu ku" ucap ibu tulus.
"Saya melakukannya dengan tulus, karena saya juga menyukai anak-anak. Terlebih seperti mereka yang di tinggal orang tua yang sibuk bekerja" sahut Hana masih dengan senyum cantik nya. Tapi Bee merasa omongan Hana seolah ingin menunjukkan ketidakbecusan diri nya menjadi ibu dari ketiga anak nya.
"Yah..kau benar. Anak mantu ku sibuk bekerja. Tapi kau tahu, sesibuk apa pun mereka, tapi selalu menomor satukan kenyamanan anak-anak mereka. Lihat lah mantu ku ini, dia masih memberi ASI pada kedua cucu cantik ku, dan masih sempat menemani dan memperhatikan Saga" ucap ibu merentangkan tangan agar Bee merima uluran tangan ibu.
Mendengar penjelasan ibu, Hana hanya bisa manggut sambil tersenyum kecut. Tapi Hana adalah gadis yang pintar mengambil hati dan perhatian. Saat Bee duduk bersama anak-anak nya di ruang keluarga dengan Bintang yang masih diam padanya, Hana sudah pergi ke dapur, ikut membantu ibu menyiapkan hidangan makan siang.
Tidak menunggu komando kedua, Saga sudah keluar menyambut om kesayangan nya. Sorak Sorai gembira Saga terdengar dari luar. Begitu mereka masuk, Saga sudah di duduk kan di atas pundak Piter.
"Halo kesayangan ante" sapa Kinan yang langsung berjongkok di depan si kembar yang wajahnya belepotan bubur bayi.
"Halo juga tante cantik yang bentar lagi mau punya dedek bayi" ucap Bee mewakili si kembar yang memberikan tangannya ke arah Kinan.
"Ibu mana Bee?" tanya Kinan duduk di samping iparnya itu. Sementara kedua keluarga Danendra beranjak menjauh dari sana, agar bisa menikmati minuman yang hanya mereka berdua yang tahu kenikmatannya.
"Itu ada di dapur. Lihat koki masak. Katanya ibu mau buat makanan spesial buat mantu nya yang lagi hamil ini" ucap Bee mencubit pipi Kinan pelan.
"Hehehe..aku kayak masih mimpi, tahu ga" ucap nya gembira, tidak hentinya mengelus perutnya yang rata.
"Aku turut gembira untuk kalian Nan"
"Makasih"
Dari arah dapur langkah kaki terdengar mendekat, hingga muncul Hana dengan nampan berisi teh. "Silahkan di minum. Kamu pasti Kinan" ucap Hana lembut.
Kinan memperhatikan Hana, hanya anggukan yang dia berikan. Memorinya seketika mengingat cerita Piter padanya beberapa bulan lalu, saat Piter membantu Bintang yang mengalami kecelakaan, di rumah sakit Piter bertemu dengan seorang gadis yang selalu ada di sisi Bee.
"Iya, aku Kinan. Kamu Hana?" Hana pun hanya mengangguk sopan untuk jawaban nya.
Hana cepat berbaur dengan seluruh anggota keluarga Danendra. Bahkan menurut Mira yang terus mengamati gerak gerik Hana, wanita itu bersikap terlalu berlebihan. Siapa saja bisa melihat kalau Hana mencoba memaksa masuk ke dalam lingkaran keluarga Danendra.
Acara makan siang usai, dan semua anggota keluarga seperti biasa duduk di ruang keluarga, berbincang dan berbagi cerita. Seperti biasa Saga menjadi penguasa hati nenek nya yang sudah menyediakan banyak cemilan coklat dan permen untuk nya.
Tiba-tiba Siena menangis, Bee beranjak melihat stroller si kembar dan akan menggendong Siena untuk keluar, tapi gerakan Bee terhenti saat Hana maju lebih dulu, menggendong Siena dan seketika Siena diam.
Wajah Bee menjadi merah padam, merasa malu pada semua orang. Dia seperti ibu yang tidak berguna, Karen nyatanya Hana lebih cekatan mengurus anak mereka. Bintang baru saja bergabung setelah dari toilet, melihat Siena di gendong Hana sementara Bee ada di sana.
Dua hari lalu Bintang sudah meminta Bee untuk lebih memperhatikan anak mereka, saat Bee tidak bekerja. Bintang tidak ingin anak-anak mereka nanti nya lebih menyayangi pengasuh nya dari pada orang tua nya, dan Bee sudah menyanggupinya. Kini Bintang kembali kecewa karena lagi-lagi Bee meyerahkan semua urusan anak pada Hana.
Wajah Bintang yang menatap Bee dengan kesal semakin membuat Bee merasa tidak tersudutkan.
Atas perintah ibu, Hana sudah menidurkan kedua bayi itu di kamar yang biasa Bintang dan Bee tempati setiap menginap di rumah ibu. Baru akan meninggalkan kamar itu, mata Hana terpaku pada satu photo remaja Bintang yang ada di sudut meja belajar. Photo yang sembarangan dia pajang tanpa bingkai, di selipkan dibawah kaca meja belajarnya. Dengan telunjuknya nya Hana mengelus wajah Bintang dalam photo itu. Terbesit di pikirannya untuk mengambil photo itu, dan menyelipkan di balik b*a nya setelah nya baru berlalu pergi.