Sold

Sold
Bisa dikecilin ga?



"Kamu serius? kenapa tiba-tiba?" rasa senang di hati Bintang sungguh tak terkira. Pikirannya, Bee sudah mulai nyaman dengannya. Buktinya, gadis itu sudah siap untuk bersama Bintang malam ini, menjadi milik Bintang seutuhnya.


"Untuk apa di lamain, toh tujuan kita nikah untuk bisa punya anak kan? biar pernikahan ini cepat berakhir, dan aku bebas"


Duar..! bak petir yang menyambar. Di luar memang hujan gerimis, tapi kilat dan petir sama sekali tidak terdengar di luar.


"Oh..jadi agar utang mu lunas, dan kita bisa bercerai?" sahut Bintang getir. Sakit.


Ada sakit yang begitu menyayat di balik baju nya. Harapannya terlalu tinggi ke awan. Selama nya dia tak akan mendapat cinta wanita itu.


"Baik lah, persiapkan dirimu. Aku ke kamar sebentar" Bintang sudah berlalu. Dalam kamarnya, dia melampiaskan amarahnya. Dinding kamarnya menjadi sasaran nya hingga buku-buku tangannya memar.


Tak baik bagi dirinya jika berdekatan dengan Bee dalam keadaan emosi begini. Bintang tak ingin menyakiti wanita itu. Dijambak nya kasar rambut belakangnya, meluapkan emosinya.


"Untuk apa gue bersedih? Kalau memang gue ga di takdir kan bersama gadis itu, setidaknya gue masih memiliki sebagian dari dirinya..yah, anak kami" batin nya memantapkan hatinya menuju kamar Bee.


Gadis itu duduk di sana, bak dewi dengan rambut panjang tergerai indah dan pakaian tidur tipis nya memamerkan lekuk tubuh indahnya. Walau Bintang sudah pernah menyentuh tubuh gadis itu, tapi tubuhnya selalu panas dingin tak kala membayangkan apa yang tengah dia lihat kini.


"Apa kita hidup kan lampunya?" tanya Bintang kikuk. Padahal ini bukan yang pertama bagi nya, tapi kenapa seakan ini pengalaman pertama untuknya. Terbodoh tak mengerti harus apa.


"Sebenarnya aku ingin kita melakukannya saat cahaya remang. Tapi kalau lampu dimatikan, apa kakak tahu letaknya?" tanya Bee yang membuat Bintang tersedak ludahnya sendiri.


"Letaknya? letak apa Bee?"


"Ya letak lubang nya. Kakak tahu harus di masukkan ke mana itu nya kakak kalau dalam keadaan gelap?"


Sumpah demi apa, Bintang ingin mencekik lehernya. Apa dia tahu lubang nya? apa dia tahu harus di masukkan kemana?


Jangan sampai Ryan dengar apa yang di katakan Bee, bisa mampus dia jadi bahan ledekan.


Bintang mendekat, duduk di hadapan Bee di atas tempat tidur.


"Sayang..kita melakukannya harus relaks, dengan begitu, insting kita yang akan menuntun untuk penyatuannya nanti. Kamu paham?"


Bee hanya mengangguk, walau sebenarnya kurang paham.


Bego! harus nya tadi gue nge bokep bentar, biar tahu gimana nantinya. Gue lupa harus goyang nya dari kiri dulu apa kanan dulu! gimana kalau gue di ketawa-in Bintang nanti?


Pemikiran bodoh nya membuat dirinya menjadi gelisah sendiri. "Kenapa?" tanya Bintang yang melihat dahi Bee berkerut.


"Haaa? oh..ga papa kak..kita mulai aja" pinta Bee tak ingin lebih lama tersiksa dengan pikiran-pikiran aneh nya.


"Gini aja, kita matikan lampunya, pakai cahaya dari kamar mandi sama laptop aja aku hidupkan, gimana?" tanya Bintang berusaha menenangkan Bee.


Lagi-lagi Bee hanya mengangguk setuju. Usul Bintang dirasakan tepat untuk kondisi saat ini.


"Kak.." panggil Bee gelisah.


Bintang ga Psycho kan? ngelakuin begituan sambil ngerekam?


Pemikiran buruk itu luntur saat terdengar alunan musik yang mendayu. Bee pernah dengar lagu itu di film-film romantis yang Lala tonton, saat jam pelajaran kosong atau pun di sela acara ngumpul-ngumpul mereka.


Bintang sudah bangkit kembali ke sisi Bee. Tanpa menunggu lagi, Bintang menari kaosnya, hanya boxer yang tersisa menutupi rudal besarnya.


Melihat itu, Bee mendadak gelisah. Tapi sebisa mungkin dia coba tenang. Perlahan Bintang sudah menciumi leher jenjang Bee, menyusui setiap inci kulit mulus itu. Desahan demi desahan tertangkap merdu di telinga pria itu.


Panasnya kulit keduanya, membawa Bintang untuk mengeksplor lebih banyak. Dengan lembut dia memanjakan bibir Bee yang selalu tampak menggoda. Diemut, di hisap, dan memainkan lidahnya pada rongga mulutnya, yang membuat Bee menggelinjang. Tubuh nya bergetar seakan ikut terhisap oleh Bintang.


Saat melakukan aksinya, memuja bibir itu, tangan Bintang sudah menyusup di balik tubuh Bee, melepas kaitan br* nya.


Perlahan tapi pasti, jari jemari Bintang merayap ke dada, menggenggam lembut salah satu si kembar, yang seolah menimbang ukuran di telapak tangannya.


Bee harus meremas seprei saat mendapat serangan tiba-tiba di bagian sensitif nya. Bintang menarik piyama tipis itu keluar lewat kepalanya. "Kamu sempurna Bee, cantik seperti yang selama ini menghiasi mimpi ku" bisik nya parau. Kembali mengirim gelegar di tubuh Bee.


"Kakak..jangan lama-lama lihat nya, aku kan malu" protesnya saat Bintang masih diam, menatap lekat-lekat setiap senti tubuh istrinya.


Sekali lagi, Bintang menyatukan bibir mereka. ******* dan memberi gigitan kecil sembari membaringkan tubuh Bee. Dengan posisi seperti itu, mudah bagi Bintang menyantap hidangan yang di sajikan Bee.


"Ka-kak.." desah nya menahan nafas, saat kepala Bintang sudah berhenti di dadanya. Bermain dengan kedua miliknya. Sekali lagi Bintang membawa kesadaran gadis itu ke atas awan, saat kecupan di put*ngnya berubah menjadi isapan lembut.


Udara dingin bersama hujan di luar tak mampu membuat tubuh mereka mendingin, malah semakin panas. Bee sudah semakin melayang, jiwa nya seakan pergi meninggalkan raganya, terbuai kenikmatan yang belum pernah dia rasakan.


Sama halnya dengan Bee, Bintang pun sudah ikut terbakar. Dengan sigap berdiri untuk membuka boxer nya.


Pencahayaan memang kurang di kamar itu, hanya mengandalkan cahaya lampu kamar mandi dan sinar laptop, tapi cukup bagi Bee untuk bisa melihat dengan jelas rudal panjang dan besar Bintang mengacung tegak.


Mata Bee membulat sempurna, bergidik ngeri melihat ke arah benda bergantungan di sela paha Bintang.


Dia sudah pernah nonton film blue, dan memang seperti itu lah milik pria, tapi itu kan bule, biasanya ukurannya lebih besar dari pria indo pada umumnya, tapi ini.."gede banget" batin nya masih menatap.


Bintang yang sadar Bee menatap hingga tak berkedip merasa bangga memiliki senjata pamungkas seperti itu. Ga sia-sia ibu nya nikahin bule!


"Kak.." rintih nya tertahan. Ada rasa takut di hatinya. Benda sebesar itu jika di masukkan ke milik nya, bukan kah bisa mengoyak hingga ke dalam-dalamnya?


"Kenapa sayang?" Masih dengan senyum penuh rasa bangga pada diri sendiri.


Gue yakin, Bee pasti terpesona, ya iya lah..cewek mana ga senang sama Pinokio gue..hahahaha..


"Itu..itu punya kakak bisa di kecilin ga?"