Sold

Sold
Akhirnya ku menemukanmu!



Tak hanya Stella, tapi Kinan juga terkejut. Terlebih setelah mendengar perkataan keramat Bee, Bintang dengan santainya mengambil Saga dari gendongan Bee, dan menciumi anak itu yang tertawa gembira.


"Maksud kamu apa?" bentak Stella melangkah menghampiri Bee yang kini masih berdiri di depan Bintang.


"Maksud ku? tidak ada. Aku cuma ngasih anak aku untuk di gendong papanya. Emang salah?" ucap nya santai. Ibarat motor, Bee sedang panas-panasnya untuk di gas. Dia tidak akan kalah lagi. Asal ibu sudah merestui, dia akan merebut Bintang dari siapa pun.


"Papa anak kamu? mimpi kamu ya?" bentak nya semakin menggila. Tapi Bee tidak gentar.


"Emang papa nya Saga adalah Bintang. Dan aku adalah istri nya yang sah!" ucap nya melebihkan. Bintang hanya mendengar. Cuek bermain dengan Saga. Mengizinkan Bee untuk bersenang-senang mengolok-olok Stella yang penuh dengan kesombongan itu.


"Bintang, wanita ini sudah gila. Kasih anak nya, biar dia pergi dari sini" kali ini Stella menghadap Bintang.


Seolah di cuekin, Stella menjerit layaknya orang kesurupan. " Kinan, tolong pegang Saga" ucap Bintang menyerahkan anak itu, lalu menarik tangan Bee menuju ruang perpustakaan keluarga.


Melihat hal itu, Stella merasa di atas angin. Dia tahu kalau Bintang akan memaki gadis itu karena sudah mengatakan kebohongan.


"Apa mau mu?" ucap Bintang dingin. Melipat tangan nya di dada setelah mereka berdua di dalam ruangan penuh buku itu.


"Mau ku? jenguk ibu"


"Lantas, alasan kau mengatakan pada Stella bahwa kau adalah istri sah ku?" susul Bintang tidak ingin kasih celah.


"Itu..itu.." Bee tidak bisa meneruskan kalimatnya. Otak nya buntu. Lidahnya keluh, terlebih tatapan mengintimidasi Bintang padanya membuatnya semakin gelisah.


"Jawab aku Bee! Cukup kau mempermainkan perasaan ku!"


"Itu..itu.."


"Baik lah, kalau kau tidak ingin menjawab. Lupakan lah" Bintang sudah memutar knop pintu, tapi tangan Bee menahannya.


"Aku..aku..mau..kita..apakah kita bisa kembali bersama lagi?" plong rasa hatinya.


"Untuk apa?" Bintang ingin kejelasan. Dia tidak mau lagi perasaannya di jadikan bahan mainan oleh Bee. Sebentar di inginkan, besok di buang. Dia ingin Bee datang padanya dan mengakui perasaannya pada Bintang.


"Untuk Saga.."


"Hanya itu?"


"Demi ibu juga"


"Cuma itu?"


Bee bingung harus jawab apa lagi. Dia tahu ada satu hal yang ingin pria itu dengar dari nya, tapi Bee malu untuk mengatakannya.


"Sudah lah. Lupakan semuanya" ucap Bintang membuang pandangannya ke arah jendela. Senja sudah mulai turun. Melihat Bee diam, Bintang putar badan menghadap pintu, tidak akan dia dengar apa yang diharapkan nya keluar dari mulut Bee. Harapannya pupus.


"Aku mencintaimu.." kalimat itu terucap dengan wajah nya yang di benamkan pada punggung panas Bintang. Tangan nya sudah melingkari perut Bintang.


Kalimat yang begitu lama di dambakan Bintang ingin dia dengar dari gadis itu. Kalimat yang dia harapkan akan di ucapkan gadis itu padanya suatu hari, hingga dia yakin untuk menikahi Bee saat itu.


Bintang berbalik, menangkup wajah Bee dengan kedua tangannya. "Apa kau sungguh-sungguh?" Bee mengangguk.


"Semoga ucapan mu benar. Karena aku tidak akan lagi melepaskan mu sampai kapan pun!" Kalimat itu di tutup dengan ciuman panjang yang sangat memabukkan. Penuh damba dan rasa rindu.


Keduanya mungkin sudah lupa diri, jika saja suara Kinan yang menggema memanggil namanya tidak menyadarkan mereka. Dengan cepat Bee membenahi pakaiannya. Satu senyum terbit di bibir Bintang melihat wajah gelagapan Bee membenahi pakaiannya.


"Ada apa Nan?" tanya Bee yang baru keluar dari ruangan itu di ikuti Bintang dari belakangnya.


Tidak perlu dijelaskan lagi, tanda kepemilikan di leher Bee sudah membuat Kinan paham apa yang ada diantara mereka.


"Saga rewel. Papa mama nya asik sendiri katanya" ucap Kinan menyerahkan Saga pada Bee.


Saat mereka kembali ke ruang mini bar tadi, Stella masih ada di sana, menunggu. Dan setelah Bintang menjelaskan semuanya, gadis itu histeris, pulang dengan harga diri yang terluka.


"Ga jadi deh jadi nyonya Danendra" ledek Kinan melihat kepergian Stella.


Kini ketiga nya duduk bersantai di ruang tamu. Bagaimana pun Kinan meminta penjelasan mengenai hubungan mereka yang dengan senang hati di jelaskan Bee.


"Halo epribadi, wah pada ngumpul nih. Gimana ibunda ratu bang?" suara seseorang dari belakang mereka mengkomandoi ketiga nya untuk berpaling melihat ke arah sumber suara.


"Balik juga lo! Kirain udah kecantol bule terus ga mau balik ke Indo" ucap Bintang.


Tidak ada yang memperhatikan wajah Kinan yang kini seputih kapas, pucat dan menahan nafas. Begitu pun dengan Piter, melihat Kinan dia seperti melihat hantu yang membuat wajah nya pias.


"Kamu.." ucap Piter mendekat.


Semua memori Kinan terkumpul. Setiap rentetan yang dia ingat terjadi malam itu, kembali dia pugar setelah melihat Piter berdiri di hadapannya.


"Kamu..dasar bajingan. Kamu brengsek" maki Kinan seraya berjalan ke hadapan Piter dan memukul bahu pria itu geram.


"Hey.. kalian kenapa? udah saling kenal?" tanya Bintang. Tapi Bee diam. Perasaannya mulai tidak karuan. Kalau benar tebakannya, berarti masalah Kinan akan teratasi.


"Dia..dia ini brengsek. Pria bejat yang mengambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Kinan semakin meradang.


"Tunggu dulu..enak aja kamu maki-maki aku" Piter memegangi bahunya yang memang terasa sakit oleh pukulan Kinan yang berulang-ulang.


"Jelaskan dong Nan, biar kita ngerti" ucap Bee.


"Dia..dia ini Bee orang nya. Dia yang udah memperk*sa aku"


"Kamu yakin Nan? tapi kamu bilang, kamu udah mabuk ga ingat wajahnya" ucap Bee.


"Aku yakin Bee. Itu di bibirnya ada tahi lalat. Aku ingat betul, karena malam itu aku kan ngemut ngemut bibirnya"


Aduh, Kinan bego, ngapain sih aku jujur banget. Malunya..


"Eit, enak aja. Siapa juga yang memperk*sa lo! Lo itu yang nyosor duluan. Gue uda menghindar, tapi lo yang tetap nyosor" tangkis Piter tidak ingin di salahkan sepihak.


Wajah Kinan merah. Apa yang dikatakan Piter itu benar adanya. Dia masih ingat pertempuran panas mereka. Dan Kinan yang lebih menuntut.


"Tapi tetap aja kamu brengsek. Kamu udah gituin aku, langsung main tinggal, tanpa bilang apa pun, menghilang tanpa jejak!" ucap Kinan, kali ini ada bulir air mata di pipinya yang membuat Piter tidak tega.


"Benar itu Ter? dasar bajingan. Buat malu keluarga aja lo. Habis enak, main tinggal aja" umpat Bintang.


"Ga gitu bang. Gue malah ninggalin nomor telpon gue di kertas, biar dia bisa ngubungi gue. Waktu itu gue langsung cabut, karena ada kerjaan mendadak, harus sidang pagi itu.


"Bohong, mana ada kertas isi nya nomor telpon kamu" bantah Kinan.


"Ada. Gue letak di atas bantal"


Kinan masih mendebat, tapi tidak jadi, karena Bee langsung memotong. "Kamu harus tanggung jawab, Ter. Kinan hamil anak kamu!"


*Hai..hai..maaf ya baru bisa up lagi. Harusnya penjelasan ini kemarin aku up, tapi Eike sibuk di kantor, banyak kerjaan cyin,😅😅🙏


By the way, siapa nih yang benar jawabnya? kalau ada lampirkan no. ponselnya buat pulsa goban nya yes. Nanti aku cek komen deh..makasih 😘😘😅🙏*