
Setelah malam jamuan di rumah Bintang, Piter dan Kinan berhubungan secara diam-diam, persis seperti anak ABG yang takut ketahuan orang tua.
Demi memudahkan komunikasi, Piter bahkan memberikan ponselnya pada Kinan, agar setelah sampai di rumah malam itu, Piter bisa menghubungi gadis itu kapan pun dia mau.
"Jadi ke sini?" tanya Piter melirik jam tangan nya. Pukul sebelas, dan kinan janji datang saat makan siang tiba.
"Jadi, ini udah di jalan"
"Buruan ya, aku kangen" dan kalimat biawak itu mampu membuat jantung Kinan berdegub kencang. Wajah nya saja sampai memerah, untung Piter tidak melihatnya.
Penuh kerja keras untuk membujuk papa nya agar mengizinkannya keluar. Itu pun dengan catatan, dia tidak boleh menemui Piter.
"Maaf, saya mau ketemu dengan tuan Piter Danendra" ucap Kinan pada salah satu front office yang menyambutnya setelah melewati pintu masuk.
"Sudah ada janji sebelumnya?"
"Sudah"
"Baik. Ruangan tuan Danendra ada di lantai 15" setelah mengangguk dan mengucapkan terimakasih, Kinan menunggu lift untuk terbuka yang akan membawanya. Pada lantai 10 ada tiga orang wanita yang masuk, hingga Kinan memilih untuk semakin kebelakang.
"Masih kekeuh lo ya ngirimin Pak Piter makan siang?" celetuk salah satu nya.
"Masih dong. Sampai dia ngelirik gue. Lo kayak ga tahu perjuangan gue buat mendapatkan perhatian dia"
"Apa sih yang lo suka dari dia?" sambung yang ada di tengah.
"Gila, semua yang ada di tubuhnya nya. Perut, wajah nya, dan pasti, itu nya juga gede. Main sama gue, bisa nyampe ginjal ga sih?" ketiga nya tertawa tanpa perduli ada Kinan yang orang luar di sana. Kinan hanya diam sembari mendengar dengan perasaan bangga. Banyak yang mendekati Piter, tapi pria itu justru memilih nya.
Walau pun hingga detik ini belum ada pernyataan cinta dari pria itu, tapi Kinan yakin seperti kata Bee, cinta akan tumbuh dari kebersamaan mereka, yang terpenting saat ini Piter menginginkan nya untuk menikah kembali.
"Tapi menurut lo, Piter udah punya cewek ga? ya maksud gue buat cewek buat teman main kuda-kudaan pasti ada, tapi yang mau diajak nikah, ada ga sih? jangan sampai gue keduluanan sama yang lain"
"Makanya lo tembak aja. Sosor terus. Lo juga kan pengacara, selevel lah"
Perbincangan unfaedah itu terhenti saat bunyi lift, dan pintu terbuka, ke empat nya keluar dengan tujuan yang sama. Di depan ruangan itu ada meja besar yang di jaga oleh dua orang gadis, yang Kinan tebak adalah sekretaris nya Piter. Gedung ini begitu tinggi dan megah, dan yang membuat nya terpukau di depan tadi saat membaca Law Firm Piter Danendra sebagai pemilik kantor badan hukum ini.
"Tia, ini Titip untuk belahan jiwa ku ya" ucap wanita tadi meletakkan bungkusannya di atas meja Tia.
"Belahan dada kali Bu" sambut Tia yang ditimpali tawa oleh dua teman di lainnya. Ketiga nya berlalu, yang ternyata ruangannya ada tidak jauh dari ruangan Piter.
"Maaf, anda mau cari siapa?"
"Oh, aku mau ketemu Piter" Kinan memberi senyum terbaik nya.
"Sudah ada janji sebelumnya?" Tia mendelik, mengintrogasi penampilan Kinan, menebak siapa kiranya gadis ini.
"Udah. Dia lagi nungguin aku kok" ucap Kinan percaya diri. Dia ingin Tia nanti menceritakan pada semua wanita yang coba mendekati Piter, kalau pria itu sudah punya wanita di sisinya.
"Maaf, nama anda?" tanya Tia menutup gagang telepon dengan telapak tangannya.
"Kinan"
"Kinan katanya bos" dan panggilan itu langsung terputus. Piter sudah menutup telepon nya. Tidak lama, pintu besar itu di buka, muncul lah Seraut wajah tampan pujaan sejuta kaum hawa di gedung ini. "Kau sudah datang" ucap Piter mendekap Kinan, mencium kening Kinan tepat di hadapan Tia. Sontak membuat mata Tia membulat.
"Tia, jangan terima tamu siapa pun, dan batalkan semua agenda saya hari ini. Dan oh..jangan ada yang berani masuk ke dalam!" ucapnya tegas.
Tia belum lepas dari rasa shock nya, tapi sebelum sampai di pintu, Tia menemukan kembali kesadaran nya. "Bos, ini dari Bu Jessi" ucap nya mengantar bungkusan tadi.
"Apa ini?" alis Piter terangkat sebelah.
"Seperti biasa bos. Paling juga Bekal makanan bos"
"Buat kamu aja"
"Bos ga makan?" tanya Tia menahan langkah mereka untuk masuk.
"Makanan aku udah datang. Nih segede ini kamu ga lihat. Ini juga ga bakal habis" ucap nya tersenyum mengarah pada Kinan, yang lagi-lagi membuat Kinan tersipu malu.
"Oh.." hanya itu yang mampu Tia ucapkan. Mata nya terus menatap pintu yang kini sudah tertutup.
"Kok tahu aku bawa makan siang buat kamu?" tanya Kinan menatap wajah Piter, seperti biasa pria itu begitu tampan.
"Aku malah ga tahu kau bawa makanan. Yang aku maksud adalah melahap mu" ucap nya menarik tas yang sejak tadi digenggam Kinan, dan meletakkan di atas meja. Lalu tanpa banyak kata, Piter menyatukan bibir mereka, dalam dan nikmat, hingga rasanya kaki Kinan lemas dan tidak bisa menopang berat tubuh nya. Wanita itu memilih untuk menempelkan tubuhnya di dada Piter.
Susah payah Kinan melepaskan diri dari hasrat Piter. Rasanya seluruh udara diambil pria itu hanya untuk dirinya sendiri.
"Aku lapar" ucap wanita itu saat Piter memandang kesal pada Kinan karena melepaskan diri.
"Bukan alasan menolak ku?"
"Iih, apaan sih" ucap Kinan menarik hidung mancung pria itu.
"Kita makan dulu kalau begitu. Karena aku akan menguras tenaga mu lagi" kerlingan Piter disertai senyum memikatnya membuat bulu kuduk Kinan merinding.
"Tapi masih ingat kan janji kamu. Ga boleh minta yang satu itu sebelum kita nikah"
Piter memutar bola matanya. Bagaimana dia bisa lupa, kalau setiap menyentuh Kinan, wanita itu selalu mengingatkan. Dia normal, dia menginginkannya, tapi Piter bukan tipe pria yang mau melahap mangsa nya tanpa seizin dari wanita itu. Lagian Piter memang ingin menikahi Kinan, ingin hidup bersama gadis itu selamanya. Dia sudah menjatuhkan pilihan nya, Kinan lah yang akan menemaninya sepanjang hidupnya.
"Ini kau yang masak?" Piter tampak menikmati bekal yang di bawa Kinan. Dia rindu rasa ini. Dulu Kinan juga sering menyiapkan makanan untuk nya. Ah...dia rindu hari-hari itu.
"Iya, ga enak?" tanya Kinan harap-harap cemas
"Enak banget malah. Aku ingat rasa ini. Dulu kau sering masak buat aku. Maaf kan aku yang dulu menyia-nyiakan kebersamaan kita ya" ucap nya membelai rambut Kinan, menatap dalam pada wanita itu.