
Suasana dalam mobil terasa sangat horor. Bintang diam di balik kemudi, ingin mencoba bicara tapi melihat wajah Bee yang menyeramkan membuatnya mengurungkan niat. Nanti aja sampai rumah, baru aku ajak ngobrol..
Sementara Bee yang duduk di samping Bintang juga ikut diam, memeluk Saga yang sudah tertidur pulas. Mereka sibuk dengan isi pikiran masing-masing hingga tiba di rumah.
Begitu pun setelah tiba di rumah, Bee memilih menggendong Saga sendiri walau sudah di minta oleh Bintang.
"Saga kemari kan sayang, biar aku gendong ke atas"
"Ga perlu. Aku bisa sendiri" Bee sudah melangkah meninggalkan suaminya yang mendesah dengan berat. Alamat bakal puasa malam ini Lo, Pino!
Selama menaiki tangga, Bintang sempat berfikir, apa yang akan di lakukan Bee untuk menghukumnya. Biasa istrinya itu akan meledak-ledak, tapi kenapa kali ini diam.
Begitu pintu di buka dan Bintang masuk ke kamar, pemandangan pertama yang membuat nya lemas, Saga sudah berbaring di tempat tidur mereka. Bunyi air dari kamar mandi membuat Bintang mengalihkan tatapan ke sana.
"Yang..buka, mau buang air kecil nih" Bintang mengetuk pintu dengan hati-hati. Buang air kecil hanya jadi alasan agar dia bisa masuk.
"Yang..buka pintu nya"
"Dikamar mandi yang lain kan bisa. Seingat ku di rumah ini ada banyak kamar mandi loh kak" ucap nya santai tapi tidak bersahabat.
Bintang diam. Memilih untuk duduk di tepi tempat tidur.
Deerrrrrt... deerrrrrt..
"Halo, oh..kamu Cha.."
Clek! tepat saat daun pintu terbuka. Mata keduanya saling tatap. Sepi suasana kamar membuat Bee bisa mendengar suara seorang wanita sedang bicara di ponsel suaminya.
"Oh.. iya, ini udah sampai kok..kita ngobrol nya besok aja ya. Kamu istirahat aja. Selamat malam" semua kalimat itu meluncur dari mulut Bintang dengan nafas tercekat dan pandangan mata terkunci pada sorot tajam mata Bee.
"Udah selesai bersih-bersih nya yang?" tanya nya kikuk. Bee tidak menjawab, melewatinya dan menuju cermin hiasnya.
"Yang..itu..itu Saga kenapa tidur bareng kita?" ucap nya mendekat. Takut-takut menyentuh pundak Bee, karena merasa tidak ada perlawanan, Bintang pun mulai memijit pundak Bee.
"Aku kangen Saga tidur dekat aku. Ga papa kan kak? kalau kakak keberatan, biar nanti aku tidur di kamar Saga aja" ucap nya tersenyum. Tapi sumpah, senyum Bee begitu mengerikan seperti senyum peran antagonis di film-film ikan terbang.
"Jangan dong, ya udah, kita tidur bertiga. Tapi aku mau kamu di tengah ya yang" pinta nya mengecup puncak kepala Bee.
"Jangan dong kak. Nanti kalau Saga jatuh gimana" Bee menyudahi skincare-an nya dan beranjak ke tempat tidur. Bintang masih mengamati semuanya hingga selimut itu menutupi seluruh tubuhnya. Puasa lagi lo, Pino!
***
Dua hari sikap Bee tetap dingin pada Bintang. Bicara hanya seperlunya saja. Sebenarnya Bee juga tersiksa dengan keadaan itu. Setelah menikah kembali, setiap malam mereka akan tidur berpelukan, tapi sejak dua hari ini, Bee selalu memunggungi suaminya. Meletakkan bantal guling di tengah mereka sebagai benteng Takeshi.
Tidak banyak yang diinginkan Bee, tapi dasar suaminya tidak mengerti. Seandainya saja Bintang menjelaskan padanya mengenai Ranika, Bee mungkin bisa mengerti. Tapi yang ada Bintang terus saja berusaha mengajaknya ngobrol seperti tidak ada masalah.
Bee ingin di hargai. Dia bukan menuduh diantara mereka ada hubungan, amit-amit jangan sampai, tapi sebagai istri, mana mungkin dia tenang melihat suaminya yang begitu akrab dengan wanita lain, walau pun itu teman masa kecilnya.
Hari ini Bee tidak ada kuliah. Tugas-tugas yang di minta dosen nya juga sudah di email hingga punya waktu bermain dengan Saga. Saat menyuapi Saga makan, Bee kepikiran untuk mengirimkan makanan buat Bintang.
"Pak Komar, saya ikut deh. Bentar ya pak saya ganti baju"
Bee sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Bintang akan kedatangan anak dan istrinya. Lagian, ini kali pertama dia datang ke sana dengan status sebagai istri.
Dimana ruangan Bintang tentu saja Bee tidak tahu, tapi pak Komar yang sudah lalu lalang ke sini tentu tahu, jadi Bee meminta untuk membawakan bekal sementara dia menggendong Saga.
Naik ke lantai 20, Bee mengikuti langkah pak Komar, tapi di depan pintu besar itu, langkah mereka di hentikan oleh seorang gadis cantik.
"Maaf, mau bertemu siapa nyonya?" Vero, sekretaris Bintang memang mengenal pak Komar, tapi tidak dengan Bee, terlebih dia masih baru jadi tidak ingin salah dalam pekerjaannya.
"Tuan Bintang ada di dalam?" tanya nya lembut.
"Ada nyonya, tapi beliau sedang ada tamu"
"Siapa? pria atau wanita?"
Lama Vero diam. Apa tindakan nya sudah benar memberikan penjelasan pada wanita yang tidak dia tahu siapanya bos besarnya.
"Jawab mbak. Nyonya ini istri tuan" suara pak Komar membuat Vero sigap.
"Wanita, nyonya"
"Ini bukan nya jam istirahat?" Bee melirik jam tangannya. Pukul 12 lewat 10. Pekerjaan apa yang harus di bahas pada jam istirahat?
"Iya nyonya" sahut Vero pelan. Dia salah tidak mengenali istri bosnya. Dia kira bos besarnya belum menikah, hingga sempat membuat nya naksir pada pesona Bintang. Tapi kedatangan seorang wanita cantik pagi tadi yang di sambut ramah oleh Bintang membuat Vero beranggapan itu adalah kekasih bosnya.
"Maka biarkan saya masuk"
Sekretaris itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan gerakan cepat dia memutar knop pintu dan mendorong daun pintu nya.
Kedua orang yang ada di dalam sontak kaget. Sumpit yang ada di sela jemari Bintang pun sampai terjatuh.
Berbeda dengan Bintang, Ranika justru tersenyum pada Bee dan mengangguk guna menyapa.
"Sayang..kamu kesini?" Bintang tahu diri, hingga segera berdiri dan menyambut kedatangan istrinya.
"Pak Komar, tolong letakkan di atas meja sini aja" ucap Bee yang di lakukan oleh supir itu dan setelah nya berlalu keluar.
"Hai Bee, lama ga ketemu" sapa Ranika.
Lama ga ketemu? baru dua hari lalu ya. Heh wanita, apa ga punya kerjaan lo ngintelin suami gue terus? ini juga suami kardus, enak banget lo ya kak, makan siang bareng..
Ucapan dalam hati Bee yang di ikuti tatapan tajam pada mereka berdua membuat Bintang keringat dingin.
"Maaf, ganggu acara makan siang kalian. Dari kemarin kak Bintang minta di masakin ayam rica-rica, tapi karena belum sempat baru kali ini aku buatin, iya kan kak?" Bintang yang ditanya, menjawab dengan gelagapan dan hanya bisa mengangguk.