
Hal yang paling menyakitkan ketika rindu itu menusuk hingga relung hati adalah ketika orang yang dirindukan begitu dekat namun tidak dapat menyentuhnya.
Pria yang sangat di rindukan Bee itu ada di sana, duduk di sofa dengan laptop menyala di depannya. Bee yakin Bintang mendengar dirinya masuk, tapi pria itu bahkan tidak menoleh.
"K-ak..Maaf aku telat pulang nya" bagai anak sekolah yang mengaku salah pada orang tuanya, Bee berdiri di depan Bintang. Meremas jemarinya karena merasa takut akan diam nya Bintang.
Ketika Bintang sama sekali tidak bereaksi, saat itu pula Bee semakin hancur. Apa lagi yang bisa membuat nya lebih hancur dari ini?
"Kak.." Masih belum ada sahutan apa pun. Pria itu tetap menatap layar laptopnya. Perasaan risau Bee semakin menjadi-jadi. Lebih baik Bintang menamparnya agar pria itu puas, asal jangan menghukum nya dengan cara mendiami dirinya.
Bruk..!
Tubuh Bee merosot di lantai. Tenaga nya sudah habis terkuras, tidak tahan menopang berat dan tubuhnya lagi. Dia tidak sedang berakting. Dia lelah dengan semua keadaan ini.
Dalam diamnya Bintang sudah hampir bangkit karena khawatir akan Bee yang terduduk. Tapi segera dibatalkannya saat gadis itu masih terdengar bersuara. "Jangan diamin aku kak. Aku mohon"
Suara Bee menandakan rasa sakit dan kecewa, Bintang tahu itu. Dia juga merasa kosong beberapa hari ini menjaga jarak dengan kekasih hatinya itu. Tapi ini semua harus terjadi, biar lah mereka saat ini merasa sakit, agar nanti di kemudian hari, mereka bisa saling menghargai dan menjaga perasaan masing-masing.
"Kakak.." hentak nya menatap Bintang.
"Apa? kau ingin aku bicara apa?"
"Kenapa kau mendiami ku? kalau ada yang kau tidak suka, katakan" tantang Bee, dia sudah tidak perduli. Kalau perasaan Bintang sakit, dia juga. Kalau Bintang ingin di hargai, dia juga. Dia lelah, harus menahan curiga mengenai Bintang dan Hana.
"Apa guna nya aku bicara? kau selalu seperti itu, tidak pernah mendengar apa pun yang aku katakan, bahkan janjimu tidak bisa kau tepati"
Ucapan Bintang membuat Bee mati kutu. Dia kehilangan kata, bibir tajam nya seolah menjadi tumpul seketika.
"Katakan, dari mana kau hingga jam segini baru pulang?" nada suara Bintang selayaknya bicara dengan pelayan atau bawahan, penuh intimidasi bukan cara bicara pada istrinya seperti dulu.
"Aku pemotretan"
"Pemotretan? dengan membawa Saga?"
"Tentu saja aku membawa Saga, karena dia juga jadi model videoklip itu"
"Apa kau sudah mengantongi izin ku? kau masih jadi istri ku, dan itu anak ku!" suara Bintang menggelar. Amarah kini merasuki nya. Bee sudah di luar batas. Mulai sibuk dengan kerjaan, mengabaikan anak-anak mereka yang masih balita, bahkan kini kembali ke dunia entertain dengan membawa Saga. Bintang merasa tidak dihargai sama sekali. Kenapa selalu masalah seperti ini saja yang serius Ng menyapa rumah tangga mereka?
"Aku udah bilang sama kakak"
"Minggu lalu, saat..saat.."
"Saat apa?" bentak Bintang menuntut Bee meneruskan kalimatnya.
"Sialan kau kak, kenapa kau bentak aku? aku udah bilang saat kau memasukkan Pino ke milik ku malam itu, dan kau bilang aku boleh kembali syuting bersama Saga asal bisa jaga diri dan jaga kesehatan ku dan juga Saga"
Kini berganti, wajah Bee yang memerah. Suami sialannya sudah membuat dirinya malu. Dia memilih menunduk. Bintang pun tidak berkutik. Dia juga menyimpan malu. Memori by kembali mengingat, dan bayangan pertempuran malam itu pun kembali dalam ingatannya.
Yah, saat itu mereka sedang menyatu, Bintang baru saja melepaskan timah panas nya ditubuh Bee saat wanita nya itu meminta izin.
Bintang menatap kearah Bee yang menunduk. Memperhatikan tubuh itu yang tampak bergetar. Hufffh... suara Dengusan kasar Bintang terdengar. Pertahanan hampir goyah.
Sial, kenapa tubuhnya coba berhianat. Memintanya untuk memeluk Bee yang tampak akan menumpahkan air mata.
"Kau berubah kak, dulu kau ga pernah membentak ku. Kenapa sekarang kau berubah? apa kau sudah tidak mencintai ku lagi? kalau aku salah aku minta maaf. Ajari aku dengan lembut agar aku mengerti keinginan mu, bukan dengan membentak ku. Kalau kau sudah tidak menginginkan ku lagi, maka ceraikan aja Mmmmphhhfh.."
Kalimat Bee sudah tersedot ke dalam mulut Bintang. Peleburan emosinya dia lampiaskan dengan mel*mat bibir Bee yang begitu dia rindukan. Dia kelaparan, kehausan akan sentuhan gadis itu. Dia kalah. Dia pecundang, yang tidak bisa melihat air mata istrinya. Dia lemah akan wanita itu.
Sama halnya dengan Bintang, Bee pun sudah tidak perduli dengan rasa kecewa yang sejak beberapa hari bersarang di hatinya. Dia ikut, larut dengan sentuhan dan sentuhan suaminya yang begitu mendamba.
Sepenuh hati Bee membalas ciuman itu, saling h*sap dan pagutan itu semakin dalam dan menuntut.
"Aku pastikan aku akan menghukum mu Karen sudah menjadi istri pembangkang, tapi itu nanti. Aku ingin mengikuti kata hati ku dulu untuk melepaskan rindu ku padamu" bisik Bintang di atas bibir Bee. Mata keduanya saling mengunci. Perlahan Bee mengangguk. Dia juga sudah gila dengan bara gairah yang meledak-ledak ini. Seminggu Bintang mencuekin nya, dia hampir gila.
Bintang memapah tubuh Bee ke atas ranjang. Dengan rakus mel*mat bibir Bee yang sudah mulai membengkak. Masih terus menatap netra Bee, tangan Bintang bergerilya membuka pakaian Bee hingga tubuh mulus itu terpampang di hadapannya.
"Aku merindukan mu, aku rindu hingga hampir gila" racu Bintang. Desiran hangat menjalar di hati Bee. Suaminya masih mendamba nya. Tatapan singa jantan itu tidak pernah berubah setiap melihat nya, masih penuh damba dan Bee yakin cinta Bintang padanya masih sebesar dulu.
"Aku mencintaimu, suamiku"
Kalimat yang jadi penambah imun bagi Bintang untuk mengeksekusi permainan. Perlahan Bintang mengecup setiap jengkal tanah tubuh Bee. "Ini..ini..semua ini bahkan setiap jengkalnya, milikku. Kau milik ku, sampai kapan mu. Jadi jangan pernah mengatakan kata cerai lagi, sayang" ucap nya serius. Saat kata itu keluar dari mulut Bee, jantung Bintang hampir copot. Makanya dia segera membekap mulut berbisa Bee.
"Kau dengar?" hardiknya sudah berada di atas tubuh Bee yang sudah polos.
Dengan yakin Bee mengangguk. Dia memang ingin selamanya hanya menjadi milik Bintang. "Cintai aku sepenuh hatimu kak, karena aku juga sangat mencintaimu. Bercintalah dengan ku, sayang ku" bisik Bee menatap Bintang penuh kabut asmara. Senyum tampan melengkung di bibir Bintang.
"Keinginan mu adalah perintah bagi ku, my queen" bisik Bintang mengecup dalam bibir Bee sebelum menyatukan tubuh mereka malam itu.