Sold

Sold
Kabur



Tanpa pernah di duga nya, Bintang tak mengizinkannya pergi. Sebenarnya tidak semua nya tidak di izinkan. Bee di perbolehkan untuk pergi ke rumah Tante Di, malah Bintang menawarkan diri untuk menemaninya. Tapi tidak dengan bertemu Piter.


"Kok gitu sih? kok Lo ngatur-ngatur gue mau ketemu siapa?" salak Bee kesal.


"Lupa sama isi perjanjian kita? kamu ga boleh ketemu dengan lelaki mana pun tanpa seizin ku"


"Bukan nya untuk ketemu Elang poin itu berlaku?" susul Bee.


Nyatanya Bintang tak bisa di debat untuk soal itu. Sepanjang jalan menuju rumah tante Di, Bee mengunci rapat mulutnya. Tak sampai di situ, dia bahkan tak Sudi untuk melihat ke arah Bintang.


Di rumah, Bee juga sudah sempat mengatakan untuk tidak jadi pergi tapi Bintang tetap tak bersikukuh untuk pergi, dengan alasan mengunjungi keluarga Bee sebagai bentuk rasa hormatnya pada keluarga Bee.


"Wah..pengantin baru datang..masuk.." sambut tante Di girang. Om Edo lagi keluar kota dan Niko juga lagi bimbel.


"Kita cuman sebentar kok tante, aku cuma mau ngambil barang-barang aku sebagian aja" ucap Bee mencium pipi tante Di dan segera naik ke lantai atas, meninggalkan Bintang bersama tante Di.


Kalau lah dia bisa bebas pergi sebelum besok di sibukkan dengan urusan sekolah besok.


Ting!


Tiba-tiba senyum melengkung di wajah cantiknya. Ide itu di rasa begitu cemerlang. Perlahan di bukanya pintu menuju balkon kamarnya, lalu berjalan menyusuri lorong balkon, hingga tiba di tangga darurat menuju halaman samping.


Merasa begitu mudah untuk melarikan diri, Bee tak henti-hentinya tersenyum. Kini dia sudah berada di jalan raya, berjalan menjauhi rumah tante Di.


Tadi online yang di tunggu dengan was-was, takut Bintang sudah mengetahui kepergiannya dan mengejar. Syukur lah mobil hitam ber- merk Avanya itu sudah tiba dan segera membawa nya untuk pergi.


"Lo dimana?ketemuan yuk, kangen nih" Bee menghubungi Kiki, mengajak sahabatnya itu untuk bertemu di mall yang sudah dia tentukan.


Sembari menunggu Kiki, Bee sudah mulai mengunyah burger yang dia pesan. Perutnya begitu lapar. Sejak bangun belum di isi apa pun. Bintang sempat mengajaknya makan dulu sebelum ke rumah tante Di, tapi di tolaknya mentah-mentah.


"Enak Lo ya, makan ga nunggu gue" ujar Kiki sembari menepuk punggung Bee hingga tersedak.


"Sue Lo, keselek gue" Bee buru-buru menyedot cola nya, mendorong makanan itu hingga mendarat di perutnya.


"Habis Lo ga setia kawan, ga nungguin gue"


"Sorry Ki gue lapar banget.."


"Marathon lo kemari? kayak di uber-uber orang gila Lo" Kiki sudah menghempaskan bokongnya di kursi di hadapan Bee, mencomot satu kentang goreng di hadapannya.


"Emang.."


"Siapa yang ngejar Lo?" selidik Kiki memicingkan matanya.


"Suam..tante Di.."ralat nya. Hampir saja mulut nya yang suka nyablak ini ngebongkar aib nya. Bisa mati di hajar Kiki dirinya kalau tahu dia udah punya suami. Mana cuma setahun lagi. Miris emang hidupnya.


"Kia mana?" tanya Bee mengalihkan topik.


"Kabur.." Kiki masih sibuk dengan kentang goreng. Bahkan kini sudah merambat menuju ayam goreng nya.


"Kabur gimana maksud Lo?" tatap Bee serius.


"Ribut sama bokap gue, adu jotos, nyokap nyuruh dia pergi dulu, sampe keadaan kondusif"


"Masalah nya apa?"


Bee menatap wajah Kiki. Tidak ada getar dalam suaranya saat bercerita, tapi Bee tahu Kiki hanya pura-pura tegar atas masalah yang tengah dia hadapi.


Bingung harus berkata apa, Bee memilih pindah ke samping Kiki, lalu memeluk tubuh gadis itu. Begitu tegar nya sahabat nya itu.


"Ngapain lo meluk gue?" cibirnya masih pura-pura tegar. Bee tak menjawab malah mengencangkan pelukannya pada Kiki.


"Udah, gue malu kalau harus nangis menjerit di sini" ucap nya menghentikan makan nya. Ada air mata yang siap turun ke pipinya yang sedari tadi dia tahan. Tapi pelukan Bee seperti ini membuatnya lemah.


"Gue akan selalu ada buat Lo Ki.. yang sabar ya sayang.."


"Tenang aja Bee, gue kuat lagi. Udah lelah gue nangis. Capek tahu ga. Sekarang mending gue cari kebahagiaan gue sendiri" ucap nya percaya diri. Bee menatap sahabatnya, sedih tadi sudah tak ada.


"Ada yang gue lewat kan?" selidik Bee.


"Bukan Lo lewat kan, tapi Lo lupain. Kemarin gue kan udah cerita Oneng, tapi Lo malah milih go sama Abang gue" ujar nya mendelik.


"Masih cowok itu? ya elah Ki, baru juga ketemu sekali. Mau nyari dimana coba? jangan kan alamat nama nya aja lu ga tahu"


Kiki menarik nafas dalam-dalam, seolah menerawang jauh ke depan. "Gue yakin takdir akan mempertemukan kita lagi"


Sisa hari itu, mereka habiskan dengan bersenang-senang. Makan, nonton dan belanja. Tak ada pengganggu karena ponselnya sudah di matikan. Bahagia dan lepas, itu lah yang Bee rasakan sebelum nanti kembali ke sangkar emasnya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, saat taxi online yang dia tumpangi sampai di depan pagar.


Ada rasa takut kini menjalari dirinya. Pilihan pertama nya tadi adalah untuk tidak pulang tapi berhubung besok sekolah, pakaian dan tas nya ada di rumah Tante Di, maka dia memutuskan untuk kembali ke rumah tante Di.


Tapi, baru setengah jalan, Bee membatalkan niatnya, karena pasti barang-barangnya sudah di bawa Bintang ke rumah mereka. Jadi di sini lah dia, di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi menutupi bangunan megah di dalam nya.


Langkah ragu nya di seret menuju halaman. Dia masih ingat, hari dimana dia kabur pertama kali, Bintang sangat marah, semua pelayan di suruh pergi.


Kali ini dia bakal ngapain gue ya?


Tidak ada rumah yang gelap, pelayan pun ada. Pak Jarwo menyambutnya dengan ramah.


"Malam Nya.."


"Ma-lam pak..Bintang mana pak?" bisik nya sembari celingak-celinguk menatap sekeliling.


"Tuan belum pulang Nya"


"Hah?dari pagi sampai sekarang?" tanya Bee memperjelas. Kepala pelayang itu hanya mengangguk.


Bagus..gue aman dong..


Dengan suka cita di hati Bee naik ke kamarnya. Mandi lalu akan langsung pergi tidur setelah melakukan perawatan kecil pada wajahnya.


Namun belum sempat terlelap, pintu kamar Bee sudah di ketuk dari luar. Bee mengira itu salah satu pelayannya yang memanggil untuk makan malam.


Tubuhnya memang terasa lelah, bukan hanya karena pertandingan tadi malam, tapi seharian ini dia jalan dengan Kiki mengelilingi mall. Kaki nya pegal.


Matanya saja belum terbuka dengan penuh, berjalan dengan malas membuka pintu. Tapi sosok di depan nya justru berhasil menarik kesadaran nya hingga matanya terbuka penuh.


"Bintang.."