Sold

Sold
Bintang tak lagi Bersinar



"Gue udah nikah kemarin" suara cekikikan Bumi dan Ryan tersedot oleh angin setelah mendengar kalimat Bintang.


Kedua sahabat itu saling tatap, lalu bersamaan melirik Bintang yang masih memainkan bibir gelas dengan jarinya.


"Lu ngomong apa?becanda ga usah kepedean, pake ngaku udah nikah, sama siapa? Lilis anak juragan kambing?" ejek Bumi mengingat ancaman ibu nya Bintang.


Tapi raut wajah dingin Bintang, membuat Bumi dan Ryan terkunci tak berani menggoda Bintang lagi. Mereka berteman sudah belasan tahun, sudah mengenal watak satu sama lain. Dan gelagat yang di tunjukkan Bintang kali ini menunjukkan apa yang dia ucapkan bukan pepesan kosong.


"Cewek mana? bangsat lu ya, ga ngundang kita. Lu anggap apa kita nyet?tayi lu!" umpat Ryan kesal. Padahal setiap satu punya masalah yang lain pasti ikut bantu. Dan Ryan tahu, pernikahan itu bukan pernikahan normal, wajah Bintang sudah menjelaskan semuanya.


"Bumi kenal sama tu cewek" ucap Bintang lemah, menarik nafas berat lalu menghempaskan nya perlahan.


Ryan yang penasaran memandang Bumi, mencoba meminta penjelasan, karena nyatanya hanya dia yang minim informasi.


"Bella?" terka Bumi setelah lama diam, menjelajah memori nya. Dan orang terakhir yang dia tahu dekat dengan Bintang adalah model yang tengah bekerja sama dengan mereka, Bellaetrix Elaina.


Tak menjawab, Bintang justru meletakkan kepalanya di meja bar, menunduk kebawah, menatap ujung sepatu nya dengan pikiran justru berkelana ke rumah, dia rindu Bee.


Tapi apa gunanya rindu, jika dia tak bisa memiliki hati gadis itu. Sakit ternyata cinta tak berbalas. Selama ini beberapa gadis bahkan sampai berlutut di kakinya, memohon untuk bisa kembali ke sisinya, karena begitu mencintainya, tapi Bintang ga mau karena memang tak merasakan apa pun di hatinya.


Dan sekarang? keadaan berbalik. Dia ada di posisi gadis-gadis yang dulu memohon padanya. Kenapa dia bisa begitu lemah pada Bee. Bintang, manusia paling tidak perdulian di muka bumi ini selain pada keluarganya, justru kini tak bisa menepis bayangan Bee. Sakit sekali..


"Gila, lu baru sekali tang ketemu dia, ngapain langsung lu nikahin?" susul Bumi yang kini yakin tebakannya benar.


"Gadis itu hamil ya? terus kenapa semua pada risau sih? lu ga nikahin istri orang kan? terus masalah nya apa?harus nya lu happy, nyet! Be a father ga semenakutkan itu, njing!


Kembali terdengar desahan nafas berat dari Bintang. Menimbang apa perlu menjelaskan semua pada sahabatnya. Tapi kalau dia diam, dan endingnya mereka tahu, mereka akan sangat marah pada Bintang dan dianggap ga setia kawan. Toh saat ketiga temannya yang kini sudah bahagia dengan rumah tangga mereka masingmasing, selalu terbuka setiap ada masalah, agar bisa mencari solusi bersama.


Tapi apa iya, ada solusi untuk masalah Bintang kali ini?


"Itu bukan pertemuan pertama kami, mi" ucap Bintang setelah memutuskan untuk berbicara. Toh, selama ini mereka saling support, dan Bintang yakin, mereka tidak akan memandang sebelah mata pada Bee.


"Ceritain semua, biar hati ku sedikit lega. Kita bakal diam, biar lu cerita ga ke ganggu" ucap Bumi, yang diangguk Ryan.


Baru Bintang akan memulai cerita, masih membuka mulutnya, sapaan Agus di balik pintu ruangan mereka menjeda kalimat Bintang dengan mulut masih menganga.


"Sorry gue lama, ada big boss langganan gue buat ulah, tapi udah kelar.. gimana-gimana, ada kabar asik apa nih?"


"Mau gue lanjutin ga nih?rese lu pada!" Bintang jengah. Menenggak kembali minuman, hingga terasa kepalanya sudah mulai berputar, minuman sudah mengambil alih kesadarannya.


Karena ketiganya sudah dia, yang artinya menunggu Bintang bicara, pria itu melanjutkan.


"Itu Bukan pertemuan kami pertama, mi.Gue udah kenal dia jauh sebelum itu. Pada pagelaran Seba tahun lalu. Dan saat itu entah itu apa namanya, yang pasti gue menginginkan gadis itu lebih dari yang pernah gue rasakan"


"Ya udah, ambil aja. Siapa sih yang ga mau sama seorang Bintang Danendra?" potong Agus, yang langsung di toyor Ryan.


"Bisa diam ga lu tayi, biar dia selesaikan ceritanya dulu!" maki Ryan.


"Harusnya sih ga da Gus, tapi nyatanya ada satu cewek nolak gue. Namanya Bellaetrix Elaina. Gue udah kayak Psycho tahu ga, nyari semua datanya, dan akhirnya gue beli dia dari bokap nya yang saat itu terlilit hutang"


"Anj*ng!" spontan Bumi memaki. Ga menyangka Bintang bisa segila itu. Ini sih pasti udah main hati kalau sampai sejauh ini permainannya. Selama ini yang mereka tahu, Bintang adalah tipikal cowok cuek, karena justru wanita yang mengejar dia.


"Iya, gue anjing, makanya dia nolak gue. Gue masih ingat reaksi hancurnya dia saat malam itu, dia tahu tentang perjanjian perjodohan itu. Tapi karena gue ga mau dia terluka, gue lepasin Mi, gue lepasin dia. Padahal udah di tangan nih" celoteh Bintang sambil tertawa, tapi ada genangan di matanya.


"Tang.." ucap Bumi ingin menyudahi cerita itu. Dia tahu semakin banyak yang Bintang katakan semakin hancur hatinya.


"Gue belum kelar Mi. Biar gue ceritakan betapa gue udah jadi gila karena menggilai gadis itu." seru nya meminum kembali cairan memabukkan itu, bahkan kini langsung dari botolnya. Bumi segera menarik botol dari mulut Bintang.


"Gue ok..gue ga mabuk..santai..aman.." celoteh nya sambil tertawa.


"Gue udah menjauh..beneran gue udah menjauh dan mencoba melupakan gadis itu, tapi ga bisa Yan..pas ketemu di acara pemotretan barang Sky kemarin, gue melempem lagi, hahahaha.." Bintang masih ngoceh-ngoceh, melap air matanya yang turun di sudut mata.


Ketiga sahabatnya masih menatap tingkah Bintang yang sudah mabuk.


"Karena kangen sama dia, gue datangi dia sampai ke Pekanbaru, gue tahu dia udah punya cowok. Eh..kalian tahu cowok nya brengsek, tayi emang si Elang bangsat itu, dia memperalat Bee untuk minjam duit ke gue"


Tiba-tiba suasana hening. Bintang diam. Walau mabuk, dia masih mengingat setiap perjanjian mereka. Dan semua yang di ucapkan Bee sebagai persyaratan membuat nya sakit. Air matanya tak bisa di bendung lagi. Bintang menyembunyikan wajahnya di meja bar, dengan tangan sebagai bingkai.


Ketiga sahabatnya membiarkan pria itu menumpahkan air matanya. Bintang menangis dalam diamnya. Hanya air mata yang terus menggenangi pipinya. Dia bukan pria kuat seperti yang orang bayangkan, di balik kekuasaannya, dia lemah di hadapan seorang gadis.


"Banci banget gue ya.." ucap nya getir. Andai gue bisa menolak ide gila itu dulu, Mi. Nyatanya hati gue ga sekuat itu, gue terima permintaan Bee. Gue kasih duit 500 juta, dan Bee bersedia ngasih gue pewaris, dengan pernikahan hanya setahun!"