
"Piter, kamu ngapain di sini?"
Pria yang di tanya itu justru tersenyum. Sudah lima menit lalu dia ada di ruangan itu, tepatnya di dekat pintu masuk. Memperhatikan kedua wanita itu bercengkrama, sementara sang kakak dengan tampang bego nya menatap sang istri dengan wajah terpesona.
Saat itu lah Piter tahu, kali ini Casanova benar-benar jatuh cinta. Bahkan cinta nya kali ini, bukan main-main, cinta yang bisa membuat nya jadi selembut dan se suci malaikat.
Ini mah Casanova tobat namanya..
"Kamu mengenal Piter?" tanya ibu, menerima kecupan di pipinya dari Piter yang mendekat lalu duduk di samping Bintang.
"Iya Bu.." sekilas Bee melirik suaminya, dan benar tebakannya, ada kerutan di dahi Bintang yang menandakan kebingungan nya.
"Kamu tahu dia adik nya Bintang?" susul Ibu lagi.
"Adik?" Bee menggeleng kepala perlahan. Sebegitu bodohnya dirinya. Apa pun dia tak tahu apa-apa tentang suaminya. Istri macam apa dia ini!
"Tumben nongol, dari mana Lo?" sapa Bintang gak suka melihat Piter yang masih saja melihat ke arah Bee. Bintang tidak suka ada yang melihat istrinya sebegitu intens nya walau pun itu adik kandungnya sekalipun.
"Bagaimana mungkin aku menolak perintah Ibu Suri. Ibu minta gue ke mari, mau lihat Lo tunangan katanya" ledek Piter.
"Dengar, Abang mu begitu membuat ibu bahagia. Dia tidak hanya membawa kekasihnya ke hadapan ibu, malah langsung membawa menantu untuk ibu. Cantik kan?" ucap ibu menepuk tangan Bee lembut.
Bisa mereka lihat, Ibu nya begitu menyukai Bee. Sekilas Piter melirik saudaranya. "Kalau bang Bintang, mana di ragukan lagi sih Bu. Semua cewek yang dekat dengan dia cantik-cantik. Tapi benar kata ibu, yang ini istimewa" ucap Piter mengedipkan mata pada Bee hingga membuat wanita itu tersipu.
"Ibu, sudah malam. Kami pulang dulu. Besok Bee harus sekolah" ucap Bintang bangkit. Tak Sudi berlama-lama membagi Bee untuk ibu dan adiknya. Mereka bertiga seolah menganggap dirinya tak ada.
"Baik lah, tapi ingat ya Bee. Kamu harus sering datang kemari"
***
"Kenapa?" tanya Bintang melirik Bee yang duduk dalam diam. Mata nya sudah terpejam, tapi terlihat gelisah.
"Perut ku begah kak. Kenyang banget" rengek nya.
"Makanya, jangan kalap kalau lihat makanan" ucap Bintang tersenyum geli melihat tingkah Bee.
"Ponsel Kakak mana? putar lagu dong" pinta Bee. Dengan tangan kanan nya, Bintang menyerahkan ponsel pada Bee. Dengan cepat Bee memasukkan tanggal yang tadi jadi awal perdebatan mereka.
Layar terbuka, lalu muncul wajahnya. Bintang bahkan membuat photo nya jadi wallpaper hapenya. Hati nya mencelos lagi. Hangat.
"Kenapa?" tanya Bintang saat Bee mengembalikan ponselnya.
"Udah ga mood" Bee memutar tubuhnya menghadap sisi pintu mobil. Memejamkan matanya, pura-pura tidur. Dia tak ingin Bintang mengajaknya ngobrol.
Dia perlu waktu dan ruang untuk menenangkan debaran jantungnya. Tapi akhirnya, sampai rumah justru dia ketiduran.
"Bee.. bangun, udah sampai" ucap Bintang yang sudah jongkok di sisi pintu mobil yang sudah dia buka. Membelai wajah gadis itu yang bahkan saat tidur pun begitu cantik.
"Malas banget kak..gue ngantuk" rengek nya masih memejamkan mata.
"Ya udah, ayo naik. Biar aku gendong"
Dengan perlahan Bintang merebahkan Bee di kasur. Menyelimuti gadis itu, dan mencium keningnya.
Apa yang di lakukan Bintang itu membawa efek besar pada dirinya. Ngantuk nya hilang, hingga subuh tak bisa tidur lagi.
***
Bee masuk ke ruang kelas dengan Kiki yang sudah ada di sana. Manyun dan mendelik kesal pada kerumunan teman sekelasnya yang asik cekikikan mengelilingi Jesi, si model yang sama satu agensi sama Bee.
"Kenapa Lo? pada ngapain sih?" tanya Bee duduk di samping sahabatnya.
"Gue kesal tahu ga. Kenapa sih gadis itu minta di pindahkan ke kelas kita? ga cukup di catwalk aja kalian duel? harus gitu sampai sekelas?" ucap Kiki nyolot.
"Yee..kok marah ke gue sih Lo. Dia aja kali yang anggap gue saingan. Gue mah biasa aja. Gue pengen jadi dokter gigi ya, bukan model!" sahut Bee cuek.
"Emang ada apaan sih? kok mereka pada ngumpul gitu? masih pagi lagi" Bee coba melihat kumpulan siswa yang bergerombol di meja Jesi.
"Noh..mereka lagi ngomongin kekasih impian gue!" sangkin kesalnya, Kiki sudah mencoret-coret lembar buku tulisnya
"Siapa?" Bee ga paham siapa yang di maksud Kiki. Memilih untuk menenggak air mineral dari botol minum nya.
"Siapa lagi, Bintang Danendra lah!" Air yang tadi sempat Bee masukkan ke mulut nya keluar lagi, muncrat dari mulut dan hidung nya.
Eheeek..eheeek..berulang kali Bee memukul dadanya, menunduk agar air yang masuk ke dalam hidung, bisa keluar. Buru-buru Kiki memberikan tisu pada Bee.
"Lo kenapa sih? dengar nama Bintang Danendra aja sampe tersedak gitu. Jangan bilang lo ga kenal dia! atau jangan bilang lo suka dia. Gue b*nuh Lo" pekik Kiki. Baru sadar kalau Jesi bisa kenal Bintang, tidak menutup kemungkinan kan kalau Bee juga kenal!
"Tapi Lo ga mungkin suka dia. Hati Lo kan udah kepincut sama Elang"
"Emang si Jesi bilang apa tentang Bintang sampe lo panas gitu?" tanya Bee penasaran setelah melap semua bekas air yang bertumpahan di mejanya.
"Dia bilang, dia jalan dua hari lalu sama Bintang, terus mereka bermesraan. Kesal ga tuh?!"
Dua hari yang lalu?
Tiba-tiba Bee ingat, Bintang pulang malam, dan setelah mengintrogasi Mira, dia bilang Bintang tiba di rumah pukul satu pagi. Amarah segera membakar hatinya. Geram. Tanpa sadar dia memukul meja.
"Maaf, ada berita apaan nih?" tanya nya menghampiri Jesi and the geng.
"Nih..Jesi di tembak sama Bintang Danendra" ucap Loli bangga. Kapan lagi jadi teman yang punya pacar incaran sejuta umat cewek di negri ini.
"Kok tatapan wajah Lo kayak ga percaya gitu? kenapa? jealous lo sama gue?hah? ngiri bilang bos!" seru Jesi jumawa.
"Jealous? ngomong sama tangan!" ucap Bee mengarahkan telapak tangannya ke wajah Jesi.
"Gue cuman mikir, Lo ga halu kan? khayalan Lo ketinggian!" ujar Bee.
Merasa malu dan tak mau kalah, Jesi menunjukkan layar ponselnya tepat di hadapan Bee. Photo Jesi bersama Bintang, dengan mesranya Jesi menggandeng tangan Bintang. "Nih..perhatikan dengan biji mata Lo! Mau bilang apa lagi Lo?" makinya kesal.
"Itu kan cuman photo, ga bisa membuktikan kalau kalian jadian kan?" Bee sudah melangkah pergi setelah kalimat itu, tapi rasa malu dan kesal Jesi membuat gadis itu menarik rambut panjang Bee, menjambak hingga Bee meringis kesakitan.