
Ketiga nya kembali pulang ke rumah, sial bagi Bee, mereka bertemu Bintang dan Riko di halaman masuk ke rumah. Mata Bintang menatap tajam. Sangat tidak suka dengan kehadiran Darren di tengah keluarga nya, terlebih karena menggendong Saga yang terus saja memeluknya erat.
"Ada apa ini? dari mana kau dengan Saga?" Bintang tidak lagi menyembunyikan rasa tidak suka nya. Dia tidak ingin pria itu lebih jauh lagi masuk ke dalam keluarga kecilnya, terlebih tidak ingin sampai dekat dengan Bee.
"Tadi Saga bangun, nangis sekencang-kencangnya, aku bujuk biar diam ga mau. Aku ingat, kalau Darren bisa memenangkan nya, jadi aku keluar mencari Darren" ucap Bee terus terang. Sejak awal dia sudah melihat wajah tidak suka suaminya, tapi masa bodoh, yang terpenting adalah anak nya bisa tenang.
"Kenapa harus dengan dia? tuan Smith, kemarikan anak saya" ucap Bintang dingin penuh emosi yang di tekan, menarik lengan Saga agar mau di gendong nya.
"Ga mau.." ucap Saga menghempas tangan papanya. Bintang shock melihat Saga yang tidak mau padanya. Biasanya anak itu selalu mencari nya, dan setiap Bintang di rumah, Saga selalu memintanya untuk menemaninya bermain.
"Saga, sama papa yok. Kita main bola, beli mobil-mobilan" pinta Saga membujuk. Tapi Saga tetap bergeming. Memeluk leher Darren erat.
"Jangan di paksa kak. Aku ga mau psikis Saga semakin tertekan dan membawa nya semakin jauh dari kita. Kalau hanya Darren satu-satunya orang yang dia percayai saat ini, maka biar lah Saga dekat dengan Darren dulu" Bintang sudah akan protes tidak setuju, tapi Bee memotong tegas.
"Darren, kamu mau kan meluangkan waktu untuk Saga di sini. Bantu jelaskan, kalau kami orang tuanya. Dan dia aman bersama kami" pinta Bee memohon. Melihat wajah memelas wanita itu, Darren tidak tega, akhirnya mengangguk. Padahal hari ini dia datang ke sini karena ada pertemuan dengan klien pentingnya.
Hotel yang berjejer di sekitar tepi pantai ini adalah miliknya. Dia memang sering berkunjung ke Kaledonia baru karena memiliki banyak bisnis di tanah kelahiran mamanya. Darren Smith adalah pengusaha real estate dan juga perhotelan di sini.
Namun, bisnis nya yang sebenarnya ada di Prancis, tanah kelahirannya. Dia membangun kerajaan bisnis di Kaledonia untuk mengenang leluhur ibunya dan juga menjadikan tempat ini sebagai tempat menyampaikan rasa rindu nya pada sang mama. Makam mama nya ada di salah satu tanah miliknya nya di sini. Saat ibu nya meninggal, wanita itu meminta pada suaminya untuk di makam kan di tanah tempat dia di lahirkan.
Bintang tidak banyak bersuara. Semua sudah di putuskan Bee, dia tidak bisa apa pun lagi. Masih dengan kekesalan di hati, Bintang masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan mereka.
Terserah, Bee mau berbuat apa. Dia tidak ingin memikirkan nya saat ini. Dia lelah. Rasa kesal akan pertengkaran mereka tadi malam menjalar di hatinya dan pikirannya, hingga membuat dirinya tidak bisa tidur. Pukul tiga pagi, dia membangunkan Riko, meminta pria itu menemaninya minum dan pukul enam kurang, keduanya memilih untuk lari pagi. Imbasnya, saat ini kepalanya nyut-nyut an dan merasa tidak enak badan.
Hanya melepas kaosnya, Bintang merangkak ke tempat tidur, mencoba untuk mengistirahatkan mata nya. Dan saat itu dia bermimpi aneh. Dia memanggil Bee untuk mendekat, ada tempat yang ingin dia tunjukkan pada wanita itu, tapi Bee menolak, tidak menerima uluran tangannya.
***
Satu piring nasi sudah habis mendarat mulus di dalam perut Saga. "Anak pintar. Kalau om Darren ga ada, Saga ga usah takut. Ada mama yang akan jaga Saga, ya" Saga mendengar perkataan Darren, tapi matanya memandang wajah Bee, seolah menyelidik apa yang dikatakan Darren itu benar, dia aman bersama wanita yang ada di sampingnya ini.
"Saga harus percaya. Mama sayang sama Saga. Mama akan menjaga Saga selalu, jadi Saga ga akan takut lagi sama air. Karena mama bisa berenang buat jagain Saga" lanjut Darren yang diangguk Bee. Tidak sadar air matanya menetes di pipi. Rasa nya sakit jika anak sendiri tidak merasa nyaman dengan orang tua nya.
Perlahan, Darren memindahkan Saga ke pangkuan Bee, lalu tanpa sadar menghapus air mata Bee dengan jarinya. "Maaf, aku lancang. Tapi aku tidak bisa melihat wanita menangis" ucap Darren lembut dan sedikit gelagapan oleh aksinya.
"I-iya ga papa" balas Bee ikut kikuk.
Saga sudah mau melepas tangannya dari Darren, dan terus memeluk Bee. Momen mengharukan itu begitu terasa, Darren saja ikut terharu. Ibu akan selalu jadi tempat ternyaman bagi seorang anak.
Lama berbincang, Darren pamit undur diri. Ajakan untuk makan malam di sana di tolak pria tampan bermata biru itu dengan sopan. "Lain kali aja Bella, terimakasih"
"Panggil aja Bee. Orang-orang terdekat ku manggil Bee pada ku" Darren mengangguk.
"Kapan kalian akan kembali ke Indonesia?" pertanyaan itu di lontarkan Darren tepat ketika mereka sudah tiba di halaman depan.
"Mungkin lusa. Sekali lagi, aku berterima kasih pada mu, Darren. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Saga kalau kamu tidak ada pada waktu itu"
"Sudah lah. Mungkin aku dan Saga berjodoh. Tidak usah di pikirkan. Aku senang bisa menolong anak sekuat ini" Darren mengelus kepala Saga yang kini sudah mulai bisa tersenyum. Sedikit demi sedikit rasa trauma dan ketakutan Saga sudah berkurang, dan itu berkat Darren. Mengingat hal itu, dalam hati Bee semakin timbul rasa hutang budi yang begitu besar.
"Tapi aku benar-benar berhutang budi padamu. Saga mungkin akan melupakan mu, tapi aku sebagai mama nya akan selalu mengingatmu sebagai penyelamat anak ku" Bee membungkuk memberi hormat sebagai ucapan terimakasih nya yang terdalam.
"Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, tapi aku berharap suatu hari kita bisa bertemu. Tidak di sini, mungkin di tempat lain" ucap Darren tersenyum. Bee pun membalas senyum itu dengan tulus. Tidak perlu ikatan darah untuk bisa jadi keluarga dan saudara kan?
Bee masih berdiri di sana memandangi punggung pria tegap itu yang semakin menjauh. Entah kapan tepatnya Darren memberikan nya pada Saga, tapi saat ini di leher Saga ada seuntai kalung mas tipis, yang Bee tahu itu pemberian dari Darren sebagai ucapan perpisahan.