
Bee sudah tiba di perumahan itu. Ojol yang mengantarnya juga sudah pergi. Bee yang berdiri di luar gerbang mengamati perumahan besar itu.
"Maaf, mau cari siapa mbak?" tanya salah satu satpam yang keluar dari pos satpam nya.
"Mau ke rumah bapak Yosep"
"Oh..rumah beliau di blok C. Mau saya antar?" tanya satpam yang tampaknya tidak mengenali Bee yang memang menggunakan masker.
Lima menit berjalan, Bee sampai pada alamat yang sejak tadi dia cari. Dengan cepat dia menekan bel, tidak ada tanda-tanda ada kehidupan di dalam. "Awas aja si kampret Yosep ini ngerjain gue" batin nya, dan mengulang menekan bel lagi.
Karena tidak ada juga yang keluar membuka pintu, Bee duduk di bangku taman yang ada di depan rumah itu. Menunggu dengan sabar. Di liriknya jam tangannya, 10.48.
"Apa gue pulang aja ya? kesal banget gue sama si Yosep menyebalkan ini!" umpat nya. Bee terus mengamati daun pintu rumah itu. Tidak ada siapa pun yang keluar dari sana. Bee bertanya-tanya apa Yosep tinggal seorang diri. Tapi melihat umurnya harus nya dia sudah menikah dan punya anak. Apa dia duda? entah lah, yang Bee tahu informasi tentang pria itu, dia dosen di kampusnya dan seorang dokter juga. Tapi dimana dia bertugas Bee tidak tahu.
Tepat pukul 11, baru lah seseorang membuka pintu. Itu Yosep yang hanya mengenakan kaos putih dan celana pendek hitam. "Kesini kamu, ngapain masih bengong di sana?" hardik nya begitu melihat wajah Bee.
Ragu-ragu Bee mendekat, mengangguk hormat guna menyapa Yosep.
Rumah itu cukup besar jika hanya di tempati seorang diri. Bee menyimpulkan begitu karena pada dekorasi ruangan tidak ada nya sentuhan wanita dan juga tidak ada frame yang menunjukkan anggota keluarga lainnya.
Setelah di persilahkan duduk, Bee langsung mengeluarkan skripsi nya yang perlu di tanda tangani Yosep.
"Nanti dulu, kamu mau minum apa?" ucap nya masih berwibawa walau tampak tidak pas dengan pakaiannya.
"Oh, air putih aja pak. Makasih"
Bee begitu merasa tidak nyaman, berada di rumah pria itu. Dia tampak terintimidasi oleh tatapan Yosep, seolah menatapnya buas ingin melahap.
"Ini, minum lah" Yosep meletakkan minuman berwarna cola di atas meja. Bee menatap minuman itu sembari mengernyitkan dahi. Bukan kah dia tadi minta air putih aja, kenapa justru memberinya minuman soda?
"Makasih pak" sahut nya tidak mendebat. Yang penting urusannya cepat selesai dan bisa pergi dari sana.
"Ini pak, skripsi saya. Sudah saya perbaiki seperti yang bapak minta" Bee menyodorkan lembaran kertas yang sejak beberapa hari ini menjadi beban di pikirannya.
"Menjadi model adalah keinginan saya pak, ambisi saya, tapi kalau menjadi dokter gigi adalah impian dan harapan yang ingin saya realisasi kan" ucap nya kaku. Sejak tadi matanya tak lepas menatap pena Yosep yang ada di tangan pria itu, takut kalau pria gila itu akan kembali mencoret-coret isi skripsinya.
"Kamu ga usah pandangi saya. Minum saja, saya masih membaca, takut ada yang kelewatan" ucap Yosep tanpa menoleh ke arah Bee. Dua jempol Bee acungkan untuk pria itu yang tahu Bee memperhatikan nya tanpa melihat.
"Baik pak" Bee mengangkat gelasnya dan mulai menyesap sedikit demi sedikit. Ada rasa panas seperti membakar tenggorokan, jadi dia memutuskan untuk segera menenggak habis isinya dan meletakkan kembali gelasnya.
Sepuluh menit dalam kediaman, membuat Bee merasa panas pada suhu tubuhnya, sakit di kepalanya juga tiba-tiba menyerang.
Yosep masih sibuk memeriksa skripsi miliknya, samar-samar Bee merasakan rasa ngantuk yang sangat luar biasa menghantamnya.
Menyadari mangsanya yang sudah jatuh ke alam mimpinya, Yosep pun memalingkan wajah melihat ke arah Bee dengan senyum puas. Di lemparnya Skripsi Bee begitu saja di salah satu sofa single di dekatnya, lalu berjalan ke arah pintu untuk menutup nya.
Perlahan Yosep mendekati Bee yang sudah tidak sadar lagi. Dua butir pil yang membuat Bee pingsan sudah membantu pria itu memuluskan niat licik nya.
"Kau cantik Bellaetrix. Apa kau tau, saat aku pertama kali melihat mu di semester lima, aku sudah menyukai mu, sangat. Sikap cuek dan pura-pura membencimu adalah cara ku untuk bersembunyi dari rasa suka ku padamu" ucap nya menyentuh rambut Bee yang tergerai di pundaknya.
"Bellaetrix, aku ingi memiliki mu, tapi itu tidak mungkin. Kau tidak mungkin suka padaku kan? apa kau tahu, aku marah sekali pada pria yang sudah memelukmu saat itu. Aku tidak perduli dia suamimu, kau hanya milik ku. Jadi aku putuskan untuk memiliki mu seutuhnya hari ini juga" senyum Yosep terkembang, mata ****** nya sudah menjelajah tubuh Bee liar.
Perlahan direbahkan nya Bee di sofa, lalu mulai membelai pipi Bee, mengikuti bentuk bibir indah Bee dengan jari telunjuknya. Saat itu Yosep begitu menikmati sentuhan itu hingga memejamkan matanya. Ini adalah satu-satunya kesempatan bagi nya untuk memiliki Bee. Setelahnya Yosep bahkan tidak perduli kalau harus mati.
Perlahan, Yosep mendekatkan wajah nya kearah Bee dan menyesap wangi pada rambut wanita itu. Hanya dengan melakukan hal itu saja dia sudah mulai ter*ngsang. Setelah bertemu Bee, gadis itu menjadi model fantasi dalam pikiran Yosep hingga memunculkan keberanian untuk memiliki Bee bagaimanapun caranya.
Dorongan untuk menyentuh Bee semakin menggebu. Perlahan di kecup nya pipi Bee bahkan menghirup karbondioksida dari hidung Bee. Dengan tangan gemetar, si mesum Yosep membuka dua kancing kemeja Bee hingga dada wanita itu tampak menyembul di balik kemejanya.
Senyum nya semakin sumringah perlahan di menangkup salah satu dada Bee yang masih berlapis kemeja. Meraba dan merasakan tekstur kenyal yang ternyata mengahasilkan sensasi luar biasa pada miliknya yang kini sudah menegang di bawah sana.
"Bellaetrix, kamu indah sekali. Hari ini aku akan menjadikan mu milik ku"
N*fsu Yosep pun sudah memburu. Tatapannya kini beralih pada tali pinggang Bee, membuka dengan cepat lalu menuju kancing celana dan resleting Bee membuka nya hingga tampak warna cel*na d*lam Bee yang berwarna putih, senada dengan b'ra nya.
Pikiran Yosep sudah kalut, ingin segera menuntaskan hasratnya hingga buru-buru berdiri, membuka kaos dan celana pendeknya. Kini di tubuhnya hanya di lapisi boxer dan akan segera diturunkannya. "Aku akan menikmati tubuh indah mu ini, cantik"