Sold

Sold
Kepergok



Bee pikir, permintaan Kinan akan berakhir karena lelah menunggu Bintang pulang dari kantor, nyata wanita itu tetap betah di kamar bayi, menjaga dan memandangi keduanya tidur. Hari ini memang Bintang sudah izin pada Bee untuk pulang terlambat karena harus menghadiri acar launching produk baru mereka. Bintang sudah minta Bee ikut, tapi tentu saja Bee menolak karena tidak mau meninggalkan anak-anak nya.


"Ante, ngapain lihat adik aku teyus?" ucap Saga yang sejak tadi bermain mobil-mobilan di karpet.


"Karena tante suka. Tante mau bawa adik Saga satu, boleh ya"


"Ga boleh. Dua-duanya adik Aga. Aga ga mau tante bawa adik Aga" Saga berdiri meninggalkan mainannya dan berjalan ke box bayi.


"Ante kelualkan aja dali pelut ante, jangan ambil adik Aga" lanjutnya, melepaskan tangan Kinan yang memegang box bayi.


Ucapan anak kecil itu berhasil membuat kesedihan di hati Kinan. Dia menahan dorongan untuk meneteskan air matanya.


"Ante pelgi aja sana, jangan ambil adik Aga" rengek Saga mulai menangis. Bee yang ada di kamar sebelah masuk melihat keadaan di dalam. Dia pikir tangisan Saga karena anak itu jatuh saat bermain.


"Saga kenapa sayang?" tanya Bee berjongkok di depan anak nya.


"Itu ma, ante Nan mau ngambil adik Aga. Jangan kasih ma" rengek nya tetap merentangkan tangan di box bayi seolah menjadi benteng melindungi kedua adiknya.


"Tante Kinan ga akan ambil adik Saga. Yuk mandi ganti pakaian, terus Bobo" Bee sudah menggendong Saga. Untung tangis nya tidak membuat adik-adik ikut menangis juga. "Bentar ya Nan" ucap Bee sebelum menghilang di balik pintu.


Terduduk lemas, Kinan hanya bisa meratapi nasibnya. Anak kecil saja tidak menyetujui tindakannya. Kadang Kinan tidak mengerti kenapa begitu berat cobaan ini datang dalam hidupnya.


Setelah membaca satu cerita dari kumpulan buku dongeng nya, Saga akhirnya bisa tertidur. Bee segera menghampiri Kinan. "Nan, kita makan dulu yok"


Kinan hanya menatap kosong makanan di piringnya. Selera makannya hilang, dia tidak ingin menyentuh apa pun sampai keinginannya di kabulkan.


"Nan, apa kamu udah hubungi Piter? nanti dia cariin kamu. Jangan sampai di khawatir akan keberadaan mu" dengan lembut Bee menyentuh tangan Kinan, menyentak wanita itu dari lamunan panjang nya.


"Oh..apa tadi?"


"Kamu udah kabari Piter kalau ada di sini?"


"Iya, udah" sahut nya pendek. Tidak lama Bintang memasuki rumah, langsung menuju meja makan karena PJ memberitahukan nya kalau istri dan iparnya ada di meja makan.


Wajah Kinan langsung berubah ceria. Orang yang sudah di tunggu-tunggu nya akhirnya datang juga. "Bintang.." sapa nya sembari berdiri. Di sambut tidak seperti biasanya, Bintang melihat ke arah Kinan lalu berpaling pada Bee. Tatapannya seolah meminta penjelasan akan sikap tidak biasa Kinan. Bee hanya mengangguk, memberi kode nanti dia akan jelaskan, jadi jangan banyak tanya.


"Duduk kak, kita makan malam dulu" Bee membantu Bintang membuka jasnya. Bintang duduk dan terus mengamati Kinan. Kenapa hatinya jadi tidak tenang begini?


Makan malam berlangsung semestinya. Kinan tidak lagi bermuram durja, justru sibuk mengambil perhatian Bintang dengan menawarkan hidangan ke hadapannya.


Hal itu tentu saja membuat Bintang risih dan tidak nyaman. Sekali lagi dia melayangkan pandangannya pada Bee, agar segera menjelaskan apa yang terjadi.


"Jangan bilang, kau ingin aku pergi dengan nya lagi?" bisik Bintang, yang pastinya di dengar Kinan, tapi wanita itu hanya menanggapi nya dengan senyum manis.


Makan malam usai, Kinan sudah akan membuka mulut, namun Bee segera memotong. "Bentar ya Nan, biar aku bantu kak Bintang mandi dulu"


"Kalau perlu bantuan, katakan saja Bee jangan sungkan"


Pasutri itu saling tatap mendengar ucapan Kinan yang mungkin tidak dia sadari. Sudut bibir Bintang tertarik ke atas, ungkapan dirinya menganggap Kinan sudah aneh. "Kebentur ga kepalanya tadi yang? kok dia jadi aneh?"


"Ih, apaan sih. Udah buruan mandi kak, aku siapkan pakaian kakak dulu ya"


Harap-harap cemas Bee menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Pakaian Bintang yang dia pegang, tanpa sadar di remasnya hingga ujungnya kusut.


"Udah segar kak? wangi amat suami aku" bisik nya mengendus tubuh kekar Bintang. Satu tetas air dari ujung rambut nya jatuh tepat di atas hidung Bee.


Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, menarik pinggang Bee hingga menempel pada tubuhnya. Tidak lama menutup mulut wanita itu dengan bibirnya, menggoda Bee agar ikut melebur dalam badai gairahnya. Bee terhanyut, seketika ikut berpartisipasi dengan permainan Bintang.


Empat bulan sudah Bintang puasa, hasrat nya sudah tidak terbendung lagi. Toh kemarin malam Bee bilang dia sudah bersih, dan perkataan Bee terus terngiang-ngiang selama di kantor dan menghadiri acara launching malam ini. Bintang memutuskan untuk pulang lebih dulu, tidak mengikuti acara itu hingga selesai.


Permainan semakin panas, Bee bahkan semakin liar, menghujani tubuh Bintang dengan ciuman, memberi tanda merah di beberapa bagian tubuhnya. Bintang bahkan sampai menggeliat, menggelinjing menahan suara tak kala Bee dengan tiba-tiba mengh*sap put*ng milik Bintang, menj*lati dengan tangan bermain di perut kotak-kotak nya.


Pino sudah mengacung di balik handuk, meronta ingin dikeluarkan. Bintang sudah menggila, tubuhnya panas dengan cepat di tangkup nya wajah Bee, menarik keatas atas bisa kembali mel*mat bibir indah itu.


Sigap Bintang menggendong tubuh Bee ke ranjang, membantu membuka gaun Bee hingg di balik br* itu menyembul benda yang selalu terbayang setiap kedua putrinya berada di sana.


"Ada ASI nya kak" bisik Bee dengan wajah yang sudah memerah.


"Biar aja, biar aku makin sehat" ucap Bintang yang di sambut senyum geli Bee. Bintang sudah berada di atas tubuh Bee, menggunakan paha nya sebagai tumpuan. Baru akan menj*lati p*ting Bee yang tampak menantang, daun pintu di buka oleh seorang.


"****!!" Bintang menarik selimut menutupi tubuh mereka.


"Apa yang kau lakukan di sini?" bentak Bintang pada Kinan tanpa menoleh ke arah Kinan.


Bee yang ada di bawah tubuh Bintang tadi sudah berguling ke samping, mengambil gaunnya dan segera memakai nya.


"Nan, kamu lagi apa di sini? kenapa ga ketuk pintu dulu?" ucap Bee ikut menahan kesalnya. Dia takut Bintang akan berkata kasar lagi pada Kinan, hingga kembali keluarga ini akan kembali tidak rukun.


"Aku..aku cuma mau tahu, apa kamu sudah mengatakan pada Bintang? apa dia setuju?" tanya Kinan tanpa rasa bersalah. Sementara Bintang mengeram di atas ranjang, menahan rasa sakit di bawah sana. Kepala atas dan kepala bawah nya sama-sama sakit.


*Hai mampir di novel baru aku. Bantu like komen dan vote nya ya kesayangan. Terimakasih,😘🙇😅



Dan juga kuy mampir nih, siapa tahu suka, ceritanya keren, terimakasih 🙏😘