Sold

Sold
Diragukan



Dunia Piter runtuh seketika. Apa yang bisa dia katakan saat ini. Lehernya seperti sedang di cekik, susah untuk bernafas.


Matanya membulat menatap Kinan yang kini tengah menunduk malu. Gadis itu sedang mengandung anak ku? tapi bagaimana bisa, itu hanya sekali dan..


"Kenapa lo diam?" hardik Bintang. Walau sama-sama pria brengsek di luar sana, yang suka hura-hura dan menikmati gemerlap dunia malam, tapi Jupiter selalu menghormati abang nya.


"Tapi bang, kenapa dia bisa hamil? kami melakukannya cuma sekali itu aja" terang nya walau terdengar tidak masuk akal.


"Lo pengacara kan? kok bisa se b*go ini ngomong? kenapa dia bisa hamil? tanya sama junior lo, di muncrat apa ga malam itu?!" umpat Bintang kesal.


Bintang memang jenis pria yang suka berpetualang dari satu wanita ke wanita lain, tapi Bintang jenis pria bertanggung jawab dan dia benci pria pengecut. Makanya dulu, Bintang pernah memukul Bumi saat pria itu kehilangan ingatan yang meragukan anak yang dikandung Sky adalah anak nya.


Piter memilih untuk duduk. Di rampas nya gelas di tangan Bintang, meminum sisa isi gelas itu. Tenggorokan nya terasa panas saat cairan itu melesat melewati tenggorokannya.


Dia perlu berpikir. Sekali lagi di layangkan nya tatap nya pada Kinan setelah merebahkan punggungnya pada sofa. Sedikitpun dia tidak meragukan bahwa ini lah gadis yang tidur dengan nya malam itu. Dia masih ingat rasanya yang..ah, memikirkan nya saja membuat jantungnya kembali berdetak cepat.


Rasanya sangat berbeda dengan wanita yang pernah berbagi kehangatan dengan nya. Dan sialnya, saat memasuki Kinan, baru lah dia tahu itu adalah kali pertama untuk gadis itu.


"Apa itu anak ku?" pertanyaan yang sontak membuat Bintang menggeplak kepalanya dari belakang. Sejurus dengan wajah Kinan yang mendongak, menatap lurus pada Piter. Tatapan terluka dan terhina. Pria itu meragukan anak yang ada dalam perut Kinan, wanita mana yang tidak akan sakit hati?


"Sakit bang. Kan gue punya hak, nanya itu benih gue apa bukan? lagian, kalau dia hamil anak gue, kenapa ga nyariin gue sejak awal? kalau di urut kejadian itu udah sebulan lebih" ucap Piter mengusap kepalanya nya bekas tangan abangnya.


"Kinan juga baru dua seminggu lalu tahu nya, Ter" kali ini Bee mewakili Kinan untuk menjawab. Sebagai sahabat dan juga sesama wanita, Bee tidak ingin Kinan sendiri yang tampak dipersalahkan atas kejadian ini.


"Kenapa lo ga nyari gue?" ulang nya lagi


Kinan muak dengan Piter. Menyesal harus bertemu dengan ayah anak nya yang ternyata punya sifat brengsek. Cukup lah sudah, dia tidak butuh pertanggungjawaban dari pria itu. Toh papa nya juga sudah menerima dirinya dan calon anak nya. Maka, pergi saja Piter ke neraka!


"Nan, jawab" ucap Bee lembut, berpindah duduk di samping Kinan setelah meletakkan Saga di pangkuan Bintang.


"Aku ga perlu menjawab apa pun pertanyaan dia Bee. Kamu kan tahu, aku udah bilang aku ga lihat kertas sialan yang di sebutkan nya tadi" mata Kinan berkaca-kaca.


Tatapan Piter masih tetap terkunci pada wajah bulat nan cantik itu. Ah..dia mulai tergoda kah?


"Kinan, kita harus segera bicarakan ini pada om Setiawan dan juga ibu" suara bariton Bintang membuat wajah Kinan terangkat. Bukan kah ada pepatah bilang, harga diri wanita setinggi Himalaya? (bisa-bisanya penulis aja buat pepatah!😩)


"Ga tang. Ga ada yang perlu di bahas lagi mengenai kehamilan ku" Kinan sudah berdiri.


"Dan kau, kau pria pengecut! Kau tenang saja, aku tidak akan meminta tanggung jawab mu. Kau benar, ini bukan anak mu. Ini anak ku, jadi kau tidak perlu repot untuk bertanggung jawab" Kinan sudah mengambil tas tangannya.


Pikirannya kalut. Dia juga tidak tahu harus kemana. Kalau pulang, papa nya akan mengajaknya bicara. Dia yakin Bintang pasti akan menceritakan masalah ini dengan papanya.


Sungguh dia tidak ingin menikah dengan Piter. Pria itu menjijikkan dan dia benci, orang lain akan jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi dia, dia benci pada pandangan pertama!


Salah satu hotel menjadi pilihannya menghabiskan malamnya. Dia butuh menenangkan pikirannya dulu. Benar saja, baru selesai check in, papa nya menghubungi.


"Kinan baik aja Pa. Malam ini biar Kinan tidur di hotel ya pa" ucap Kinan menyembunyikan getar suaranya.


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Jaga kesehatan mu dan cucu papa" mendengar itu, pertahanan Kinan jebol, air matanya jatuh di pipinya. Kelembutan papa semakin membuatnya merasa bersalah.


"Papa..aku ga mau dia bertanggung jawab atas anak ini"


"Tapi dia bapak nya Kinan"


"Tapi dia brengsek pa. Dia meragukan ini darah dagingnya" isak Kinan, kembali merasakan hancur mengingat cara bicara Piter sore tadi.


"Papa udah memukul rahang nya dua kali atas ucapannya itu. Kamu harus mengerti, dia juga shock, pulang ke Indonesia karena telepon dari abang nya yang memaksa nya untuk pulang melihat ibu nya yang sedang sakit. Dan saat pulang, justru mendapatkan kabar yang mengubah hidupnya, lelaki mana pun pasti shock, Nan" terang Setiawan memberikan penjelasan dari sudut pandang seorang pria.


"Aku ga mau bahas itu sekarang pa. Kepala ku sakit. Aku istirahat dulu ya" Kinan sudah memutuskan sambungan telepon.


Sementara jauh dari tempat Kinan sembunyi, tiga orang duduk diam dalam pengawasan seorang wanita paruh baya.


"Kita bahas masalah kalian dulu. Bee, apa benar ucapan Bintang kalau kalian akan menikah lagi?" tanya Bu Salma menatap Kinan yang tampak gugup. Sedari tadi gadis itu tidak henti memilin jarinya.


"Benar Bu" sahut nya pelan.


"Yes!" sahutan Bintang yang mengepalkan tangannya dan mengangkat ke udara sembari tersenyum gembira, membuat ketiga orang lainnya yang ada di ruangan itu melihat jengah padanya.


Tatapan ibu kembali pada Bee."Kamu yakin mau menikah dengan Bintang lagi?"


"Yakin Bu"


"Kenapa kamu mau menikah dengan nya? dia bukan lah pria yang kau cintai kan?" pancing Ibu pura-pura tidak tahu kalau kini kedua orang itu sudah di mabuk cinta satu sama lain.


"Aku cinta sama kak Bintang Bu, aku mau nikah sama dia" Bee tanpa sadar meneteskan air mata. Perkataan itu muncul dari hatinya. Baru kali ini dia seyakin itu akan perasaannya dan ingin semua orang di dunia ini tahu perasaan nya kini yang sangat mencintai Bintang.


Bu Salma tersenyum, mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata di pipi Bee, dan membawa gadis itu dalam dekapannya.