
Seminggu berlalu, tapi Kinan masih bersikukuh tidak ingin menerima pernikahan nya dengan Piter. Dua hari lalu Bee sudah membujuk nya, tapi usaha Bee tidak membuahkan hasil.
"Kamu ga mau ipar an sama aku?" ucap Bee memasang wajah cemberut atas penolakan Kinan.
"Bukan ga mau Bee. Aku malah mau banget punya saudara kayak kamu. Tapi ga mesti nikah sama si kecoa busuk itu kan kalau mau jadi sodaraan?"
Kinan dengan langkah malas meninggalkan Bee yang duduk di sofa menunju tempat tidurnya. Mual nya masih saja belum hilang, hingga baru saja mendarat di tempat tidur, harus bangkit kembali ke kamar mandi.
Ueek..ueeek..
"Nah tuh kan, mungkin adek bayinya pengen dekat sama papa nya, makanya kamu mual terus" ucap Bee memijat tengkuk Kinan pelan.
"Emang ada gitu?"
Walau pun itu hanya karangan Bee, tapi otak nya cepat berfikir argumen nya bisa membuka pikiran Kinan.
"Ada..ada kok. Biasanya gitu, dulu aku juga gitu kalau mual, pas udah dekat kak Bintang, langsung hilang" terang nya jujur akan pengalamannya.
"Dedek bayi ga usah pengen dekat sama papa mu ya, sama bunda aja" balas nya mengusap perut nya setelah selesai memuntahkan isi perutnya. Bee menyodorkan cangkir berisi teh hangat dengan madu hasil buatannya.
"Makasih Bee" ucap nya setelah meminum habis teh hangat itu lalu kembali ke tempat tidur.
"Kamu istirahat ya. Aku pamit pulang. Pokoknya kamu pikirkan, pernikahan ini jalan yang terbaik untuk kalian bertiga, kamu, Piter dan calon sepupu Saga" ucap nya mengecup pipi Kinan dan menyelimuti gadis itu sebelum beranjak pergi dari sana.
Hari berikutnya ibu yang datang di temani Bintang ke kediaman Setiawan. Lagi-lagi Kinan menolak, walau secara halus pada ibu. Dia tidak ingin menyakiti hati Bu Salma yang memang sangat baik pada nya.
"Maaf Bu, tapi aku tetap tidak ingin menikah dengan nya. Dia sudah meragukan anak ini, jadi dia tidak perlu bertanggung jawab" ucap Kinan mengakhiri perdebatan mereka sore itu.
Selepas mengucapkan penolakan nya, Kinan beranjak ke kamar nya.
"Gimana nih ndri? kalau sampai Kinan benar-benar menolak anak bodoh itu, kita bisa apa?" ucap Ibu menghela nafas.
"Aku akan bicara lagi pada Kinan. Dan kamu Bintang, tolong nasehatin adik kamu" Bintang hanya mengangguk.
"Salma, jangan terlalu di pikirkan. Jangan sampai kamu sakit ya" ucap nya lembut menatap ke arah ibu yang bersandar.
Mata Bintang memicing dengan dahi berkerut melihat ke lembutan suara tuan Setiawan yang menunjukkan perhatian nya pada ibu. Tatapan itu sama seperti seorang pria yang punya perasaan pada seorang gadis.
"Lihat apa kau. Ayo pulang, kepala ibu sakit" hardik ibu bangkit berdiri. Bintang hanya diam, mengikuti langkah sang ibu suri.
Wajah gusar dan tampak bersalah terpatri pada wajah Piter saat masuk ke kamar ibu yang kini terbaring lemah di tempat tidur. Bahkan seorang perawat sedang memasang jarum infus di tangannya.
"Ibu kenapa lagi bang?" tanya nya dengan nada rendah menghampiri Bintang.
Dengan gerakan dua jari, Bintang meminta Piter untuk lebih mendekatkan wajahnya. Patuh bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Piter mendekat, lalu..
Bruk! satu pukulan membelai rahang Piter.
"Sorry bang, gue ada urusan tadi" ucap nya. Piter tidak bohong. Waktu nya tertunda karena ulah Kirei yang tidak mau melepaskan, selalu meminta permainan mengolah keringat di ulang sekali lagi dan akhirnya dia terlambat sampai di rumah ibu. Awalnya dia kira itu hanya akal-akalan ibu, penyesalan kini bersarang di dadanya.
Piter memang sudah di kasih izin meninggalkan mansion utama, karena sudah janji mau menikahi Kinan.
"Bacot lo! ibu sakit karena mikirin lo"
"Apa lagi sih bang? kan gue juga udah mau di nikah kan sama itu cewek. Salah gue apa lagi coba?"
"Kinan sekarang yang ga mau nikah sama lo, b*ngke!" salak Bintang menatap kesal pada Piter.
"Bagus dong kalau gitu" ucap Piter sembari mengusap rahangnya yang masih sakit dan menghempaskan tubuhnya di samping Bintang.
"Ngapain lo duduk, pergi lo temui Kinan. Gue ga mau tahu caranya, Lo harus berhasil bujuk dia. Ibu pingsan karena mikirin penolakan Kinan"
Tubuh Piter membeku. Dia harus membujuk wanita itu? kenapa begitu repot sih. Bukan kah pernikahan ini demi anak yang ada di perutnya? untuk membersihkan namanya juga, kenapa masih nolak sih? dasar wanita banyak tingkah!
Kekesalan Piter semakin meningkat pada Kinan. Seandainya bisa dia ingin menjentikkan jarinya dan membuat wanita itu menghilang. Terlebih ibu jatuh sakit karena penolakannya.
Dia pikir siapa sih dia? sok nolak gue! Gue juga ga sudi nikahin dia, kalau bukan demi ibu. Lihat aja nanti, setelah menikah gue bakal bikin hidup lo kayak di neraka, Kinanti!
Langkah nya tergesa-gesa memasuki pagar tinggi menjulang milik kediaman Setiawan. Dia harus bergegas agar bisa kembali ke bar, dan berakhir bersama Kirei di apartemen nya.
"Selamat malam om, Kinan ada?" sapa Piter pada tuan Setiawan yang menemui tamu tidak diundangnya setelah di beritahukan oleh pelayan.
"Mau apa kamu ketemu sama Kinan?" jawab Setiawan dengan nada dingin. Wajah Piter yang mirip dengan ayah nya membuat Setiawan semakin tidak menyukainya karena terus mengingatkan pada rivalnya dulu.
"Mau..mau ngajak dia jalan sebentar om. Sekalian ada yang harus kami bicarakan" ucap Piter berharap. Tidak mungkin dia mengatakan semua niat hatinya di rumah gadis itu. Dia tidak ingin papa nya dengar lalu sampai ke telinga ibu.
"Kinan ada. Tapi saya tidak tahu apa dia mau bicara dengan mu" ucap nya menunjukkan sikap dinginnya.
"Saya mohon om. Ini juga demi ibu. Ibu saya drop kondisi nya karena penolakan Kinan"
Mendengar Salma jatuh sakit, Setiawan langsung berdiri, dan tak lama membawa Kinan turun bersama nya entah bagaimana caranya.
"Kamu mau apa kemari? ga ada yang perlu kita bicarakan!" bentak Kinan masih berdiri.
"Setidaknya, ayo bicara di taman rumah mu, atau ada tempat makan di sekitar sini?"
Kinan tidak menjawab. Benar saja, dia teringat apa yang di katakan Bee beberapa hari lalu. Saat bertemu Piter, mual nya hilang. Bahkan ada dorongan ingin mengendus kemeja pria itu.
Bunyi perutnya menyadarkan keduanya. "Kita cari makan yok" tawar Piter cepat. Kinan memang ingin sekali makan bakso yang ada di perempatan jalan rumahnya.
"Aku mau makan bakso" hanya itu yang dikatakan Kinan sebelum keluar ke teras rumah. Piter hanya mengepalkan tangannya agar bisa menekan emosi di dada.