Sold

Sold
Serangan balik



Bintang hanya memberikan Riko sepuluh hari untuk menyelesaikan misinya. Selama itu pula, Ranika terus saja mengusik hidup mereka. Pernah suatu kali, wanita itu datang ke kantor Bintang, mengancam akan membawa wartawan, yang dapat di pastikan nya bisa merusak nama baik Bintang.


"Bisa aja ancaman nya itu serius kak. Jangan terlalu menganggap remeh Ranika" ucap Bee yang saat ini berada dalam pelukan Bintang. Dada tel*njang pria itu masih berkeringat, sisa dari pertarungan mereka barusan.


"Jangan khawatir sayang. Aku akan urus. Besok Riko akan tiba di Indonesia, kita berharap ada titik terang dari masalah ini" ucap nya, lalu mencium puncak kepala Bee.


"Kenapa masih manyun? udah dong, masalah Ranika ga usah dipikirin" Bintang mengangkat dagu Bee agar bisa mengecup bibir penuh kenikmatan itu.


"Minggu depan aku sidang, tapi ada satu dosen yang aku takutkan akan ikut jadi dosen penguji ku"


"Kenapa takut?"


"Soalnya dia terkenal suka buat gagal mahasiswa saat sidang. Aku takut gagal kak" Bee semakin menyeruak masuk dalam dekapan dada Bintang.


"Coba aja dia buat istri aku gagal, aku pecat dia jadi dosen"


"Ih..apaan sih kak. Emang itu kampus punya Kakak? sok main pecat" Bee duduk, mengapit selimut di ketiaknya, menutupi tubuh polosnya.


"Gampang, tinggal aku beli kampus kalian"


Bee tidak menjawab lagi. Rasa kesalnya hanya di ungkapkan dengan tatapan tajam pada Bintang, lalu menarik gaun tidurnya.


"Kok di pakai? kan masih satu kali lagi yang"


"Ga ada. Aku ngantuk" Bee sudah selesai memakai baju tidur nya dan tidur membelakangi Bintang.


"Yang.."


"Yang.." masih tidak ada sahutan. Bintang hanya mendengus, lalu dengan cueknya memeluk Bee dari belakang.


"Ga papa deh, ga dapat bawah, atasnya juga boleh lah" ucap nya mencium pipi Bee.


***


Bintang sudah tidak sabar menanti kedatangan Riko. Sudah pukul sepuluh, harus nya pria itu sudah tiba di kantor. Baru akan menghubungi asistennya itu untuk ketiga kali, pintu di ketuk dan wajah yang sangat dia ingi lihat saat ini muncul.


"Gimana?" serang Bintang tanpa salam pembuka.


"Sabar bos, ini saya duduk dulu. Apa di kasih minum gitu" ucap Riko ngos-ngosan.


"Memang nya lo maraton kemari?"


"Iya lah, bos suruh cepat. Ga sabar amat"


"Bacot lo. Gimana?" desak Bintang tidak perduli. Riko akhirnya menyerahkan apa yang bos nya harapkan. "Ini bos.." Riko mengulurkan satu map coklat yang dengan semangat empat lima diambil Bintang. Tapi baru ujung jari nya menyentuh map itu, Riko menariknya kembali.


"Tapi jangan lupa bos, janji nya. Apartemen nya buat saya" ucap Riko menahan map bersama nya.


"Kemarikan sebelum lo gue pecat" Mendengar kata pecat Riko cepat menyerahkan map itu pada Bintang.


Sembari Bintang mengamati semua isi berkas itu, Riko duduk selonjoran. Kaki nya mau patah rasanya berlari hingga tiba di ruangan ini.


Senyum Bintang terbit, lama kelamaan menjadi tawa yang keras. "Bos gue jadi gila" tanpa sadar Riko mengeluarkan kalimat yang membuat kaki nya di tendang Bintang.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Minggu pagi Ranika sudah berada di rumah ibu, kegiatan yang dua Minggu ini terus dia lakukan guna membujuk ibu.


"Pokoknya kalian kemari sekarang juga. Ibu sudah tidak tahan. Kamu harus menikahi Ranika, dia sudah coba bunuh diri ini" ucap Ibu panik. Bee yang mendengar percakapan lewat telepon itu juga ikut panik. Bergegas mereka berangkat ke rumah ibu.


"Ibu, ibu tidak apa-apa?" tanya Bee panik setelah tiba di rumah ibu.


"Ibu tidak apa-apa Bee. Hanya saja Ranika semakin gila, dia coba menyayat nadinya, udah gitu dia pake acara ngundang wartawan lagi"


Benar saja, di luar gerbang tadi banyak awak media yang ingin meliput. Saat mobil mereka masuk, beberapa wartawan sempat mengambil gambar. Untung nya dua satpam yang ada di baris depan bisa menghalau para wartawan agar tidak sampai masuk.


"Dasar wanita gila, mau kamu apa?" hardik Bintang pada Ranika yang duduk di pojok ruangan.


"Iya, aku gila. Aku gila karena kamu, tang. Ayo nikahi aku, please" ucap nya menyatukan telapak tangan nya.


"Jangan mimpi. Sampai kapan pun, aku tidak akan mau menikahi mu!"


"Kalau begitu, aku akan memberitahukan pada semua media, kalau kau sudah mencelakai aku"


Keduanya saling adu argumen. Bee dan ibu hanya duduk menyaksikan perdebatan itu.


"Silahkan. Sekalian kau berikan ini pada para wartawan yang kau undang" Bintang melempar berkas yang sudah di kopi di kemas pada amplop coklat. Mata Ranika membulat menatap benda itu, tidak mengerti maksud Bintang.


Tak hanya Ranika, ibu bahkan Bee pun tidak mengerti. Bintang sama sekali tidak tahu isi berkas itu.


"Apa ini?" Ranika coba meraihnya. Perlahan membuka dan membaca garis besar dari isi berkas tersebut. Mata nya membulat bahkan biji mata nya seolah mau keluar. Lalu mendongak menatap Bintang yang tersenyum sinis padanya.


"Dari mana..kamu.." kalimat Ranika menggantung di udara. Terus menatap Bintang seolah tidak percaya pria menyelidiki nya.


"Harusnya sejak dulu aku melakukan nya. Kalau saja bukan karena perkataan istri ku yang pintar dan cantik itu mengingatkan ku, tidak mungkin aku bisa kepikiran untuk mencari rekam medis mu"


Paham lah Bee kali ini. Amplop coklat itu berisi riwayat kesehatan Ranika yang diminta suaminya untuk di cari Riko hingga keluar negeri.


"Silahkan, panggil wartawan yang kau katakan itu. Sekalian aku akan menuntut mu kembali, atas pencemaran nama baik" Bintang melangkah ke satu sofa dan duduk menopang kakinya. Di liriknya Bee yang saling meremas jari dengan ibu, lalu mengedipkan sebelah mata pada istrinya sembari tersenyum simpul.


"Aku..aku ga mau di penjara Tang. Aku mohon, kita ini teman sejak kecil. Kamu ga mungkin tega kan sama aku?"


"Wah..kemana tampang garang mu tadi? sekarang kau memohon-mohon" ucap ibu yang paham setelah di jelaskan Bee walau dengan bisik-bisik.


"Bu, maaf kan aku" Ranika mendekat dan berlutut di dekat kaki ibu.


"Pergilah Ranika. Jangan pernah lagi ganggu keluarga ku. Aku akan menjamin anak mantu ku tidak akan menuntut mu" ucapan ibu tegas. Akhirnya Ranika pulang dengan membawa rasa malu nya.


"Hebat anak ibu" ucap Bu Salma tepuk tangan untuk Bintang.


"Ini semua berkat mantu ibu yang pintar, udah buka pikiran aku"


"Ibu hanya berharap semoga Ranika mendapat kebahagiaan nya. Ibu kasihan padanya" ucap ibu menatap pintu luar, seolah gadis itu masih ada di sana.