Sold

Sold
Kecurigaan



Bintang masih menunggu kejujuran Bee padanya. Bagaimana pun menyimpan praduga itu tidak baik. Tapi berlalu nya hari, Bee masih belum mau berkata jujur, demi menghindari pertengkaran, Bintang menutup mata akan masalah itu.


Di sisi lain, Bee merasakan sikap dingin Bintang padanya. Berkali-kali Bee menekankan pada dirinya sendiri bahwa itu hanya sekedar perasannya, tapi hatinya tidak dapat berbohong.


Seperti malam itu, saat mereka bersiap tidur, kalau biasanya Bintang akan langsung telentang, agar Bee bisa berbaring di tubuhnya dan mereka tidur sambil berpelukan hingga pagi, tapi malam itu, Bintang justru memunggungi nya. Kembali hatinya di usik rasa sedih.


Tapi dia bukan lagi gadis egois yang jika di cuekin akan balas tidak perduli. Hati nya berubah seiring ada Bintang yang bertahta di sana. Maka Bee berinisiatif, menempelkan tubuhnya pada punggung Bintang, dan tangan nya melingkar pada perut pria itu.


Sentuhan itu tida serta merta bisa diabaikan Bintang. Hati nya terlalu mencintai Bee hingga perlahan, membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu dan merengkuh nya masuk dalam pelukannya.


Bintang mencium pencak kepala Bee, sebagai tanda sayang nya pad gadis itu. Dia ingat bagaimana perjuangannya mendapatkan hati wanitanya, hingga tidak ingin membuat air mata Bee harus jatuh karena sikapnya.


Hati nya cuma berharap, kalau Bee tidak melakukan sesuatu yang menyakitkan hatinya, merusak kepercayaan dan juga mengkhianati cinta mereka.


"Kak, kenapa belakang ini mendiami ku?" rungut Bee memasang dasi Bintang.


"Apa iya? aku kok ga merasa seperti itu? mungkin cuma perasaan mu saja Bee"


"Tapi kakak ga lagi marah kan sama ku?" ucap nya melingkarkan tangan di leher Bintang, menarik pandangan pria itu hanya padanya.


"Kenapa harus marah? memang nya kamu buat kesalahan? cinta ku terlalu besar hingga tidak bersisa marah untuk mu" ucap nya menggigit ujung hidung Bee.


***


Kedatangan Bintang dari lepas meeting siang itu di sambut oleh kehadiran Stella di kantornya.


"Pagi Bintang" ucap nya penuh percaya diri. Bintang yang tidak menduga kehadirannya hanya mengerutkan dahi.


"Kok gitu sih reaksinya? kamu ga suka aku datang ke sini?"


"Ga. Jujur aja Stel, aku keberatan kau kemari" ucap Bintang tegas, duduk di kursinya. Stella malu mendengar perkataan Bintang yang terang-terangan tidak menginginkan kehadirannya, melirik Riko yang juga tengah melihat pada nya.


"Kenapa?" ucapnya merengek manja, dia berharap gaya seperti itu masih bisa menggoda Bintang.


"Maaf Stel, kau tahu sendiri aku sudah menikah. Aku ga mau kedatangan mu membuat orang berpikir yang aneh-aneh" terang Bintang.


Sebelum Stella menjawab, dia melirik Riko, kesal karena pria itu tidak kunjung pergi. "Tapi aku kan model mu. Bisa aja kedatangan ku ke sini untuk urusan pekerjaan"


"Jangan bersikap seolah rumah tangga mu baik-baik saja tang. Aku tahu kau tidak mencintai Bella sebanyak itu. Aku pikir kamu akan suka aku datang ke sini" ucap nya setelah Riko keluar meninggalkan mereka.


Hahahaha.."Dari mana kau punya pemikiran seperti itu. Tentu saja aku sangat mencintai Bee, makanya aku menikahinya" pemikiran Stella membuat Bintang geli, hingga membuat Stella semakin kesal.


"Aku melihat sendiri istrimu bersama pria lain. Makan di cafe yang aku datangi" ucap Stella mengeluarkan ponsel dan mengirim beberapa photo lewat WhatsApp.


Bunyi notifikasi di ponselnya membuat Bintang segera melihat photo itu. Rahang Bintang mengeras, pria dalam photo yang bersama Bee itu adalah Elang. Pegangannya pada ponsel mengerat seraya sorot mata nya yang menajam.


Pada photo itu tertera tanggal photo adalah dua hari yang lalu. Bintang berpikir sejenak, itu sama dengan hari dimana Bee pulang malam kedua kalinya.


Tubuhnya merosot di sandaran kursi. Lemas dan jantung nya masih balapan dengan emosinya. Amarah nya menuntut nya untuk pulang memberi pelajaran pada istrinya yang sudah pandai berbohong itu, tapi Bintang tidak ingin masalah ini lebih besar mencuat kepermukaan hingga menimbulkan gosip tentang retak nya hubungan rumah tangga mereka, jadi Bintang memilih menekan amarahnya di depan Stella.


"Ini hanya photo, lalu kenapa kau beranggapan kami tidak baik-baik saja? aku mencintai istriku dan dia pun begitu. Sudah lah Stella, jangan menyebarkan gosip apa pun tentang istriku. Dengar, aku ga mau ada pemberitaan buruk mengenai Bee!" ucap nya tegas.


"Kau tidak marah pada nya? dia mengkhianati mu, tang" Stella masih terus berusaha. Tidak mungkin usahanya kali ini gagal. Dia harus mendapatkan Bintang kembali.


Dua hari lalu, saat dirinya break syuting, demi membunuh kebosanan menunggu, Stella pergi bersama asisten nya untuk minum kopi di satu cafe dekat daerah itu. Saat mengenali wanita yang bersama anggota group band Derago itu adalah Bee, istri Bintang, momen itu tidak di sia-sia, dan langsung mengambil beberapa photo. Harusnya kemarin dia menemui Bintang, tapi karena syuting menyita waktu nya, baru lah dia bisa hari ini mencari Bintang.


"Tidak. Aku ga marah. Aku kenal pria itu. Dia teman istriku, satu sekolah dulu di Pekanbaru. Sudah lah, tidak ada gunanya menjelaskan apa pun pada mi Stel, pulang lah" ucap Bintang dingin.


Kesabaran hampir habis, jika Stella tidak juga pergi, bisa jadi gadis itu yang akan menjadi tempat pelampiasan amarah nya.


Setengah jam setelah Stella pulang, Bintang memutuskan untuk pulang. Tapi ini masih terlalu sore untuk jam pulang nya, hingga derap kuda besi nya dia bawa ke sebuah bar, yang tidak seorang pun mengenalnya.


Menyewa satu ruangan, dengan berbagai jenis minuman yang tersaji, Bintang mengurung diri. Memikirkan apa yang akan dia katakan pada Bee selanjutnya.


Tindakan apa yang tepat. Apakah dia harus diam, pura-pura tidak tahu akan kebohongan Bee, atau justru bertanya yang dapat dia pastikan akan ada luka yang muncul. Dia benci harus bertengkar dengan Bee.


"Kenapa kamu bohong pada ku Bee? apa artinya aku di hidupmu? apakah sebesar itu perasaan mu pada pria itu, sampai kau masih bersama nya di belakang ku?" racunya sembari menenggak minumannya.


Pikirannya kacau. Cinta nya pada Bee membuat nya lemah. Kembali dia menyalakan rokok, menghisap lebih dalam merasakan nikotin pada tenggorokan nya.


Waktu berlalu, Bee menatap gamang makanan yang ada di depannya. Empat jam lalu dengan ceria nya dia menyiapkan makan malam untuk suaminya, tapi hingga kini Bintang tak kunjung pulang. Ponselnya bahkan tidak bisa di hubungi. Sekali lagi Bee melirik jam, pukul 11.45, lalu memutuskan untuk beranjak ke kamar dengan kegelisahan yang menyelimuti hatinya.